Materi Diagamakan

Saya sekedar ingin berusaha menulis. Padahal saya tidak tahu atas dasar apa saya menulis. Seumur hidup saya, saya merasa tak pernah bisa menerjemahkan tulisan yang saya baca dengan benar. Bahkan tulisan berbahasa Indonesia pun seringkali salah-salah saya dalam menafsirkan maksudnya. Entah dorongan dari mana saya menulis yang orang lain juga tidak wajib paham maksud dari yang saya tulis ini.

Dorongan saya menulis ini saya niati sebagai sebentuk keta’dziman saya kepada Mbah Nun. Sosok yang saya aku-aku sebagai guru saya, bahkan lebih dari sekedar sebutan guru, hanya saya tidak bisa mengungkapkannya. Sebutan guru sejati sekalipun, sepertinya belum mewakili sebutan yang tepat untuk Mbah Nun bagi saya.

Malu rasanya hati ini, mengaku-ngaku ta’dzim tetapi pada kenyataannya masih banyak sekali wejangan-wejangan beliau yang saya langgar. Namun, saya berusaha memberanikan diri saja mengaku-ngaku ta’dzim, agar saya selalu teringat dan merasa terikat untuk selalu berusaha melaksanakan wejangan-wejangan beliau.

Di antara wejangan beliau yang sungguh mengena saya dapati di Daur 72 yang berjudul Agamaterialisme. Selama ini saya berpikir banyak tentang perolehan materi. Karena materi adalah kewajiban dan tanggung jawab bagi seorang suami. Saya mempunyai kewajiban untuk mencukup materi demi menghidupi keluarga yang telah dititipkan Tuhan kepada saya.

Demi kewajiban tersebut, bahkan selama ini saya rela hingga pergi jauh melancong ke negeri seberang. Saya berusaha mendapatkan materi, hingga bekeliling dunia. Yang sedang saya renungi adalah, apakah untuk mendapatkan semua itu setimpal dengan pengorbanan saya, kehilangan waktu ruhani dan waktu bersama keluarga?

Toh, sebenarnya yang saya butuhkan hanya sekedar menghidupi keluarga. Tetapi bagaimana mungkin saya rela-rela saja kehilangan banyak waktu sebab hidup berjauhan dari mereka. Saya hanya bisa berikrar dalam hati, bahwa boleh jadi saya jauh dari keluarga tetapi saya mempunyai kalkulasi bahwa cita-cita saya bukan sekedar menghidupi keluarga kecil saya, tetapi juga akan membahagiakan seluruh keluarga besar saya. Dan di tengah pengorbanan saya atas waktu untuk keluarga, saya berdoa apa yang saya lakukan ini dapat bernilai hijrah.  Dan dari barokah hijrah, saya berdoa saya bisa menemukan jalan menuju puncak kesejatian yakni memperoleh ridho Ilahi. Ridho Ilahi yang akan menjadi keberkahan bagi kehidupan keluarga kecil dan keluarga besar saya.

Anggapan saya, boleh-boleh saja kita mengejar materi, asalkan materi itu diagamakan. Atau bahasa lainnya yang pernah Mbah Nun sampaikan adalah meruhanikan materi. Kalau semua yang kita kerjakan diniatkan untuk diruhanikan, maka semua yang kita lakukan akan bermaterikan agama.

Saya berusaha memegang piweling Mbah Nun di dalam Daur 72 tersebut:

Mereka balik dunia dijadikan akhirat, akhirat diduniakan. Rohani dijasmanikan, sambil bingung bagaimana merohanikan jasmani. Materialisme dituhankan, Tuhan dimaterikan.

Itulah yang oleh Markesot ditembangkan “bebendhu tan kasat mata, pepeteng kang malih rupa”. Agamaterialisme. Tampak seperti Agama, padahal materialisme. Tidak terasa materialisme, karena wajahnya Agama.

Selama ini saya berpikir banyak tentang perolehan materi. Karena materi adalah kewajiban dan tanggung jawab bagi seorang suami. Saya mempunyai kewajiban…