Kepada Yth. Cak Sot di Tempat

Alhamdulilah. Tidak ada kata yang lebih indah dan mesra diucapkan selain Alhamdulillah. Tahun ini benar-benar menjadi tahun keberkahan bagi saya. Bagaimana tidak, saya bersyukur dipertemukan dengan Simbah (CN), dapat ngangsu ilmu di Majelis Maiyah serta diperbolehkan ‘semedi’, sinau baca-tulis di Perpustakaan EAN di Gang Barokah.

Itu semua adalah hadiah, anugerah luar biasa, dan mahal harganya. Bahkan tak ternilai dengan apapun saja. Dan tambah berkah lagi, kemarin tanggal 28 Juni 2017 bertepatan dengan 4 Syawal 1438 H, atas hidayah Allah, doa-restu orangtua dan mertua, saya dan sang kekasih telah melangsungkan prosesi lamaran dan tukar cincin. Ajaibnya, perempuan yang mau saya lingkarkan cincin di jari manis kanan-nya itu bernama Barokah. Lengkapnya Barokah Nur Fitriani. Benar-benar Barokah Ya Allah.

Oleh Allah saya dituntun belajar tentang hidup dan cinta di Gang Barokah. Dan sekarang Allah mengirimkan “cinta” kepada saya bernama Barokah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang bisa hamba dustakan. TIDAK ADA! Ini semua adalah nikmat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saya teringat lagi bahwa ucapan atau kata-kata itu adalah doa. Jika dirunut ke belakang maka yang terjadi pada saya hari ini bukan suatu kebetulan. Dulu, ibu sempat berujar, entah sadar atau tidak sadar.

“Mugo-mugo sok anakku ono sing dadi guru, oleh bojo guru juga. Rasah sing adoh-adoh, sing cerak wae ben mbesane penak.”

Dan kata-kata ‘iseng’ ibu saya di atas terbukti. Diijabahi sama Allah. Terjadi dan sedang saya alami sekarang ini. Menjadi guru, dapat calon istri guru juga dan rumah-nya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Hanya berjarak 2,5 km saja. Ini rasanya seperti mimpi. Percaya nggak percaya. Tapi ini nyata dan terjadi dalam kehidupan saya. Hanya ungkapan Alhamdulillah yang bisa dan pantas untuk saya ucap dan dengung-dengungkan.

Ternyata bukan sekedar ucapan Ibu yang dikabul sama Allah. Selama bersinggungan dengan Maiyah, begitu banyak keajaiban yang juga saya rasakan. Baik yang berupa materi maupun non-materi. Pesan Mbah Nun yang selalu saya ingat dan camkan adalah;

“Jangan pernah sekalipun tidak melibatkan Allah dalam setiap keputusan hidup anda. Agar Allah nanti ikut cawe-cawe dan bertanggung jawab atas kehidupan anda.”

Wejangan dari Simbah tersebut coba saya pratekkan kapanpun dan di manapun. Entah perkara besar maupun sepele, Allah tetap primer. Yang pertama dan utama untuk disebut, diajak rembug sampai ketika memutuskan suatu perkara. Bahasa gaulnya; Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Hal-hal aneh, surprise, tak masuk akal kerap menghampiri gerak langkah hidup saya. Namun hal itu menjadi tidak aneh dan masuk akal jika memakai ilmu Maiyah, menggunakan ‘kacamata’ Allah. Baru mbatin saja, Allah langsung wujudkan seketika. Yang di-angen-angen kemudian ditulis, selang beberapa bulan terlaksana. Yang dielu-elukan bertahun-tahun akhirnya muncul dan njedul dengan sendirinya. Allah bisa dan sangat mudah untuk merealisasikan doa-doa hamba-Nya. Tapi jangan didikte, ojo ngatur karo Sing Gawe Urip. Biarkan Allah sendiri yang menentukan waktu yang tepat doa-doa itu terkabul.

***

Selain sinau langsung di Majelis Maiyah, saya pun belajar banyak membaca, menyelami dan meresapi ilmu-ilmu yang terdapat pada buku-buku karya Simbah. Ratusan bahkan ribuan tulisan (kolom, esai, puisi) dan buku Mbah Nun sejak zaman dulu hingga sekarang tertata rapi di rak-rak perpustakaan EAN. Siapapun saja boleh datang ke sana dan membacanya. Dan saya salah satu ‘pasien’-nya. Saya benar-benar merasa nyaman, krasan dan pomah ketika berada di Rumah Maiyah.

Di perpustakaan EAN saya merasa seperti berada di ruang museum sejarah. Di mana di dalamnya seolah menampilkan ‘diorama’ tentang perjuangan, pergerakan, perjalanan panjang, rekam jejak kepenulisan seorang Emha Ainun Nadjib. Gang Barokah telah menjadi rumah kedua bagi saya sekaligus kampus kuliah gratis tak berbayar. Tempat untuk nawu ilmu, pengetahuan, pengalaman dan cinta.

Di gang Barokah saya menemukan cinta dan sekarang saya dikirimkan Tuhan “cinta” yang lain bernama Barokah. Rasa syukur yang mendalam senantiasa saya haturkan kepada Allah Yang Maha Rahman. Sholawat dan salam penuh penghormatan tercurah kepada Nabi Agung Muhammad SAW. Dan tentunya terimakasih tak terhingga teruntuk gurunda Muhammad Ainun Nadjib.

Maaf, ada satu yang terlewat. Ucapan terimakasih juga mesti saya sampaikan kepada Cak Markesot. Sosok yang selalu hadir di tengah kerumunan masyarakat, tak peduli siang-malam, pagi-petang, panas maupun hujan. Seorang manusia aneh, nyeleneh, yang pemikiran-nya kerap melawan arah. Meski aneh tapi Cak Sot pandai bergaul. Dan itu yang membuat saya senang dekat-dekat dengannya. Saya banyak merenung ketika mendengar Cak Sot bertutur. Cak Sot bisa menjelma sebagai guru, ayah, ibu, teman nongkrong, ustadz, lawan debat dan mau peran apa saja Cak Sot bisa.

Cak Sot memang aneh. Orang-orang berduyun-duyun menuju barat. Cak Sot malah jalan sendiri ke timur. Teman seperjuangannya banyak yang memperoleh ‘jatah kursi’, tapi Cak Sot pilih menempuh ‘jalan sunyi’. Massa dan khalayak mendamba popularitas, pangkat, dan kekuasaan. Cak Sot menghindar dari hingar-bingar dan setia pada ke-Markesot-annya. Cak Sot memang aneh. Dan selama mengenal Cak Sot, saya pun ikut ketularan anehnya. Tidak lagi tergiur manis-legit dunia, tidak kenggoh pada harta benda. Tidak terbang karena pujian, juga tak tenggelam oleh cacian. Tidak, tidak lagi gumunan terhadap segala yang bersifat semu, klise, dan sementara.

Tidak penting bagi saya, apakah sosok Markesot itu fiktif atau fakta. Rekaan atau kasunyatan. Yang jelas, setiap kali MARKESOT BERTUTUR selalu saja mencipratkan kesegaran, kelembutan, cinta kasih, ilmu baru, cahaya, solusi, pengasihan, dan itu semua membuat jalan hidup menjadi lebih tenang, jembar, gembira, dan bercahaya.

Hanya saja ke manapun Markesot pergi, di manapun ia berada, orang-orang disekitarnya entah bagaimana menjadi bergembira, sehingga mereka sangat menyayangi Markesot. Sampai-sampai ada orang yang menikahkan anaknya pun minta Markesot untuk memberi ular-ular alias nasehat perkawinan.” – Daur 30 –Ilmu Peta Diri

***

Kepada Yth. Cak Sot 

Di tempat

Insya Allah di bulan Besar/Dzulhijah nanti (9-9-17) saya dan calon istri (Barokah Nur Fitriani) akan melangsungkan akad nikah dan resepsi. Bahagia rasanya, kalau Cak Sot sedia datang dan memberi ular-ular alias nasehat perkawinan buat kami berdua.

“Tentu saja sangat mudah bagi Markesot. Ia berpidato “Pokoknya pengantin berdua dan siapa saja para hadirin di sini, kalau mau selamat, enak dan bahagia: jangan ada yang menjalani hidup seperti saya”. – Daur 30 – Ilmu Peta Diri

Sungguh, kami tidak akan mungkin mau dan sanggup menjalani hidup seperti yang Cak Sot jalani. Karena itu berat dan melelahkan. Tapi percayalah, bahwa jalan hidup yang Cak Sot tempuh bersama anak-cucu selama ini akan mengantarkan pada kebahagiaan yang sejati, kekal, abadi.

Sragen, Syawal 1438 H

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image