Cyber War: Tantangan Maiyah Generasi Kedua

Internet menjadi kebutuhan primer bagi manusia yang hidup saat ini. Ketergantungan orang terhadap gawai (gadget) sudah pada tahap sangat membahayakan.

Tradisi copy-paste sana-sini, share sana-sini, pengutipan sepihak sepotong dua potong kalimat yang belum divalidasi menjadi peluru tajam yang dihunjamkan oleh pihak-pihak yang sepertinya memang tidak mengharapkan terwujudnya Persatuan di Indonesia ini.

Hari ini, orang dengan sangat lantang menyuarakan pendapatnya di dunia maya melalui media sosial, blog, forum online, milis, dan lain sebagainya. Ketika seseorang berada di depan komputer yang terhubung dengan internet, dengan mudah mereka mencari informasi yang terhampar luas, hanya dengan memasukkan beberapa kata kunci di mesin pencari, sekian deret informasi bisa ia dapatkan hanya dalam waktu hitungan detik saja.

Cepat? Sangat! Dan inilah yang memang menjadi keuntungan manusia yang hidup pada era ini. Informasi begitu sangat cepat tersebar luas, hanya dalam hitungan menit. Sebuah peristiwa yang terjadi di Jakarta dapat diketahui oleh orang yang berada di pelosok desa di wilayah timur Indonesia.

Semua itu karena kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat berkembang hari ini. Sayangnya, perkembangan teknologi informasi itu tidak diimbangi dengan pendidikan komunikasi yang baik. Entah sudah berapa juta gawai yang terjual dari pabriknya, entah sudah berapa besar kuota internet dihabiskan oleh masyarakat saat ini. Banyaknya informasi yang mereka akses tidak diimbangi dengan filter yang ketat dalam diri mereka. Belum sempat mereka lakukan validasi kebenarannya, hanya dengan kemudahan dua-tiga kali sentuhan jari, informasi yang belum tervalidasi kebenarannya, sudah disebarluaskan ke banyak orang.

Dalam sebuah forum, Cak Nun pernah menyatakan bahwa Internet adalah pornografi total. Dalam Daur 194 – Sistem Aurat bahkan secara eksplisit Cak Nun menuliskan:

Kalau dunia internet membuka apa saja, melempar apa saja, mengklaim apa saja, tanpa batas-batas kewajiban dan hak –itu namanya pornografi total. Dengan internet, ummat manusia bertelanjang bulat. Kebudayaan adalah sistem aurat, juga moral, bahkan pun peta rohani.

Hingga hari ini, mayoritas orang ketika berbicara tentang aurat dan pornografi hanya sebatas informasi yang berhubungan dengan wilayah tubuh manusia saja. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa semua yang ada dalam dirinya juga merupakan aurat.

Kiai Syukri, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor pernah menyampaikan bahwa manusia tidak bisa lepas dari tiga hal: aib, dosa, dan kesalahan. Tinggal bagaimana manusianya itu sendiri agar tidak terjebak dalam tiga hal tersebut.

Siapa menjamin bahwa selama 24 jam kita berada dalam garis tegak lurus dengan titik pusat gravitasinya Allah? Sehingga selama 24 jam kita berada pada jalan lurus, tidak melakukan kesalahan, tidak menyakiti orang lain, tidak menyinggung perasaan orang lain, tidak hasad, tidak iri, tidak dengki, tidak marah, tidak menggunjing dan sederet perbuatan buruk lainnya.

Yang bisa kita lakukan adalah terus menerus berproses agar kita tidak terus menerus terjerumus melakukan hal negatif itu. Sungguh manusia sangat beruntung karena Allah membatasi pendengaran dan penglihatan mereka.

Betapa sangat hancurnya peradaban apabila pendengaran dan penglihatan manusia tidak dibatasi. Kita bisa mendengar apa yang tersirat dalam hati orang lain, kita bisa melihat apa yang terjadi di belakang tembok kantor atasan tempat kita bekerja. Dan sudah pasti kita tidak akan siap jika batas pendengaran dan penglihatan kita saat ini dibatalkan oleh Allah.

Internet menjadi salah satu andalan Generasi Millenial. Generasi yang lahir pada era 80-90an, generasi yang hari ini memiliki kesadaran kesalehan yang cukup tinggi, generasi yang memiliki kesadaran akan kebutuhan menjaga kesehatan tubuhnya sendiri. Tetapi, Generasi Millenial ini juga merupakan generasi yang sangat rentan  terninabobokkan oleh kemudahan akses informasi internet hari ini. Semakin mudahnya informasi yang ia dapatkan, semakin mudah kemudian ia mengklaim bahwa informasi yang ia dapatkan itu adalah kebenaran yang juga harus disepakati oleh orang lain.

Generasi kedua Maiyah saat ini menghadapi tantangan sangat serius di wilayah cyber ini. Pada Kenduri Cinta edisi “Tahun-tahun Duka, Tahun-tahun Buta”, Cak Nun menjelaskan bahwa beliau sangat rentan menghadapi pemelintiran kutipan-kutipan dari apa yang beliau sampaikan di Maiyahan. Tidak mungkin orang mampu merasakan nuansa yang sama ketika ia membaca sebuah kalimat atau kutipan pernyataan Cak Nun dalam sebuah Maiyahan yang diviralkan oleh orang di media sosial dengan orang yang secara langsung ikut melingkar bersama dalam sebuah Maiyahan. Bahkan orang yang menonton video rekaman atau mendengarkan radio streaming Maiyahan pun belum tentu merasakan nuansa yang sama dengan orang yang secara langsung mengikuti Maiyahan. Bahkan pun, orang yang melingkar bersama dalam satu forum Maiyahan sangat mungkin juga merasakan nuansa yang berbeda satu sama lain dalam memahami pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Cak Nun.

Maiyah hari ini menjalani periode dekade ketiga jika kita menghitung awal lahirnya Maiyah adalah Padhangmbulan, Jombang. Secara offline, Maiyah sudah berkali-kali mengalami puncak keramaian massa, sempat surut kemudian kembali ramai dihadiri oleh banyak orang dalam satu forum. Hari ini, ribuan orang selalu menghadiri forum Maiyahan, baik itu yang terselenggara secara rutin di induk-induk Maiyahan, tiap-tiap simpul Maiyah, maupun yang terselenggara dalam tajuk Tadabburan atau Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Generasi kedua Maiyah adalah anak-anak muda yang hari ini menjadi peramu di balik layar Maiyah. Anak-anak muda ini adalah Generasi yang penuh potensi dan talenta. Anak-anak muda ini adalah Generasi Millenial di Maiyah yang sangat mungkin menjadi satu pasukan khusus di Maiyah untuk menjadi salah satu garda terdepan Maiyah. Anak-anak muda Maiyah harus mampu mengidentifikasi dirinya, layaknya sebuah Pasukan Militer, ada yang bertugas dalam Pasukan Infantri, ada yang menjadi bagian dari Pasukan Kavaleri, ada juga yang bertugas dalam barisan Pasukan Kavaleri.

Kesadaran Literasi di Maiyah harus terus ditumbuhkan dan dijaga keberlangsungannya. Ketika ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memotong kalimat-kalimat yang tersebar viral dari Maiyah, maka anak-anak muda Maiyah yang memiliki concern dalam dunia literasi inilah yang menjadi pasukan utama untuk meluruskan informasi-informasi yang tersebar liar.

Kita semua hari ini menyadari bahwa bagi media massa, bad news is a good news. Kita tidak bisa terus-menerus menuntut media massa mainstream untuk memberitakan informasi yang baik dan benar. Yang seharusnya kita lakukan hari ini adalah memproduksi informasi sebanyak mungkin di tengah suplai informasi dari produsen informasi yang hampir setiap hari kita mengutuknya.

Generasi kedua Maiyah harus segera mengambil tanggung jawab ini. Dengan semakin merapatkan barisan, saling bertukar informasi dan pengetahuan satu sama lain, semakin sering berlatih menulis untuk menghidupkan budaya literasi, maka dalam waktu yang tidak lama lagi, Maiyah akan semakin kuat dan informasi yang diproduksi oleh anak-anak muda Maiyah akan menjadi satu bahan referensi bagi masyarakat di Indonesia.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image