Bukan Kampung Halaman Sejati

Saya baru sadar bahwa di dunia ini tidak sedikit yang senasib dengan saya. Dan saya baru sadar bahwa saya senasib dengan mereka yang di antaranya Tonjé, Kasdu, Junit, Toling, Jitul, dan semacamnya. Walaupun jumlah kami tidak sebanyak masyarakat mainstream, alhamdulillah saya sangat bersyukur kepada Tuhan dipertemukan dan diperbolehkan melingkar dalam Maiyah.

Saya tidak bermaksud membedakan diri saya dengan teman-teman, tetangga, dan saudara-saudara saya. Namun saya merasa kewalahan jika harus mengikuti pandangan hidup, cara berpikir dan cara hidup mereka yang mainstream.

Dulu sewaktu saya kecil, saya pernah ditakut-takuti dengan kalimat, “Nanti kalau sekolahmu nggak pinter kamu nggak bisa punya mobil, makan di restoran mewah”, dan kalimat semacamnya.

Tidak hanya oleh keluarga, tapi di sekolah dan di lingkungan rumah pun sama. Tentu saya tidak menyalahkan apa yang telah diajarkan oleh kedua orang tua saya dan guru-guru saya di sekolah, juga bukan saya mengganggap sekolah tidak penting. Yang saya maksud adalah tujuan dan arti kesuksesan hidup. Sebagai manusia yang hidup semakin dewasa dan semakin tua, saya wajib memilih. Dan saya merasa tidak kompatibel dengan apa yang menjadi prioritas hidup orang-orang. Atau minimal saya tidak percaya diri dan tidak punya kemampuan untuk mengejar apa-apa yang dikejar kebanyakan orang.

Kalau saya iseng mencoba mendiskusikan pandangan hidup dan pemikiran semacam ini, tidak jarang diremehkan, dianggap tidak realistis, ditertawakan, atau bahkan dianggap melenceng.

Paling tidak, saya harus siap menghadapi lemparan pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mau jadi apa kamu nanti?”, “Kalau nanti sakit dan ke dokter, pasti butuh biaya kan?”

Pertanyaan semacam ini memang kadang mengundang rasa putus asa. Padahal kalau dipikir-pikir, dalam kehidupan di dunia ini tidak ada yang pasti selain kematian. Bahkan andaikan punya uang banyak untuk bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang terbaik, apakah pasti tidak akan sakit? Apakah bisa dipastikan bahwa dengan banyaknya uang, cukup untuk menjamin kesehatan? Apakah jika dengan memiliki uang banyak ada jaminan tidak akan terkena penyakit yang akan butuh lebih banyak uang lagi dari kekayaan yang dimiliki?

“Padahal untuk apa nasib direnungi? Apa yang perlu direnungi dari nasib?

Tuhan bekerja menjalankan takdir-Nya, memproduksi nasib manusia dan apa saja ciptaan-Nya. Takdir atas angin, menghasilkan nasib angin. Pun nasib ayam, sehelai bulu, setetes embun, segundukan kecil gunung, hamparan ruang yang menggendong masyarakat galaksi, apa saja.

Yang perlu direnungi adalah perkembangan kerja kerasmu, ketekunan atau kemalasanmu, ketangguhan atau kerapuhan mentalmu, ketenangan atau kegalauan hatimu, pengolahan kecerdasan atau pembodohan akal pikiranmu.” – Daur 51: Apa Yang Perlu Direnungi Dari Nasib?

Itu baru urusan kebutuhan, seakan-akan materi bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. Orang semakin hari semakin tidak percaya bahwa Tuhan menjalankan takdir-Nya, memproduksi nasib manusia dan semua ciptaan-Nya.

Saya juga pernah ditanya, “Yang namanya orang hidup pasti kan ingin ini, ingin itu, punya motor, mobil. Apa kamu tidak ingin?”

Saya semakin merasa yakin bahwa di zaman ini, gengsi lebih menjadi prioritas dibanding kebutuhan. Bahkan pada tingkat yang lebih parah lagi, seseorang akan merasa hina jika tidak bisa memenuhi gengsi.

“Sebab hidup di dunia tidak ada kaitannya dengan pencapaian dunia. Yang berkarier memuncak dengan jabatan, pangkat, kemasyhuran dan harta benda, tidak perlu bodoh untuk menganggap yang lain yang tidak mencapai itu semua berada di bawahnya, di belakangnya atau di tempat lain yang marginal.” – Daur 51Apa Yang Perlu Direnungi Dari Nasib?

Walaupun saya, Tonjé, Kasdu dan yang lain sepertinya terlihat mantap dan aman-aman saja menjalani hidup dengan pandangan dan pemikiran seperti itu, tetap saja ada saat-saat di mana kami merasa tidak yakin, ketakutan, gelisah, dan putus asa.

Saya merasa, semakin lama saya berguru, bergaul, ndungsel-ndungsel dan campur dengan Mbah Markesot, semakin membawa saya pada kesadaran bahwa saya sedang hidup di peradaban yang manusia-manusianya sakit parah. Dan itu membuat saya kaget, cemas dan takut. Karena saya menyadari saya rentan dan bisa tertular jika tidak meluruskan pandangan saya, menguatkan kuda-kuda, dan meneguhkan hati. Bahwa dunia ini bukan tujuan, bukan kampung halaman, dan tidak perlu mati-matian meraih kejayaan. Bahwa hidup harus digunakan untuk benar-benar mencari bekal, untuk pulang ke kampung halaman yang sejati.

“Pergaulan dengan Markesot membuat pandangan hidup mereka jadi kacau. Kehidupan di dunia ini menjadi tampak berbeda. Sangat berbeda. Dunia ternyata bukan kampung halaman. Bukan rumah. Bukan tempat di mana manusia membangun kemapanan dan kejayaan. Dunia ini hanya area kerja bikin batu-bata, untuk bangunan rumah mereka kelak di kampung halaman yang sejati.

Ada saat di mana pandangan itu membuat hidup mereka menjadi tegar, tangguh dan tenang. Tapi di saat lain muncul situasi di mana mereka seperti ditimpa kesedihan dan rasa putus asa.” – Daur 52: Peradaban Bayi-Bayi

“Silahkan memilih apa saja yang membuatmu bergerak mendekat ke Allah dan membuat Allah mendekat kepadamu. Tidak peduli kegembiraan atau kesengsaraan, asalkan membuat Tuhan dan engkau berdekatan. Tidak peduli uang sedikit atau banyak, rumah besar atau kecil, mobil atau sepeda, hafal Qur`an atau tidak, jadi presiden atau kuli pasar, hidup mapan atau gelandangan, apapun saja, asalkan engkau olah menjadi alat untuk mendekatkan jarak antara Tuhan denganmu.” – Daur 51Apa Yang Perlu Direnungi Dari Nasib

Yang harus dilakukan adalah terus menerus mencari keridhoan Allah atas hidup kita. Membuat kita bergerak mendekat kepada Allah dan membuat Allah mendekat kepada kita. Tentu saja karena cinta kepada Allah dan Rasulullah yang mampu membuat saya, Tonjé, Kasdu dan teman-teman kami bertahan.

Duren Sawit, 18 Januari 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image