Bersyukur Atas Kegagalan Maupun Keberhasilan

Pengalaman seseorang dalam bekerja itu memang bermacam-macam. Ada yang berprofesi sebagai pegawai, pengusaha, pedagang, petani dan lain sebagainya. Dulu saya pernah menjadi karyawan toko dan jasa audio mobil selama bertahun-tahun di kota Surabaya. Belajar mulai dari nol, tidak tahu sama sekali tentang audio mobil karena sebelumnya bekerja di bengkel motor dan produksi thinner atau cat untuk mebel.

Memang ada suka dan dukanya. Sukanya menikmati hasil jerih payah kita saat bekerja, dengan mensyukuri apa yang sudah berikan oleh Allah kepada kita berupa rejeki. Dukanya itu ketika kerjaan pas banyak, tidak selesai-selesai, masih kena marah sama pemilik usaha tersebut. Sudah susah payah, berusaha semaksimal mungkin masih kena marah, apalagi saat bekerja tidak pernah ada yang mengajari, bagaimana cara bekerjanya atau cara memulai pekerjaan kita sebagai apa tidak jelas. Kejadian seperti itu sudah sering saya alami di manapun saat saya bekerja ikut orang.

Kalau kerja di pabrik jelas ada kepala bagian yang mengarahkan atau mengintruksi. Ada bagian-bagiannya sendiri, ada shift siang, ada shift malam dan ada jam lemburnya. Yang saya alami itu kadang tidak jelas. Ketika saya kerja lembur, pas waktunya mendapat gaji belum tentu dapat upah tambahan lembur. Ibarat kerja sampai malam upahnya kadang berupa makanan dan minuman saja dan itupun saya selalu mensyukurinya.

Kadang saya juga menyadari, saya ini termasuk orang yang gagal atau sukses, di situ saya sendiri tidak pernah bisa merasakan, yang rasanya sukses itu bagaimana dan yang gagal itu yang bagaimana. Saya sendiri tidak pernah tahu, di saat bekerja mendapat rezeki banyak ataupun sedikit memang selalu saya syukuri. Dapat upah lembur tambahan atau tidak dapat juga tetap bersyukur.

Kejadian yang membuat saya sampai sekarang masih belum bisa saya terima itu ketika mendaftarkan diri melalui TNI. Sudah sampai enam kali mendaftarkan diri masih belum diterima. Padahal sudah sempat sampai panthukir pusat, tinggal selangkah lagi ikut pendidikan. Betapa benar-benar menjadi manusia gagal pada delapan tahun yang lalu. Sudah dapat surat keterangan saya dinyatakan gagal tidak lolos masuk pendidikan, masih di pulangkan dengan kendaraan truk TNI.

Saat peristiwa itu saya masih sempat memberikan uang kepada teman saya yang juga tidak lolos masuk pendidikan, karena dia rumahnya luar pulau. Dia  bilang ke saya kalau uang sakunya buat perjalanan kembali ke kampung halamannya pasti tidak cukup. Akhirnya saya beritahu teman-teman saya yang juga gagal tadi untuk mengumpulkan sebagian uang mereka yang masih tersisa dan menyisakan uang sakunya untuk perjalanan pulang ke rumah masing-masing.

Akhirnya mereka semua dengan rendah hatinya mau memberikan sebagian uang mereka untuk teman-teman saya yang rumahnya sebagian di luar pulau. Setelah saya bilangin pelan-pelan, kemudia kita kumpulkan uang kita untuk diberikan kepada mereka yang rumahnya jauh dari kita, karena kita rumahnya masih di jawa. Asalkan uang disisakan untuk perjalanan pulang juga. Padahal ketika itu saya sudah merasa tidak semangat apa-apa, namun masih sempat memperhatikan teman-teman saya yang kesusahan. Padahal saya juga lagi susah karena tidak lolos masuk pendidikan.

Sampai sekarang saya memang tidak pernah bisa mengalami yang namanya sukses dan gagal itu yang bagaimana. Apalagi di saat kerja keadaannya lagi sepi pelanggan ataupun customer, rasa kegagalan ini pasti tumbuh. Kalau orang jualan sembako atau makanan kemungkinan besar tiap hari laku. Kalau yang saya jual ini alat-alat elektronik mobil, belum tentu laku setiap hari. Yang saya jual belum tentu dikatakan orang sebagai kebutuhan primer.  Bisa saja orang menyebutnya kebutuhan sekunder atau malah kebutuhan tersier.

Di dalam mendirikan usaha sebetulnya memang harus memikirkan tentang semua itu. Apalagi saya ini bekerja tidak pernah ada yang mengajari. Bahkan sampai sekarang bisa usaha sendiripun saya juga tidak ada yang mengajari bekerja. Saya hanya otodidak, ketika orang bekerja saya hanya menontonnya. Saya pelajari bagaimana orang-orang itu bekerja yang benar dan bagaimana orang-orang bekerja yang salah. Semua harus diperhitungkan, karena ini menyangkut kelistrikan di dalam mobil. Ada kesalahan sedikit saja pasti bisa fatal. Saya bisa jadi merasa sebagai orang tergagal lagi karena menyebabkan mobil orang terbakar karena saya. Saya bekerja hanya mengharapkan bimbingan dari Allah saja sebenarnya sampai saat ini.

Memang orang dagang itu yang diutamakan pelayanan dulu. Kalau pelayanan kita baik, ramah-tamah dan orang merasa puas atas pelayanan kita, masalah upah itu akibat dari perilaku atas pelayanan kita yang sudah baik terhadap siapapun pelanggan kita. Otomatis barang yang mereka pilih atau beli tidak akan banyak tawar-menawar. Mereka sudah mantap dengan pilihan kita. Mereka sudah percaya sama kita, karena sudah menjamin kalau barang yang kita pilih, pasti kita lebih tahu spesifikasinya daripada mereka yang membeli. Masalah kualitas barang elektronik itu tergantung pemakaian orangnya dan kita juga tidak menjamin seratus persen bagus.

Kadang di saat yang tidak saya sangka teringat di Daur tulisan Mbah Nun,

Mbah Sot dulu tak pernah berhenti, bahkan kadang sangat membosankan untuk mengingatkan kami semua bahwa yang namanya berhasil, sukses, aman dan selamat — semua itu pedomannya bukan bagaimana kemauan kita, melainkan keharibaan Allah sebagai acuan utamanya”, Pakde Tarmihim menjawab, “Sukses di depan Allah, berhasil menurut Allah, aman bagi Allah dan selamat dalam pandangan ridla Allah. Kita makhluk-makhluk ini tidak tahu apa-apa secara sungguh-sungguh. Kita ini tidak mengerti arah, kecuali Allah menunjukkannya… apalagi?”

“Kita ini kegelapan kecuali Allah mencahayainya”, Toling menyambung.

“Kita ini beku kecuali Allah menggerakkannya”, Jitul juga.

“Kita ini celaka kecuali Allah menyelamatkannya”, Seger menyusul.

“Kita ini tidak ada kecuali Allah mengadakannya”, Junit berikutnya. Daur II-177 – Kecuali Aku Memberimu Makan.

Teringat tulisan-tulisan beliau saya seakan-akan selalu semangat menjalani pekerjaan saya di bidang audio mobil. Kalau niat kita ikhlas bekerja di manapun, sudah pasti rezeki akan mengalir dengan sendiri, yang terpenting kita sibuk mencari ridlo Allah Yang Maha Memberi dulu. Atas jerih susah payah ikhlas kepada Allah, InsyaAllah pekerjaan kita selalu diberkahi oleh Allah

Di Daur tadi masih dilanjutkan tulisannya:

Pakde Sundusin merespon bahwa dulu Mbah Markesot sangat menyukai dan merasakan kenikmatan tiada tara setiap kali mengingat Hadits Qudsi [1] (HR Muslim): “…Wahai hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu lapar kecuali Aku beri makan: mintalah makan kepada-Ku, maka Aku memberi makan kepadamu”.

“Wahai hamba-Ku, masing-masing dari kamu itu telanjang, kecuali Aku beri pakaian: mintalah pakaian kepada-Ku maka Aku memberi pakaian”.

“Wahai hamba-Ku, sesung­guhnya kamu bersalah siang dan malam, sedang Aku mengampuni seluruh dosa: mintalah ampun kepada-Ku, maka Aku mengampunimu.”

“Wahai hamba-Ku, sesung­guhnya kamu tidak akan terhindar dari kemadharatan-Ku, maka berlindunglah dari kemadharatan-Ku dan kamu tidak akan memperoleh kemanfaatan-Ku: maka mohonlah kemanfaatan kepada-Ku…”

“Itulah sebabnya Mbah Sot kalian itu tidak sukses di mata dunia”. Daur II-177 – Kecuali Aku Memberimu Makan

Dengan segala puji syukur saya selalu bersyukur kepada Allah, karena sudah dikenalkan Maiyah. Apalagi mengingat tulisan Daur beberapa paragraf di atas, sudah sangat jelas apa yang kita minta agar selalu mengigat kepada Allah. Tidak ada rezeki yang memberi kalau tidak karena doa kita kepada Allah. Banyak sekali manfaatnya untuk saya. Tidak sedikit apa yang Mbah Nun tuturkan selalu saya ingat dan saya terapkan sehari-hari di dalam saya bekerja ataupun di keluarga dan teman-teman. Saya tidak pernah terlalu berharap kepada Mbah Nun, karena beliau hanya perantara Allah yang selalu dihadirkan untuk anak dan cucunya.