Bersih Deso Reresik Ati

Bahkan kebersamaan Sinau Bareng Malam ini bukan tidak mungkin sudah merupakan wujud Bersih Deso Reresik Ati itu sendiri.
“Kudu dijogo karakter asli dan apa-apa yang baik yang ada di Sarangan. Ojo kemutho-mutho.”
“Kudu dijogo karakter asli dan apa-apa yang baik yang ada di Sarangan. Ojo kemutho-mutho.” (Foto: Adin)

Memasuki pukul 22.45 WIB, terlihat dari panggung kabut mulai turun. Memang Sarangan ini merupakan wilayah yang berada di lereng gunung Lawu. Dengan ketinggian kurang lebih 1200-an dpl suhu pun sangat dingin setiap harinya.

Anugerah geografis yang diterima masyarakat Sarangan karenanya adalah keadaan alam yang indah. Lokasi acara ini hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer dari Telaga Sarangan, salah objek wisata yang berada di wilayah kabupaten Magetan. Itulah sebabnya, salah satu mata pencaharian masyarakat di sini berkisar pada jasa untuk wisatawan. Penginapan, penyewaan speed boat dan kuda, pedagang souvenir, dan warung-warung makan adalah beberapa bentuk kegiatan ekonomi ini, tentu dengan pendapatan yang bisa dikatakan cukup besar dan rutin.

Jika digabungkan dengan kondisi atau karakter kultural yang telah disebutkan sebelumnnya maka semua itu menghasilkan gambaran Sarangan yang unik, tak terkecuali kemungkinan tantangan-tantangan sosial budaya yang dihadapinya.

Bersih Deso Reresik Ati yang merupakan tema Sinau Bareng ini sesungguhnya selain dimaksudkan untuk agenda rutin, tetapi juga kesadaran bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki atau dicarikan solusi. Itulah sebabnya Mbah Nun dan KiaiKanjeng dihadirkan untuk menemani masyarakat dan para sesepuh beserta pemuka masyarakat untuk menemukan sejumlah wawasan dan panduan yang dibutuhkan.

Untuk keperluan itu, Mbah Nun sendiri sudah meminta para pejabat dan tokoh masyarakat yang hadir untuk ikut menyampaikan bimbingan bagi masyarakat. Sementara setelah itu, Mbah Nun secara tersebar di antara komunikasi dengan narasumber dan jamaah serta di antara lagu-lagu KiaiKanjeng telah menyampaikan banyak kunci-kunci sederhana memahami kehidupan sosial, jati diri warga sebagai orang Jawa, konsep masyarakat ideal yaitu Deso Mowo Coro Negoro Mowo Toto, etos mencari baiknya orang, memilih alasan yang sebaik mungkin dalam setiap laku ibadah, mengenali struktur dan arah gerak hawa nafsu, dan lain-lain.

Salah satu yang disampaikan Mbah Nun kepada warga Sarangan ini adalah masyarakat Sarangan punya bahan untuk dekat dengan Allah dan punya bahan untuk menjadi penghuni surga. “Kudu dijogo karakter asli dan yang baik yang ada di Sarangan. Ojo kemutho-mutho,” pesan Mbah Nun.

Walhasil, apa-apa yang telah disumbangkan Mbah Nun tadi sangat sesuai dengan tujuan yang terkandung dalam tema malam ini Bersih Deso Reresik Ati. Bahan-bahan itu cukup untuk keperluan itu. Bahkan kebersamaan Sinau Bareng Malam ini bukan tidak mungkin sudah merupakan wujud Bersih Deso Reresik Ati itu sendiri.

Kabut malam yang lembut berarak turun mendekat ke kepala-kepala jamaah dan hadirin sebelumnya sempat didahului hujan gerimis beberapa saat, tetapi kemudian berhenti lagi. Hawa dingin malam makin terasa terutama bagi orang yang bukan asli sini. Kru KiaiKanjeng hampir semuanya mengenakan jaket dan tutup kepala. Pak Bobiet, Mas Yoyok, Doni adalah tiga dari personel KiaiKanjeng yang juga berjaket. Mbah Nun sendiri malah tidak mengenakan jaket apapun.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image