Suasana Sinau Bareng Harlah NU di Magetan

Melihat perhatian hadirin pada uraian ilmu Mbah Nun, kadang tergelitik juga buat menyimpulkan Mbah Nun ini seorang ulama.
Suasana malam ini. Masyarakat Nahdliyin menyimak full perhatian paparan Mbah Nun. Semua rapi di setiap penjuru stadion. Tak ada yang mondar-mandir mencuri perhatian. Magetan menyerap ilmu Mbah Nun.
Suasana malam ini. Masyarakat Nahdliyin menyimak full perhatian paparan Mbah Nun. Semua rapi di setiap penjuru stadion. Tak ada yang mondar-mandir mencuri perhatian. Magetan menyerap ilmu Mbah Nun (Foto: Adin).

Memasuki komplek stadion rombongan Mbah Nun disuguhi pemandangan khas rakyat. Pelapak-pelapak yang menjajakan macam-macam: peci tasbih dll, buah salak untuk mengusir tikur, mainan anak, makanan minuman dari sate ayam hingga nasi pecel, dan masih banyak lagi. Tak hanya di luar stadion tetapi juga sebagian di dalam.

Hadirin tak hanya yang berada di depan panggung dan memenuhi rerumputan, tapi juga ada yang mengambil tempat di balkon. Pemandangan khas Nahdliyin tampak di depan mata. Banser, Anshor, para kiai, masyarakat yang mengenakan sarung dan peci. Pun ibu-ibu maupun adik-adik putri berjilbab dan mengenakan meksi. Bermacam situasi dan ekspresi pada berbagai titik di mana sejumlah hadirin atau jamaah mengikuti acara ini.

Tetapi bila ditebar ke segenap penjuru stadion, atmosfer utama yang terasa adalah penyimakan mereka penuh perhatian dan konsentrasi pada apa-apa yang disampaikan Mbah Nun. Tak ada berisik, tak ada mondar-mandir orang mencuri perhatian.

Memang sejak awal, dalam komunikasi yang terbangun atas keluasan jiwa Beliau serta kedekatan dengan mereka, Mbah Nun perlahan tapi pasti telah menyampaikan wawasan cukup banyak. Dari pemahaman ahsani taqwim, rodhiyatan mardhiyah, cerita tentang Badui Ya Karim Ya Karim, hakikat cinta yang tak banyak dipahami sebagai sikap hidup oleh banyak orang, dan lain-lain termasuk Mbah Nun merespons sambutan Ketua PCNU Magetan dengan mempkenalkan tafsir baru mengenai fis silmi kaffah.

Melihat perhatian hadirin pada uraian ilmu Mbah Nun, kadang tergelitik juga buat menyimpulkan Mbah Nun ini seorang ulama. Bukan sekadar budayawan sebagaimana sering disebut. Tapi kan tidak tamat pendidikan pesantren. Mungkin juga tidak akrab dengan kitab kuning. Ah, barangkali ini lamunan yang tak perlu. Sampai akhirnya: Lha kok, Pak Bupati tadi dalam awal sambutannya membuka dengan “Yang kami hormati ulama besar kita Cak Nun….” Lho! Pak Bupati ini menggoda saja.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image