Kontribusi Berpikir Substansial Mbah Nun

Tak ada yang kotor. Yang ada adalah tidak berada pada tempat dan proporsi yang tepat. Ada ruang dan waktunya. Itulah Islam.
Malam ini masyarakat Nahdliyin diajak menyelami cara-cara berpikir substansial dan esensial tentang berbagai hal.
Malam ini masyarakat Nahdliyin diajak menyelami cara-cara berpikir substansial dan esensial tentang berbagai hal (Foto: Adin).

Eling thok saja itu juga sudah satu bentuk shalawat. Tidak mengumpat saja, juga sudah satu bentuk shalawat,” Mbah Nun mengajak jamaah Nahdliyin melengkapi sisi-sisi substansial shalawa dan shalawatan.

“Tak ada yang kotor. Yang ada adalah tidak berada pada tempat dan proporsi yang tepat. Ada ruang dan waktunya. Itulah Islam”.

“Saya tak mau ikut melihat masyarakat atau orang dengan kategorisasi radikal, liberal, moderat, fundamentalis dan lain-lain, karena semua unsur itu adalah bagian-bagian di dalam diri manusia. Manusia bukan bagian-bagian itu, melainkan mengandung semua unsur itu”.

“Semua yang berlangsung itu bisa dilihat sebagai sebab-akibat. Guyub adalah akibat. Radikalisme yang disebut dan ditudingkan orang itu juga akibat. Orang marah karena disebabi oleh ketidakadilan. Maka, jangan hanya melihat akibat-akibat, tapi lihat juga sebab-sebabnya”.

“Mari kita kurangi kebiasaan melihat hidup sebagai multiple choice. Itu mengakibatkan kita kalau melihat misalnya Ahok salah, maka Anies pasti benar. Atau sebaliknya. Hidup tidak seperti itu. Bahkan yang materialistik pun tak bisa diperlakukan dengan multiple choice”.

“NU itu seperti dapur untuk masak sesuatu yang menyegarkan orang. Begitulah kehidupan. Bahkan jika perlu agama sebagai identitas kita orang tak tahu, tetapi yang kita berikan adalah output sosial yang baik”.

Silmi itu pokoknya tiap hari Anda melakukan apa yang Anda bisa. Bisanya apa, itu sudah cukup. Akumulasi dari semua itu nanti Allah memakainya buat menyelamatkan Indonesia. Dan Magetan malam ini memberi teladan Silmi”.

Itulah di antara beberap poin yang Mbah Nun sampaikan, tentu dengan berbagai konteks untuk memahaminya. Masih banyak muatan-muatan lain. Dan sampai saat ini, masih berlangsung respons-respons atas beberapa pertanyaan. Termasuk lima pertanyaan Mbah Nun sebagai bahan perenungan dan bercermin bagi warga Nahdliyin Magetan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image