Pesan Cak Nun Buat UGM

Tugas UGM adalah memandu anak-anak muda, para mahasiswa, untuk mampu bersikap seimbang di antara kebenaran bersama dan kebenaran sejati.
Tugas UGM adalah memandu anak-anak muda, para mahasiswa, untuk mampu bersikap seimbang di antara kebenaran bersama dan kebenaran sejati (Foto: Jamal).

Pada pagi hari ini, Senin 22 Mei 2017, Cak Nun memenuhi undangan Universitas Gadjah Mada yang tengah menggelar acara cukup penting bagi dunia akademik dalam kaitannya dengan situasi nasional yaitu “Sarasehan Peneguhan Universitas Gadjah Mada sebagai Universitas Pancasila”. Acara diselenggarakan di Balai Senat UGM di Gedung Pusat UGM. Bersama Cak Nun, sebagai pemapar pada segmen pertama adalah KH D. Zawawi Imron dan Pudjo Semedi (Dosen Antropologi FIB UGM).

Sarasehan dibuka langsung oleh Rektor UGM Ibu Prof. Dwikorita Karnawati. Latar belakang di balik sarasehan ini adalah kegelisahan UGM akan situasi kebangsaan saat ini yang diwarnai pertentangan-pertentangan yang mulai menyentuh sendi-sendi kebangsaan, seperti mempertentangkan Pancasila dengan agama serta reproduksi politik identitas demi kepentingan-kepentingan politik kekuasaan. Dalam wajah politik demikian itu, UGM merasa perlu mengajak semua elemen masyarakat untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai basis nilai kebangsaan Indonesia.

Bagi Cak Nun, yang oleh moderator disebut sebagai pujangga bersama KH D. Zawawi Imron, polarisasi-polarisasi yang terjadi saat ini sebenarnya sudah tidak ilmiah lagi. Sedemikian rupa sehingga Bhinneka Tungggal Ika pun diklaim sebagai nama kelompok. Situasi seperti itu tak bisa diatasi atau diminimalkan kecuali dengan manajemen kebenaran yang dewasa.  Pasalnya, setiap orang atau kelompok mempersombongkan dan mengedepankan kebenaran sendiri-sendiri yang pasti akan menyebabkan perbenturan. Akibatnya, apa saja, pandangan, gagasan, dan identitas terasa sebagai ancaman.

Dalam konteks manajemen kebenaran itu sendiri, sebenarnya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, Syariat Islam, Khilafah, atau gagasan lain adalah gugus-gugus kebenaran yang juga perlu diletakkan pada tempat yang tepat. Walaupun Pancasila merupakan ideologi nasional, tetapi dalam diri pribadi dan dalam konteks pergaulan antar sesama manusia, kebenaran mengenai Pancasila pun, dalam situasi yang sudah telanjur penuh pertentangan ini, juga tidak boleh di-duduh-duduhke secara tidak proporsional atau diklaim-klaimkan apalagi sampai dijadikan, dalam bahasa Cak Nun, “papan nama” bagi kelompok. Yang harus keluar dari setiap orang yang memiliki kebenaran adalah output sosial yang baik, kasih sayang kepada sesama, toleransi, harmoni, dan keluasan jiwa. Manajemen seperti itulah yang memberikan pondasi yang tepat ketika seseorang hadir di depan orang lain.

Selain memberikan beberapa contoh butir pemikiran kenegaraan yang sering disampaikan di Maiyahan, Cak Nun menegaskan cara berpikir yang mungkin bisa diambil. Misalnya lewat pertanyaan “Apakah ada masalah dengan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, atau lainnya?”. Bagi Cak Nun, jawaban atas pertanyaan itu adalah “tidak”. Tidak ada masalah dengan Pancasila. Yang masalah adalah “orangnya”. Di situ, siapapun dapat mempelajari masalah pada manusianya itu lewat bersih tidak hatinya, bersih tidak intelektualnya, atau bersih tidak roso-nya. Istilah bersih hati ini disitir dari Kiai Zawawi yang berpandangan bahwa anugerah alam Indonesia yang indah ini hanya bisa diamanatkan kepada orang-orang yang hatinya bersih dan indah pula. Ketidakbersihan pada aspek-aspek manusianya itulah yang selama ini menghasilkan ketidaktepatan sikap atau penempatan.

Itu sebabnya, Cak Nun berpesan dalam sarasehan ini agar UGM mau memandu anak-anak muda, para mahasiswa, untuk mampu seimbang bersikap di antara kebenaran bersama dengan kebenaran sejati, sesudah tentunya anak-anak muda itu juga belajar mengelola kebenaran pribadi. Selebihnya, Cak Nun mendukung UGM meneruskan (peneguhan dan eksplorasi) kebenaran mengenai Pancasila sebagai ideologi nasional seperti terepresentasi melalui agenda acara peneguhan UGM sebagai Universitas Pancasila ini. Seluruh hadirin, terutama Rektor dan jajarannya, para dosen dan mahasiswa, sekurang-kurangnya telah menyimak sumbangan penting Mbah Nun yaitu ilmu manajemen kebenaran, selain juga pemaparan tentang Pancasila sebagai satu sistem tata manajemen peradaban atau tata teknokrasi sosial.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image