Bebrayan Maiyah dan Jemparing Masa Depan

Maiyah memegang teguh suatu prinsip bebrayan horisontal, suatu pilihan watak dan akhlak untuk tidak “usil” kepada siapapun saja, sebesar apapun masalahnya.Daur 18 – Hijrah Maiyah

Kaca Benggala Zaman

Sebagai Generasi Millenial yang lahir di awal 90-an, tentunya akan melewati banyak pergeseran zaman. Transisi kepemimpinan dari Bapak Pembangunan sampai Era sekarang. Juga melesatnya perkembangan teknologi, dari jaman pra-Internet sampai sekarang Internet bisa dengan mudah digenggam oleh semua tangan manusia.

Zaman yang semakin berkembang ke arah sebagaimana orang menyebut Transformasi Era Global. Dengan berbagai gegap gempitanya, ternyata tidak hanya mampu mengkoneksikan manusia antar benua, namun juga membawa manusia pada kesempitan cara berpikir dan sikap individualis, bahkan cenderung anti-sosial.

Sebagai pelaku zaman, tentunya saya akan tergerus arus tersebut, di mana kekosongan demi kekosongan manusia terus muncul. Ada fenomena naiknya angka stress dan bunuh diri di berbagai belahan dunia, sementara kepengecutan terjadi di mana-mana. Orang bisa seenaknya melempar sesuatu lalu bersembunyi di balik Akun Palsu.

Sedari kecil, sebagai seorang anak saya terus diajarkan untuk srawung dengan orang lain, membuka komunikasi, bertatap muka. Namun sekarang hal-hal yang demikian hilang. Kita bertemu dengan orang lain hanya untuk melihat mereka bermain gadget, bertemu dengan manusia yang bertatapan dengan manusia lain di social media. Dan pertemuan akhirnya kehilangan esensinya.

Di balik kepenatan zaman, saya secara tidak langsung dipertemukan dengan Maiyah dan Mbah Nun. Ketika masa kecil sering melihat beliau di berbagai berita soal Reformasi, atau syair lagu lamanya yang dinyanyikan Franky Sahilatua, sampai ketika dewasa di tengah kekalutan masa muda dipertemukan dengan buku-buku beliau. Saya suka dengan cara pikir beliau, kemudian memulai masuk ke dalam lingkaran Maiyah, dan bertatapan langsung dengan Simbah maupun Nuansa Maiyah yang menurut saya sangat warmful. Nyaman.

Maiyah tidak mampu menyelesaikan masalah nasional bangsa dan negerinya, tetapi minimal mereka tidak menjadi masalah, apalagi menambah masalah kepada rakyat dan diri mereka sendiri.Daur 18 –Hijrah Maiyah

Di Maiyah ini pula saya berjumpa beberapa kawan yang mungkin baru satu kali ketemu namun sudah percaya satu sama lain, cair, akrab, dan nyaman. Di situ pula dibiasakan untuk berani mengemukakan pendapat, ngobrol, sharing, atau sekadar mendengarkan Simbah berbicara, sambil mencerna sedikit-sedikit tentang pemikirannya. Menurut saya inilah Bebrayan yang sesungguhnya. Di mana nilai-nilai kejujuran, kenyamanan, keamanan, kerukunan saling dijaga satu sama lain.

Mungkin Maiyah tidak akan menjadi jawaban langsung atas besarnya arus Global yang terus menyeret bangsa ini menjadi budak dari Sistem besar, tapi bukan berarti Maiyah tidak berarti buat orang-orang di dalam lingkaran Maiyah sendiri.

Ada banyak bahasan-bahasan soal solusi untuk masa depan, pemikiran-pemikiran, telaah-telaah yang mungkin tak bisa dihabiskan hanya dengan menyeduh segelas kopi. Demikian hal ini berproses terus menerus dalam alam pemikiran, semacam ada letupan-letupan kecil yang terus bertambah besar di dalam diri. Namun dengan segala kerendahan hati itu semua hanya untuk mengabdi pada-Nya, membuka celah-celah kemungkinan tentang apa yang sebenarnya dititipkan Tuhan untuk kita perjalanankan semasa kita hidup.

Orang Maiyah tidak memfokuskan pandangan dan gerakannya pada perjalanan dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan dan penugasan-Nya.Daur 18 – Hijrah Maiyah

Jemparing Masa Depan

Lalu kemarin, Simbah berkunjung ke tanah kelahiran saya, Sragen. Tempat di mana Pangeran Mangkubumi memulai perlawanannya terhadap Belanda. Di situ saya duduk agak jauh, menikmati nuansa malam itu, ada yang membekas di benak saya, soal Jemparing.

Sebelumnya dalam sebuah Tajuk, Simbah juga menuliskan soal Jemparing ini, bagaimana bahwa semua mahkluk yang diciptakan-Nya melesat bagai anak panah, terserah ke mana Sang Maha Pemanah ini berkehendak.

Makhluk hidup adalah anak-anak panah yang diluncurkan oleh Maha Pemanahnya. Makhluk tidak berkuasa atas busurnya dan tidak pernah mengerti titik di mana ujung panahnya akan menancap. — Mengantar Anak-anakku ke Gerbang Peradaban Baru

Tentu saya tidak menampik bahwa kita melesat menurut kehendak-Nya. Tapi saya juga memaknai lain, bahwa melesatnya Jemparing ke masa depan juga adalah akibat tarikan busur yang mundur beberapa langkah ke belakang.

Untuk memantapkan presisi kita akhirnya kita juga harus berkaca pada masa silam, entah masa silam pribadi, keluarga, bahkan berbangsa. Memaknai Masa Lalu, menetapkan hari ini, dan mantap untuk melangkah ke Masa Depan.

Dan ketika kembali ke awal tadi, di mana bertatapan muka secara manual di zaman teknologi yang semakin canggih ini seolah-olah adalah bagian dari masa silam, tapi saya berpikir jangan-jangan ini yang akan menjadi bagian dari Masa depan. Mungkin akan ada saatnya kita kembali ke era manual, seperti Hoax yang bertebaran di mana-mana, menyiratkan bahwa kita juga tidak sepenuhnya percaya pada apa yang terjadi di dunia maya. Dan setelah tiba saatnya kita akan melesat ke Masa Depan.

Seperti dengan penuh kewaskitaan Mbah Nun menuliskan penutup yang sangat indah :

Semua itu berada di ujung jalan, dan kemudian beralih ke zaman baru. Anak-anak saya harus menjadi bagian dari fajar hari terbitnya matahari Peradaban Baru. — Mengantar Anak-anakku ke Gerbang Peradaban Baru

Amin, amin ya rabbal alamin…

Sragen, 23 Juli 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image