Kebon (102)

Tuhan Ternyata Tidak Bisa Menyembuhkan

Dok. Progress

Puluhan tahun lamanya saya menghindarkan diri untuk menggunakan kosakata “kafir”, “musyrik”, “munafiq”, “fasiq” dll. Baik dengan mulut maupun melalui tulisan. Dan saya selalu menganjurkan semua anak-cucu saya Jamaah Maiyah untuk juga jangan menggunakan idiom itu untuk menilai, menyebut atau apalagi menuding sesama manusia.

Saya mencarikan “hujjah” atau argumentasi, bahwa sebenar apapun suatu kebenaran, jangan dikeluarkan dari dirimu kalau tidak menjadi kebaikan. Kebenaran letaknya di kandungan pikiran dan hatimu. Yang ketika engkau melahirkannya, harus sudah dihitung, dimuhasabahi, disimulasi, dan diimajinasikan seluruh sisi kemungkinannya, sehingga yang terungkap darimu adalah kebaikan.

Nanti kebaikan akan meningkat menjadi kemuliaan, dan metode eskalasinya dalah kebijaksanaan. Di Al-Qur`an Allah menetapkan “panggillah mereka bilhikmah”. Bukan “bilhaq” bahkan juga bukan “bilkhoir”. Komunikasi sosial itu andalan utamanya adalah “hikmah”, bukan “kebenaran”. Olah kebenaran di dalam dirimu dan pastikan ia menjadi kebaikan ketika engkau mengaplikasikannya.

Sampai-sampai saya carikan sanepan atau perumpamaan atau “amtsal”. Kebenaran letaknya di dalam dapurmu. Adapun yang engkau siapkan dan suguhkan di warungmu haruslah kebaikan yang sehat dan bermanfaat serta disukai oleh semua pelanggan warungmu.

Saya selalu berdisiplin menjaga diri dan merawat kemashlahatan sosial dengan menahan lidah untuk tidak menggunakan kata kafir dan macam-macam lainnya itu. Meskipun secara objektif, rasional, bahkan ilmiah dan akademis, perilaku seseorang, keputusan birokrasi atau kelakuan pejabat, memang benar-benar memenuhi syarat untuk disebut kafir, tetapi saya tetap tidak mengungkapkannya.

Kemudian itu mendapat dukungan dari cara berpikir hukum dan budaya di lingkungan Negeri tempat kehidupan saya. Kata “kafir” itu sedemikian mengerikan sehingga menuding orang sebagai kafir bisa dianggap merupakan “ujaran kebencian”.

Padahal kata “kafir” itu sederhana saja artinya. Kafir adalah orang yang menutupi. Petani adalah Kafir karena ia menutupi tanah dengan tanaman. Bed cover adalah kain yang menutupi ranjang dan kasurnya. Kemudian dijadikan pengertian teologis dan menjadi kekerasan budaya atau kebrutalan akhlaq. Kita juga gerah oleh “Kaum Takfiry”, yakni orang-orang yang terlalu mudah menuduh orang sebagai kafir, hanya karena tidak berlaku seperti mereka. Tidak dipilah antara satu serpihan perbuatan dengan pelakunya sebagai keseluruhan. Sedikit-sedikit mengkafirkan. Sedikit-sedikit kafir.

Kita berusaha berhati-hati secara ilmu dan rasa untuk tidak mudah mengkafirkan orang. Tetapi bagaimana kalau memang fakta perbuatannya memang “kufur” dan pelakunya memang “kafir”. Jadi antara kafir sebagai fakta dengan kafir sebagai ujaran kebencian, terdapat rentang jarak yang tinggi komplikasi pemahamannya. Juga hampir tak terumuskan tingkat-tingkat gradasinya, tekstur ragamnya serta mozaik detailnya.

Juga selama menolak menggunakan kata “kafir’ itu saya menyembunyikan semacam perasaan dalam batin yang berdenyar-denyar tapi diam-diam bahwa Allah bertanya, bahkan mempertanyakan: “Kenapa kau menolak menggunakan apa yang Aku sendiri menggunakannya? Apakah engkau sedang meremehkan atau bahkan menghina kekuasaan-Ku?”

Padahal sejak awal-awal Maiyah sekitar tahun 2006 dulu sangat sering saya mengutipkan ayat Allah berikut dan menganjurkan kepada Jamaah untuk membacanya dan mewiridkannya terutama pada saat mengalami peristiwa di mana manusia memain-mainkan kekuasaan dan kebenaran Allah Swt. Tetapi ternyata saya sendiri bermain-main kepada ketetapan Allah atas sesuatu dan makhluk-Nya. Bermain-main pada keputusan idiomatik dan nomenklatur-Nya.

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ
فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ
وَمَن يَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرۡهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ
فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ
وَقُل رَّبِّ ٱغۡفِرۡ وَٱرۡحَمۡ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ

“Apakah kalian mengira, bahwa Kami menciptakan kalian ini untuk main-main saja? Dan apakah kalian pikir kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang mulia. Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu argumentasi pun padanya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. Dan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik”.

Tatkala Covid-19 mewabahi seluruh penduduk dunia, tata informasi tentang virus itu juga disistemasikan dan diregulasikan sedemikian rupa dengan penuh kehati-hatian. Banyak orang bingung hatinya dan stressed jiwanya bukan terutama karena Covid-19 itu sendiri, melainkan lebih karena lalu lintas informasi tentangnya yang serabutan dan ngalor-ngidul.

Akhirnya Youtube sebagai salah satu mesin dan lembaga informasi dan komunikasi terbesar terluas dan paling efektif, membikin pagar-pagar untuk melindungi ummat manusia. Banyak aturan yang diterapkannya. Antara lain mereka tidak akan mengakomodasi konten-konten yang menurut mereka berpotensi membahayakan kesehatan ummat manusia.

Misalnya “konten yang mendorong penggunaan metode penyembuhan rumahan dan bukan penanganan medis seperti menghubungi dokter atau pergi ke rumah sakit. Konten yang mendorong penggunaan doa atau ritual dan bukan penanganan medis”.

Dalami, amati hingga saripatinya, analisislah konteks yang dikandung kalimat-kalimat diatas. Itu lahir dari kesimpulan ilmu dan pengetahuan para stekeholders kehidupan manusia di dunia. Yang menetapkan bahwa yang bisa menyembuhkan orang terpapar Covid itu adalah dokter, para tenaga kesehatan resmi, obat-obat medis, penanganan Kementerian Kesehatan, melalui wahyu Youtube yang menyebarkan firman WHO.

Adapun Tuhan, apalagi Allah Swt, bagi para beliau, para ilmuwan birokrat kesehatan dunia: ternyata tidak bisa menyembuhkan. Agama, terutama Islam, tidak relevan. Nilai-nilai spiritual, utamanya Mujarrobat, tidak kompatibel. Malaikat, Nabi, Doa, Wirid dan dzikir, Istighatsah, Iman, Taqwa, Tawakkal, “min haitsu la yahtasib”, “Likulli daìn dawaùn”, “Innalloha ála kulli syaiìn Qodir” dll itu semua wacana ilmu kuno yang tidak berlaku dan tidak efektif di era peradaban modern.

Lainnya