Kebon (103 dari 241)

Firman Allah Penuh Ujaran Kebencian

Dok. Progress

Coba berpikir tenang dan berhati dingin: itu semua bisa dipahami. Seluruh ilmuwan di dunia, lembaga-lembaga ilmu, institusi kesehatan dan badan pengelolaan negara atau masyarakat seluruh dunia, secara resmi dalam mengambil semua keputusan dan tindakan mau tidak mau harus mengacu pada Ilmu. Bukan pada iman.

Yang lebih mendekati objektivitas fakta dan kepastian substansi adalah ilmu. Sedangkan iman, ia berlaku subjektif, di areanya terdapat spekulasi, probabilitas, persangkaan, sampai ke halusinasi dan fatamorgana. Makanya penggunaan doa dan ritual tidak mungkin bisa dibenarkan oleh ilmu mereka. Tidak ada keputusan Presiden atau Menteri, apalagi PBB dan WHO, yang berdasarkan pada “spekulasi” iman. Harus jelas landasan keilmuannya.

Dan di dalam common sense, penolakan terhadap iman artinya adalah kufur. Pelakunya disebut Kafir. Seluruh tata dan sistem kehidupan yang kita alami di era modern ini adalah kekufuran. Artinya dalam sangat banyak, kita semua penduduk bumi ini, maaf seribu maaf, adalah orang-orang kafir.

Bahkan di ranah keterbatasan ilmu kita yang tidak sanggup menjangkau Tuhan, klaim Allah ini juga ternyata “ujaran kebencian” atau “hoax”:

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسۡلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلٗاۚ
يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٞ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٞ لِّلنَّاسِۚ
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ

“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”.

قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ
وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ
أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ

“Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Di seluruh teks Al-Qur`an kata kafir disebut sebanyak 525 kali. Kata syirik atau musyrik 168 kali. Bahkan kata Kafir dan Munafiq dijadikan judul Surah dalam Al-Qur`an. Narasi firman Allah dalam surat Al-Lahab sangat jelas, tekstual maupun apalagi kontekstual, merupakan “ujaran kebencian” :

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ
مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ
وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ
فِي جِيدِهَا حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut”.

Kalau menghadapi kelimat-kalimat firman dengan mata pandang ilmu, prinsip dan disiplin akademis, harus dipertanyakan Allah kok bisa bilang begitu itu apa dasar metodologisnya? Apa sanad matan-nya? Mana daftar kepustakaan yang menjadi acuan atau rujukannya, serta buku-buku dari para ahli mana yang menjadi landasan kebenaran dari ayat-ayat itu?

Begitulah mindset peradaban dunia saat ini melihat perkataan atau pernyataan Tuhan. Begitulah sikap modern dan profesional para ilmuwan di hadapan teks Kitab Suci. Sebab iman itu tidak ilmiah dan tidak ada dasar rasionalitasnya.

Tatkala Allah mengklaim bahwa ia menciptakan manusia dengan narasi:

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ
قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ
وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Ini narasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah akademis. Kapan ada penelitian bahwa Iblis merespons seperti itu atas keputusan Tuhan? Bahkan eksistensi Iblis itu sendiri bersumber dari informasi yang tidak valid dan tidak memenuhi persyaratan ilmu. Mana buktinya bahwa Iblis itu ada? Siapa saksinya, atau siapa yang merekam, atau siapa yang mempersaksikan bahwa ada dialog antara Tuhan dengan Iblis seperti itu?

Secara ilmu, fakta tentang Allah, Malaikat, Iblis dan Khalifah itu tidak bisa divaliditasi. Maka sangat masuk akal bahwa Negara Indonesia secara tegas menolak adanya Khalifah sehingga melarang konsep Khilafah.

Dalam skala kecil saya mengalami sendiri secara otentik. Sakit saya di tahun 2003 mendapat penanganan medis oleh RS Sardjito UGM. Tidak ada kemungkinan dari ilmu kedokteran modern bahwa saya akan bisa sembuh. Sehingga “fatwa” yang keluar adalah saya tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 3 bulan.

Tapi kemudian saya sembuh. Hanya esoknya dari hari saya pulang dari Rumah Sakit. Tetapi itu bukan kesembuhan medis, karena secara ilmu kedokteran modern sudah ada “fatwa” di atas. Sehingga pada forum di Fakultas Kedokteran UGM para dokter dan ahli-ahli kesehatan modern bertanya “Bagaimana caranya kok bisa sembuh”. Dan saya mustahil menjawabnya, sebab mindset mereka adalah ilmu, sedangkan yang saya praktikkan dalam hidup saya adalah ilmu dalam iman dan iman bersama ilmu.

Kita bisa berdiskusi panjang lebar dan berhari-hari untuk menyelami kandungan nilai di dalam ilmu dalam iman dan iman bersama ilmu ini. Dengan spektrum dan metode berpikir yang maunya berapa luas dan membutuhkan waktu berapa lama pun.

Sekarang saya sungguh-sungguh seperti dipenjarakan di dalam tembok-tembok tebal dan berlapis-lapis. Saya terus berjuang untuk tetap sanggup menahan air bah dari tenggorokan saya agar menghalangi mulut saya mengucapkan kata “Kafir”. Meskipun yang berdengung-dengung di dalam ‘aql dan qalbu maupun fuad saya memang kata Kafir itu.

Lainnya