Kebon (82)

Tombak Kanjeng Kiai Anshitu dan Ibuk

Dok. Progress

Di peristiwa mengerikan G.30.S yang tak satu bangsa pun pernah mengalami kekejaman dan kebrutalan “perang horisontal” seperti itu, ada orang yang langsung mati dengan satu tebasan atau tusukan pedang. Ada yang mèntèr dengan segala macam senjata tajam. Bahkan tetap utuh tatkala ditelentangkan dan dihantam batu-batu besar dari atas oleh beberapa orang. Ada yang cukup memakai daun kelor, dengan mudah ia mati. Atau ada yang dibacakan bersama-sama keras-keras baru terbakar jasadanya:

تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً

Ada yang perlu pengerahan tajalli semua kekuatan dan kedahsyatan sifat Allah:

هُوَاللّٰه الَّذِيْ لَاإِلٰهَ إِلّٰا هُوَالْعَزِيْزُالْقَوِيُّ الْقَاَدِرُ
ذُوالُقُوَّةِ الْمَتِيْنُ الْمُقْتَدِرُالْجَبَّارُ
الْمُتَكَبِّرُالْقَاهِرُالْقَهَّار

Atau karena ada “prewangan” yang menyertainya, maka dibacakan ke telinga kirinya:

أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Baru tiba ajalnya. Kita semua tidak akan pernah tahu apakah di lembaran buku Lauhil Mahfudh memang ada tulisan yang menyebut daun kelor atau bebatuan yang berkaitan dengan ketentuan matinya seseorang. Kalau kata “api” mestinya banyak disebut di Kitab Induk itu. Atau Asmaul Husna.

Sehabis selesai shalat Jum’at beramai-ramai membawa senjata seketemunya, pedang, parang, bendho, doran pacul atau apapun. Bahkan tombak Kanjeng Kiai Anshitu juga disaut dan dibawa menyerbu sebuah desa di arah timur Menturo. Sebuah rumah diserbu. Penghuninya dihajar dikeroyok bersama-sama dengan berbagai macam senjata itu. Sampai lèdèh. Luluh lantak. Bercampur antara darah, daging, tulang dengan debu dan tanah.

Demi Allah jangan sampai siapapun di antara kalian yang membaca tulisan ini yang akan dibiarkan oleh Allah mengalami hal semacam itu. Bahkan melihat atau menyaksikannya saja pun jangan sampai.

Apa yang saya saksikan dengan tubuh gemetar itu tidak mungkin saya bisa menalarnya dengan ilmu kemanusiaan, kebudayaan atau apapun yang pernah ditemukan dan dipakai oleh sejarah manusia. Satu-satunya yang ada lubang kemungkinan pemahaman hanyalah Firman-Nya:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Satu-satunya proses penjernihan sejarah yang bisa menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada 1965 G.30.S adalah penelitian sejarah yang selengkap-lengkapnya dan sejujur-jujurnya. Siapakah yang memulai tindakan pembunuhan? Suatu pihak membunuh pihak lain karena kekejaman kelompok ataukah karena ia diserang duluan? Hukum perang bukanlah “boleh atau tidak boleh membunuh”, melainkan “membunuh atau dibunuh”.

Dalam hukum internasional negara manapun seseorang yang membunuh orang lain tidak bisa dipersalahkan kalau terbukti ia membunuh dalam posisi membela diri. Apa yang dilakukan oleh jamaah Jum’atan ke desa sebelah timur itu karena mereka memang masyarakat yang kejam, ataukah sedang dalam posisi membela diri dalam situasi “membunuh atau dibunuh”?

Adapun apa yang berlangsung di desa itu sesudah Jum’atan itu berlebihan atau tidak, sebagaimana peringatan Allah bahwa Ia “la yuhibbul mu’tadin”, tidak menyukai orang yang bertindah berlebih-lebihan. Hanya Allah yang pasti dan mutlak bisa mengukurnya. Kita hanya bisa bertengkar.

Bahkan bertengkar sepanjang zaman. Ini salah satu yang saya merasa heran. Daripada bertengkar mulut sepanjang zaman, kenapa tidak saling bertindak saja sebagai rombongan Kanjeng Kiai Anshitu Jum’at siang itu. Mari kita berbunuh-bunuhan. Mari baku bunuh. Mari fair dan transparan saja. Jangan hanya cocat-cocot congkam-cangkem saja di medsos dan media-media lain. Ayo wis. Timbangane ingah-ingih, plelat-plelet. Ayo brèng. Jrot. Gabrus. Kata lapo urip iki. Saiki bongko mene yo bongko podho ae.

Sebelum khutbah Jum’at dimulai, petugas adzan biasanya merangkap tugas berikutnya: berdiri, memeluk tombak di ketiak tangan kanannya, kemudian melantunkan

اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللّٰهُ

Anshitu wasma’u wa athi’u rahimakumullah. Anshitu la ilaha illallah”. Diamlah, dengarkan baik-baik dan taati. Diamlah, tiada tuhan selain Allah”.

Maka batang tombak itu disebut “Anshitu”. Kalau kami di Langgar bergurau sampai agak bertengkar, salah seorang biasanya mengancam: “Koen engkok tak gepuk anshitu lho ndasmu…”

Pada suatu siang Guk Suwata ngamuk karena stres. Ia bawa tombak, tapi bukan Kanjeng Kiai Anshitu. Teriak-teriak sepanjang jalanan tengah yakni Jl Kik Ronopati Menturo. Semua orang menutup pintu rumahnya dan bersembunyi. Saya melihat dari balik kaca jendela rumah bagian depan. Guk Suwata masuk halaman rumah kami ketebang-ketebang dengan tombaknya. Ayah dan Kakek saya, mertuanya Bu Chalimah, keluar rumah. Kakek membawa kelewang panjang. Ayah tidak bawa apa-apa.

Dengan satu hentakan pedang, tombak Guk Suwata terlempar. Kemudian Ayah mendatangi Guk Suwata, memeluknya, mengusap tengkuk dan jidatnya. Guk Suwata menangis tersengal-sengal.

Ibu saya Chalimah juga mengalami hal yang sama sekian tahun kemudian. Seorang lelaki mengamuk akan membunuh istrinya karena gosip selingkuh. Ibu Chalimah dengan mencincing kain jaritnya menyongsong suami kalap itu dan berkata: “Bojomu iku koncoku. Nek kate mateni koncoku, patenono aku sik…”. Kalimat ini jenis narasi preman.

Entah apa yang kemudian diucapkan oleh Bu Chalimah, pedang lelaki itu jatuh dari genggamannya. Kemudian Ibu menggandeng tangannya masuk rumah dan men-tabayyun-kan dengan istrinya. Ini pekerjaan baku dan rutin Bu Chalimah. Maka semua penduduk desa saya memanggilnya “Ibuk”.

Lainnya