Kebon (83)

Lebih Hina Dibanding yang Kita Hina

Foto: Adin (Dok. Progress)

Kenapa saya menuliskan tentang neraka dunia G.30.S yang saya mendoakan agar Anda tak akan pernah melihatnya, menyaksikannya, apalagi mengalaminya? Kenapa saya berkisah tentang Perang Sipil Dayak-Madura pada momentum Sanggau yang puji Tuhan saya diperkenankan membuntu sumber air panasnya? Kenapa saya ceritakan etos Balanipa yang berhasil digagalkan membuat Majene menjadi karang abang? Atau bentrok sesama pekerja dan rakyat di Tulangbawang? Lumpur Sidoarjo yang sebenarnya punya modal sangat besar untuk meluapkan lautan darah? Dan banyak lagi yang mungkin saya belum atau tidak sempat me-recover-nya?

Agar supaya kita menjaga mulut. Agar supaya kita selalu ingat bahwa hidup harus bertaqwa, artinya harus selalu waspada, ingat, dan hati-hati. Eling lan waspada. Ad-dzikru wat-taqwa. Supaya kita tidak seenaknya bikin status di akun. Tidak serampangan upload apa-apa. Agar tidak meneruskan kesembronoan memanipulasi data-data video atau audio, yang direkayasa untuk adu domba dan menghimpun uang kekejaman sosial. Supaya tidak terlalu mudah membenci dan bermusuhan. Supaya sesekali belajar berpikir agak panjang sebelum menista orang lain.

Jangan pikir kau benar-benar siap dengan darah, kekejaman, dan brutalisme nasib. Apalagi kalau itu darahmu, dan kekejaman itu menimpa nasibmu. Apalagi sampai keluargamu. Istri dan anak-anakmu.Yang akan berakselerasi hingga cucu-cucumu kelak.

Kesiapanmu dan semua manusia hanyalah menerima ketenangan, kesejahteraan dan kedamaian dengan sesama. Tidak ada prajurit berangkat perang tidak karena terpaksa. Tidak ada kumpulan orang bentrok melawan kelompok lain kecuali karena terserimpung oleh keadaan yang memojokkannya. Tidak ada orang punya aspirasi, ide, dan semangat serta keikhlasan untuk menumpahkan darah massal.

Jangan sok pemberani dan merasa hebat. Sedangkan hamba-hamba yang Tuhan menyebutnya:

فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada ketakutan pada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.

Itu pun tidak sepenuh-penuhnya terbebas dari ketakutan serta perasaan kesedihan. Tidak ada manusia riang gembira di dalam permusuhan dan kebencian. Kau boleh bilang tidak takut mati, tapi proses antara hidup menuju mati akan tetap selalu mencemaskanmu. Apalagi kalau jarak antara hidup dengan mati itu kau isi sendiri dengan darah, rasa sakit, dan kengerian. Jangan membangun hati kehidupan dengan kemungguhan merasa berani dan gagah perkasa. Manusia pada hakikatnya lebih siap untuk rendah hati, untuk berhati-hati, dan berendah diri. Karena maqam manusia memang rendah dan tak berdaya di hadapan nasibnya sendiri.

Dalam proses transformasi dan metamorfosis dari Teater Dipo menuju Teater Dinasti, kemudian berkembang biak dengan Teater Jiwa, Teater Sanggar Salahuddin, kemudian terakhir bermuara di Perdikan Teater, hampir semua naskah yang dipentaskan selalu berisi wanti-wanti kemanusiaan. “Geger Wong Ngoyak Macan” memperingatkan diri sendiri tentang akan terjadinya kematian massal yang waktu itu disebut Petrus atau Penembakan Misterius. Saya memperoleh daftar 89 orang di Yogya yang akan dieksekusi tanpa proses hukum.

Kemudian ada lakon “Sepatu Nomor Satu”, “Perahu Retak” hingga “Tikungan Iblis”, “Nabi Darurat”, “Sengkuni”, dan seterusnya. Semuanya mengungkapkan spektrum nilai yang mengingatkan agar manusia berhati-hati.

Dalam “Tikungan Iblis” digambarkan bahwa manusia lebih jahat dari Iblis. Iblis transparan dan tegas atas pilihannya melawan Allah. Sedangkan manusia pura-pura menyembah Allah padahal mereka menyembah dunia, kekayaan, dan harta benda. Diceritakan juga kekaguman Iblis kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw sampai-sampai ia menyatakannya dengan bershalawat dan taat kapan saja Nabi menyuruhnya datang serta menjawab dengan jujur semua pertanyaan Nabi.

Dalam “Nabi Darurat” digambarkan betapa ruwet, luas, dan mendalamnya kerusakan yang sedang dialami oleh manusia sekarang. Sedemikian rupa sehingga akal tak bisa menjangkaunya, sehingga terjatuh pada pemikiran untuk membutuhkan semacam Nabi Darurat.

Di dalam pentas “Sengkuni” lakon ini mempertanyakan atas pengalaman dan penderitaan apa sehingga manusia sekarang bisa berbuat sekejam itu kepada sesama manusia. Bisa separah itu menindas manusia. Bisa sejauh itu membohongi dan mencelakakan rakyat.

Sedangkan Sengkuni yang mengalami penderitaan yang seribu kali lebih besar, hanya membalasnya dengan sekadar menjadi seorang provokator. Seorang taktikus dan strateg namun tidak sampai melakukan kebrutalan dan kekejaman sejauh yang terjadi di zaman modern.

Sengkuni Kerajaannya diserbu oleh Raja Astina Destrarastra, ia bersama 98 saudaranya dipenjara dengan hanya dikasih jatah makan sebutir beras sehari. Mustahil mereka bertahan hidup. Sehingga disepakati Sengkuni saja yang diamanati untuk terus hidup agar bisa memperjuangkan nasib keluarganya. Semua butir beras dikumpulkan untuk makan Sengkuni. Setiap saudara-saudaranya mati kelaparan, Sengkuni diberi hak untuk memakan daging saudaranya. Ia bertahan hidup, kemudian menjadi pejabat atas kolusi dengan Gendari, kakak sulungnya, yang menjadi Permaisuri Raja Destraratsra.

Dengan tingkat penderitaan dan kadar trauma yang luar biasa seperti itu, Sengkuni tidak lantas mengamuk dengan bengis, menjadi teroris, atau membunuhi semua orang Rezim Destrarastra. Sementara kita sekarang, menjadi pejabat dan pemimpin bangsa, yang sejak kecil hidupnya baik-baik saja, tanpa seperseribu derita yang dialami Sengkuni, berlaku semena-mena terhadap kedaulatan rakyat, menghina nurani dan melecehken akal sehat.

وَإِذَا بَطَشْتُم بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ

Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis.

Bahkan tanpa menjadi pejabat atau pemimpin pun kita bisa berbuat sehina dan sebengis itu. Kita menghina manusia, melecehken orang tua, mem-bully siapa saja yang tak sependapat dengan kita. Sambil jongkok buang air besar, tangan kita memegang gadget, menuliskan kalimat-kalimat penistaan, penghinaan, fitnah semena-mena. Sehingga kita sendiri menjadi lebih hina dibanding yang kita hina.

Lainnya