Wisdom of Maiyah (135)

Puasa Keinginan

Selama ini, manusia dikepung oleh berbagai keinginan. Kadang ada yang saking inginnya sampai terbawa mimpi. Ada juga mimpi yang teralih ke kenyataan yang berbeda. Ada juga mimpi yang tidak terwujud sama sekali sepanjang hayatnya.

Ada yang berkhayal ingin jadi pahlawan. Ingin menolong orang. Ditambah sekian hawa nafsu yang disuntikkan via literatur, acara televisi (selaras dengan lagu Daft Punk berjudul Television Rules the Nation), dan media sosial. Pada akhirnya keinginan menggebu-gebu itu mentok sebatas khayalan. Masih mending daripada terbawa saat melamun di jalan sampai kecelakaan.

Pada akhirnya saya berlabuh di channel YouTube dan laman resmi caknun.com ini. Mengarungi literatur Maiyah sampai pada esai-esai yang membahas tentang puasa.

Puasa yang dimaksud tidak sekadar menahan lapar, haus, dan syahwat dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Tidak sekadar di bulan Ramadan, waktu mengganti puasa Ramadan bagi perempuan, dan waktu-waktu yang disunahkan. Justru lebih kontekstual dan mendalam; puasa apa saja yang aslinya sangat kita inginkan di dunia ini. Bonusnya adalah kesehatan fisik dan mental — seperti yang ditulis dr. Eddy di rubrik Khasanah dan Sinau Puasa.

Di beberapa esai yang ditulis Mbah Nun, almarhumah Ibu Chalimah pernah ngendika kepada Mbah Nun: “Sebenarnya, Nak, yang paling nikmat itu kita berpuasa selama hidup di dunia, harirayanya besok-besok saja di Sorga, mudah-mudahan Pengeran ngijabahi”. “Hidupmu itu selalu puasa seluruhnya. Kalau sekadar puasa tidak makan minum sehari, itu bukan penyempurnaan puasa hidupmu”.

Populer