Wisdom of Maiyah (232)

Kuncinya Adalah Ridla

Dari Maiyahan, saya mendapatkan pengetahuan baru mengenai arti RIDLA yaitu menerima segala ketentuan yang terjadi dengan niat ihklas, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. ditambah bacaan wirid hasbunallah wanimal wakil nikmalmaula wanikman nasir.

Sebelum mengenal kata ridla, hidup saya terasa sesak dengan keluhan hasil dari ketidakberhasilan akan keinginan yang tidak tercapai. Sehingga membuat diri saya membukakan pintu gerbang seluas-seluasnya kepada ketidaksyukuran, dan hanya melihat segala fenomena di dunia dari perspektif mata diri saya sendiri, menganggap ketidakadilan dunia selalu terjadi kepada saya. Contoh, kenapa saya dilahirkan di Indonesia, kenapa saya tidak menjadi bagian dari negara yang sudah maju di Negara lain.

Kalimat Mbah Nun “Apa-apa saja yang sudah ada dalam diri kamu, jangan dibantah!” membuat saya berpikir, ternyata rasa sesak dalam hidup yang terjadi dalam diri saya karena disebabkan saya tidak ridla menjadi diri saya sendiri.

Karena saya tidak menerima apa yang sudah menjadi pemberian Allah Swt., setelah saya banyak merenung begitu banyak hal karunia Allah yang Allah berikan kepada saya, jika dicari-cari nikmat Allah yang sudah diberikan, saya tidak akan sanggup menghitungnya, dan hal itu membuat diri saya menjadi malu.

Dan pada akhirnya saya mempunyai satu kenikmatan besar yang sudah saya punyai di dalam hidup ini, yaitu nikmat menjadi seoran muslim, nikmat Islam , dan menjadi pengikut Nabi Muhammad Saw. Setelah mengenal banyak pelajaran dari Maiyah, saya membaca dan mempelajari Al-Qur’an, dengan membaca terjemahan. Saya menemukan jawaban-jawaban dari keluhan di hidup. Surat 11 Hud ayat ke 15 : siapa menghendaki kehidupan dunia dan kenikmatanya. Niscaya kami berikan balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna. Di situ mereka tidak akan dirugikan.

Ayat ke 16: Di akhirat mereka tidak memperoleh apapun kecuali neraka. Dan hapuslah segala yang diusahakan di dunia, dan sia-sia pula segala yang diamalkan.

Pandangan saya yang selama ini saya benarkan ternyata menjadi kesalahpahaman dan kurang ketepatan dalam berpikir, jika dunia semata yang menjadi tujuan.

Tuntutan dari lingkungan sosial dan keinginan untuk dilihat sukses, dengan tujuan duniawi semata, hanya akan menjadi kesia-siaan. Yang pertama diniatkan adalah karena Allah Swt, dan menjadi amalan ibadah, bukan untuk dibandingkan apalagi menjadi “takut” dengan orang-orang yang sudah mempunyai harta yang lebih. Kuncinya adalah ridla.