CakNun.com
Wisdom of Maiyah (228)

Kemanusiaan dan Cinta Tanah Air Saya Membludak Karena Buku Mbah Nun

Saya pikir, diri saya sebelum mengenal maiyah hanyalah entitas yang begitu kaku. Tiap hari cuma saya habiskan untuk sekolah, mengaji dan sesekali membaca buku untuk membunuh waktu. Saya begitu kesulitan untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain, terutama teman dan tetangga-tetangga saya.

Semakin bertambah dewasa, saya malah semakin menutup diri dan membuat semuanya berlangsung hanya dalam pikiran saya. Apalagi dikarenakan kebiasaan membaca saya, saya semakin tertarik hanya untuk menyelami pikiran-pikiran saya dalam sepi, saya nyaman dalam kesendirian, mandiri dalam bertanya dan menjawab pertanyaan itu sendiri.

Hal demikian berlangsung sangat lama, hingga suatu hari di perpustakaan sekolah, pustakawan di sekolah saya membawa sekardus penuh buku-buku baru untuk dijadikan koleksi perpustakaan. Saya tentu saja langsung menghampiri dan membolak-balik buku baru itu, hingga menemukan dua buah buku yang bertuliskan Emha Ainun Najib dalam sampulnya dengan masing-masing judul Mati Ketawa Ala Refotnasi dan Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto.

Setelah kelar membacanya, rasa kemanusiaan serta kecintaan saya akan tanah air entah kenapa begitu membludak, saya begitu ingin mengubah hal-hal yang saat ini berjalan dengan tidak seharusnya di tanah kita tercinta ini. Dan perbaikan-perbaikan besar itu, tak mungkin kalau hanya dilakukan di dalam pikiran, harus ada tindakan langsung kepada masyarakat, saya harus keluar dari dalam pikiran saya dan lantas menelaah apalah kiranya yang bisa saya perbuat untuk ikut andil dalam perbaikan tersebut, kendati saya hanyalah sebutir debu di gurun yang luas.

Semakin banyak saya mendengar Dawuh Mbah Nun di dunia maya maupun di dalam buku-buku yang saya pinjam dari teman saya, semakin yakinlah saya untuk memaksa diri saya sendiri agar dapat memulai langkah yang menurut saya besar sekali, yakni ikut nyegoro ke dalam lingkar maiyah lewat lingkaran yang paling dekat dengan tempat tinggal saya: padhangmbulan.

Setelah itu, saya perlahan mulai dapat memahami, membaca, dan lebih banyak mendengarkan orang lain, serta menyaringnya dengan pikiran saya sendiri. Saya terus berupaya untuk mencari langkah-langkah yang tepat dan mampu saya lakukan, agar setidaknya dapat ikut andil menjadi tokoh sampingan bagi keselamatan pikiran masyarakat, menuju “Bharatayudha” yang tak jelas siapa Pandawa atau Kurawanya, yang talbis dan membohongi penampilannya agar semua orang terperdaya, seperti yang sudah sering diingatkan oleh Mbah Nun.

Maiyah telah membuat saya menjadi air, yang dapat menyatu dengan medium apapun, membuat saya menjadi sebenar-benar manusia berkedaulatan, yang semoga, dapat memaiyahkan segala tindakan saya pada hari ini, maupun pada hari depan.

Lainnya

Tujuh Fuqon Maiyah

Tujuh Fuqon Maiyah

1. Komunikasi dua arah

Menurut penulis komunikasi yang terjadi bersifat timbal balik antara komunikator ...

Penerimaan sebagai Manusia

Penerimaan sebagai Manusia

Hadir di Kenduri Cinta pada 2010 merupakan kali pertama saya mengikuti maiyahan. Maiyah mengantarkan ...