Wisdom of Maiyah (238)

Cakrawala dan Pengetahuan Baru dari Maiyah

Bermaiyah buat saya bukan sekadar pertemuan biasa. Saya mendapatkan cipratan cahaya yang tak bisa diungkapkan dengan kata tapi dengan rasa yang bisa hinggap di mana saja. Biarkanlah rasa yang bertamasya tanpa kata yang dibalut dengan cinta pada yang maha.

Sesuai dengan yang dikatakan Simbah, kita ini sedang menjalalankan Shirotun Nubuwah. Gondelan Kanjeng Nabi, di belakangnya Kanjeng Nabi. Kita sedang mengikuti jalannya Rasulullah menuju Allah.

Oleh karena itu, kita harus dekat dengan Rasulullah karena Rasulullah sangat dekat dengan Allah, sangat dicintai Allah, agar kita punya akhlak seperti beliau, punya kelembutan seperti beliau. Lihatlah langit itu. Langit itu sama seperti yang dilihat Rasullulah. Jika aku diberi satu permintaan untuk Rasulullah aku akan mengatakan, “Ya Rasulullah di langit yang Engkau tatap ada rindu yang aku titip.”

Kepada teman-teman semua teruslah berjalan, bekerja, berkarya. Bergerak, jangan sia-siakan hidupmu yang Tuhan kasih tanpa melakukan apa-apa. Lakukanlah apa saja asalkan itu baik, karena Allah tak berjanji hidup ini mudah tapi Allah berjanji, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah: 5).

Saya berterima kasih kepada Allah telah dipertemukan dengan Simbah dan Maiyah yang membuka cakrawala dan pengetahuan baru, yang salah satu ilmunya adalah: bila banyak di pengajian-pengajian pendakwah mengatakan ‘kita cari apa’ dan jamaah menjawab ‘mencari ridla Allah’, di Maiyah kita diingatkan: kita minta diridlai Allah sedang kita sendiri tidak ridla dengan ketentuan Allah. Begitulah kira-kira.