Wisdom of maiyah (239)

Baginda Nabi Saw Masih Membersamai

Sebenarnya saya merasa agak kikuk untuk menemukan apa yang disinggung Simbah Nun sebagai furqon dan tajdid majelis masyarakat Maiyah. Sebab sudah banyak yang dijlentrehkan dengan jelas oleh sedulur jamaah Maiyah pada rubrik Wisdom of Maiyah ini.

Namun izinkan saya bercerita sedikit di antara tahqiq refleksi pemahaman yang saya alami langsung di kehidupan saya. Semoga bisa jadi salah satu titik penguat konsentrasi pemahaman bagi sedulur jamaah Maiyah.

Suatu ketika Mbah Nun ngendika, “Mbok kiro Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wa sallam wes ga onok, po? Nek ngono lapo dadak onok sholawatan? Kalau Kanjeng Nabi Muhammad saw sudah tidak ada, buat apa kita semua, juga Gustiallah dan para malaikat menghaturkan shalawat untuk beliau Saw?

Beriringan dengan itu, guru al-hikam saya ustadz Masykur mengutip sabda Kanjeng Nabi Saw. yang juga sefrekuensi dengan firman Gustiallah Ta’ala, Nahnul awwalun wal akhirun. “Kami adalah yang mula dan yang akhir.” Saya memaknainya bahwa beliau Saw. memaksudkan sebagai mula dan akhir segala ciptaan.

Gustiallah Ta’ala ngendika, Kullu syai’in halikun illa wajhah. Tiap-tiap segala sesuatu niscaya hancur lebur kecuali Gustiallah semata. Maka saat menjelang ajalnya, Sayyiduna al-Habib al-Faqih al-Muqaddam Ba’alawy ketika dibisikkan firman tersebut, lantas beliau menjawab, Ana min nuri wajhillah! Jangan kira saya binasa dengan kematian fisik ini. Sebab saya berasal dari cahaya-Nya Gustiallah Ta’ala. Demikian para arifin billah yang menjadi poros qutub kesetimbangan dunia dari zaman ke zaman.

Demikian pula para salikin Maiyah. Kita semua melebur di dalam cahaya keabadian-Nya dengan melestarikan tradisi shalawatan kepada Baginda Nabi saw. Baik dalam kebersamaan maupun kesendirian. Baik dalam keramaian maupun kesunyian. Hati yang senantiasa tak lepas dari hatur shalawat Nabi Saw. sebisa mungkin bahkan di tiap tarik embusan napas, hingga saat menjelang dan di dalam tidur, serta setelah terbangun dari tidur.

Saat itu saya terpepet keadaan yang secara nalar rasional tak mungkin tertembus dengan kemungkinan-kemungkinan sebab-akibat lahiriah. Lantas saya dawamkan shalawat Nabi Saw. sambil menggumam hati, Duhai Baginda Nabi Saw, kupautkan hatiku padamu. Mohon berikanlah tanda jika Engkau memang masih ada. Jika Engkau memang masih membersamai kami hingga saat ini.

Dan jleng, ketidakmungkinan lahiriah itu pun sekonyong-konyong tertembus.

Hati saya terperangah, teringat dawuh Mbah Nun di atas.

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ali Muhammad fi kulli waqtin wa hin hatta taritsal ardla wa man alaiha anta khairul waritsin.