Membaca Surat dari Tuhan (31)

Menjelajah Hutan Mataram Islam

Peluru ini kami persiapkan dengan mengambil batang pelepah daun pisang di tempat orang ewuh atau tetangga yang mempersiapkan perhelatan. Peluru ini kami renteng dan kami selempangkan ke pundak atau kami lilitkan di perut mirip dengan serdadu atau koboi di film yang waktu itu diputar di bioskop atau yang kami bayangkan lewat penuturan dongeng guru ngaji kami. Perang-perangan dengan menggunakan peluru apa pun berlangsung ramai karena kami berteriak-teriak meneriakkan teriakan perang atau battle cry yang diperagakan oleh guru ngaji kami ketika mendongeng. Kalah atau menang tidak penting bagi anak-anak seperti kami. Yang penting gayeng dan kami bisa menyulap hutan Mataram di kampung Dalem ini menjadi medan perang. Kami adalah generasi pasca perang, lahir di tahun 1950-an yang ayah-ayah kami sering mengisahkan adegan perang mempertahankan kemerdekaan dengan seru sampai imajinasi perang gerilya dan jurus taktis perang gerilya memenuhi kepala kami. Pada saat perang-perangan ini kami menghembuskan keluar imajinasi perang itu dalam tindakan yang asyik di hutan Mataram ini.

Fokus tindakan kami kedua, kami masuk dan menjelajah hutan Mataram dengan damai. Secara berombongan kami diajak oleh kakak-kakak senior kami untuk mengenal keadaan di hutan ini. Kami dikenalkan dengan nama-nama pohon dan kegunaannya, termasuk pohon bekas tanaman bangsawan dulu bernama pohon kepel, tledung atau kesemek, mundu, sawo, pinang atau jambe, juga tanaman perdu berduri dan yang tidak berduri. Kami diajarkan untuk berhati-hati terhadap sarang tawon atau rumah lebah hutan dan dilarang mengganggu tawon, apalagi tawon endhas yang kalau marah bisa menyambar kepala dan racun yang dia keluarkan bisa sangat menyakitkan. Kami diajarkan untuk berhati-hati terhadap serangga tanah dan reptil pohon. Kami diberi tahu cara membedakan aneka macam semut termasuk risiko kalau digigit semut api atau kalau digigit semut ngangrang yang bandel.

Dan yang menyenangkan adalah ketika suatu musim libur sekolah, kami diajak oleh kakak-kakak senior berburu laba-laba. Ternyata waktu itu di hutan Mataram terdapat lebih dari sepuluh jenis laba-laba. Bentuk tubuhnya antik dan indah. Ada yang besar dan ada yang kecil mungil dengan kakinya yang panjang. Bentuknya pun ada yang bulat dan mirip keong, ada yang mirip bintang, ada bersegi banyak, ada yang memanjang dan bertubuh sangat besar. Ada yang membuat rumahnya di tempat rendah, ada yang sedang-sedang saja dan ada yang membuat rumahnya di pohon tinggi.berdekatan dengan sarang tawon.

Dengan sesuaka hati, sesuai kesepakatan, kami menamai laba-laba ini dengan nama seadanya, bergantung bentuk tubuhnya. Kami waktu itu diajak berburu laba-laba, menangkapnya, kami masukkan ke tempat tertutup lalu kami bawa pulang dan kami lepas dan kami pelihara di pohon-pohon halaman rumah kami. Begitu kami lepaskan di pohon mereka segera dengan tangkas membuat jaring-jaring sebagai rumahnya. Asyik juga menyaksikan laba-laba ini berputar-putar menyelesaikan rumahnya dan setelah selesai dia menuggu mangsa yang terjebak di jaringnya. Untuk makanan laba-laba yang agak besar kami menangkap capung dan kami lempar ke jaring laba-laba. Begitu ada capung terjebak dan melekat di jaring, laba-laba itu menggulungnya dengan benang yang keluar dari tubuhnya.

Sehabis berburu laba-laba, masing-masing dari kami memiliki kebun binatang dengan koleksi khusus laba-laba. Itulah mainan baru kami. Kami saling mengunjungi untuk membandingkan koleksi kami dan berdiskusi tentang laba-laba. Tentu kakak-kakak senior koleksinya lebih banyak dan lebih beragam karena mereka berani dan bisa menangkap laba-laba yang bersarang di pohon tinggi. Sebagai anak Kotagede kami bersyukur karena masih bisa mengunjungi sepotong hutan yang waktu itu kami lihat lumayan lebat dan luas. Kami bisa mengunjungi sewaktu-waktu untuk kami jelajahi, untuk kami jadikan lokasi perang-perangan, dan untuk cari laba-labanya kami jadikan koleksi kebun binatang khusus kami.

Ketika di masa remaja kemudian kami mengaji tafsir Al-Qur’an dan pembacaan kami sampai di surat Al-‘Ankabut atau surat laba-laba, kami sudah tahu persis laba-laba dan kami memahami betul kenapa di dalam surat Al-‘Ankabut itu dinyatakan bahwa selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba. Pengenalan dengan fauna di hutan Mataram juga membuat kami paham mengapa dalam surat An-Nahl atau surat lebah disebutkan kalau Tuhan telah memberi wahyu kepada lebah untuk membuat sarangnya di pohon tinggi. Juga ada ayat tentang bagaimana dari tubuh lebah ada madu yang bisa diminum dan dijadikan obat atau untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Ketika di dalam surat An-Naml atau surat tentang semut, kami pun sudah terbiasa mengamati kehidupan semut, termasuk kebiasaan semut saling bersalaman ketika bertemu semut lain. Semut saja selalu membawa pesan damai, manusia tentu malu kalau dalam hidupnya tidak mau membawa dan menyampaikan pesan damai. Hari gini masak kalah sama semut.

Yogyakarta, 25 Agustus 2021

Lainnya