Membaca Surat dari Tuhan (31)

Menjelajah Hutan Mataram Islam

Reislamisasi berikutnya terjadi setelah tahun 1965. Berdiri beberapa masjid baru di Kotagede. Misalnya di Selakraman, kampungnya Darwis Khudori. Juga di kampung Tinalan, dekat rumahnya Pak Abdul Munir Mulkhan dan masjid di Rejowinangun dekat rumahnya Kang Harianto. Di pinggiran kota berdiri Masjid Mutihan, Masjid Karangturi dan Kemasan. Juga muncul banyak sekali musholla, melengkapi masjid dan langgar-langgar di atas. SMA Muhammadiyah berdiri. Grup pecinta alam menjadi populer, demikian juga kegiatan sastra dan teater. Pada saat orang-orang Kotagede yang ditahan di pulau Buru pulang kembali ke Kotagede mereka kaget karena anak mereka menjadi aktivis Muhammadiyah, aktivsi masjid dan sebagian besar langgar dan musholla itu telah berubah menjadi masjid sehingga di seluruh kota hadir sekitar lima puluh masjid. Pada saat ini NU mulai tampak kehadriannya di Kotagede dengan berdirinya Pondok Pesantren Nurul Ummah yang dilengkapi dengan pondok Pesantren Nurul Ummahatnya Kiai Abdul Muhaimin. Sanggar senirupa anak-anak muslim didirikan oleh ibu-ibu muda, anak didiknya sempat pameran di Senisono dan anak didiknya menjuarai lomba lukis internasional di Korea.

Reislamisasi berikutnya lagi terjadi pasca Reformasi atau pasca suksesi nasional. TPA TKA makin menjamur, bahkan ada TPA untuk lansia dan mereka juga dengan bahagia mengikuti wisuda lulus buku Iqro enam jilid. Sekolah saya yang dulu PGA berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, dan mendirikan pondok pesantren Faizul Muslimin di dekat lapangan Karang dan di dekat makam trah Bahuwinangunan. Di dekatnya berdiri sekolah Islam terpadu Muadz bin Jabal mengawali gelombang menjamurnya sekolah Islam terpadu di Yogyakarta. Untuk mengimbangi ini, SD Muhammadiyah Bodon Kotagede mendrikian pesantren atau sekolah sampai sore. Islam pun menjadi agama sehari-hari, dan budaya Islam bertahan pada seni budaya tradisional, anehnya, ekspresi budaya modern semacam sastra, teater dan seni rupa malahan surut di Kotagede. Ini pernah saya teliti dan saya tulis kemudian dimuat tulisan saya dimuat di Jurnal Pradnyaparamita Museum Nasional Jakarta.

Dan yang unik pasca reislamisasi kedua, yaitu masa kanak-kanak saya, ada lokasi atau wilayah bekas lokasi berdirinya kerajaan Mataram Islam yang terlantar dan berubah menjadi hutan kembali. Ada yang selamat, yang disebut siti sangar, yang diduga menjadi lokasi induk keraton Mataram Islam yang kemudian dijadikan Makam Keluarga atau sentana Dalem dari Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Namanya kompleks Makam Hasto Renggo yang petugas jaga piketnya terdiri regu abdi dalem dari Surakarta dan Yogyakata. Makam ini berdekatan sekali dengan peninggalan benda bersejarah berupa watu gilang dan watu canheng, di kampung Ndalem. Makam Hasto Renggo ini kabarnya terkrnal angker. Nenek saya dari ibu ketika pulang dari rumah anaknya di kampung Ledok melewati lorong bersebelahan dengan dinding makam pernah ditakut-takuti hantu berupa api menyala yang berjalaan-jalan di malam gelap. Nenek saya berteriak-teriak minta tolong, orang-orang berdatangan, api hantu atau hantu api itu pun menghilang. Tetapi berpuluh tahun kemudian ketika suatu malam menjelang tengah malam saya mengajak sekitar sepuluh penulis novel sejarah, termasuk Budi Sarjono dan Toto Sugiharto, menjelajah kompleks makam Pasareyan, kampung-kampung kuno dan masuk ke makam Hasto Renggo tidak ditemui atau ditakut-takuti hantu apa pun. Mungkin hantunya takut akan ditulis oleh teman-teman novelis sejarah ini.

Nah di hutan Mataram ini ada bagian yang agak jarang pohonnya, di sebelah utara yang dipenuhi dengan pohon sawo, rumput tinggi diselingi pohon lamtoro. Di bagian selatan makam Hasto Renggo yang cukup luas karena dikelilingi bekas benteng njero atau benteng baluwarti pohonnya sangat rapat dan lebat. Pohon-pohon tinggi di sela gerumbul dan semak perdu yang mirip diceritakan SH Mintareja ketika dalam novel panjang Nagasasra Sabukinten mengisahkan alas Mentaok, sinar matahari tersaring oleh lebatnya dedaunan.

Memang ada semacam jalan setapak menyilang di tengah hutan ini yang menjadi tempat kami menjelajah dengan sedikit was-was. Kalau dari ujung jalan dari arah utara sampai selatan dan dari arah barat sampai timur jaraknya sekitar lima ratus meter lebih. Kalau sendirian dijamin tidak berani masuk hutan ini. Oleh karena itu kami kala melakukan operasi penaklukkan hutan ini beramai-ramai dengan fokus pada tujuan tertentu. Pertama, kami fokus bermain perang-perangan di hutan ini. Hutan ini mirip studio alam tempat kami menggelar perang-perangan model anak-anak zaman dahulu. Kadang kami menggunakan senjata plintheng dengan karet pentil dan peluru potongan dari batang daun singkong di bagian yang besar atau dari batang daun waru. Ini peluru yang diperbolehkan oleh ‘perjanjian Jenewa’ versi anak-anak.

Yang dilarang dalam perang-perang dan dianggap melanggar ‘perjanjian Jenewa’ adalah mengunakan peluuru dari potongan sulur sirih, sirih rumahan maupun sirih liar dan menggunakan peluru dari pohon kayu jaranan. Atau kadang kami berperang-perangan dan sepakat menggunakan senapan atau senjata dari carang bambu dengan peluru bunga lamtoro atau bunga jambu yang disebut cengkaruk. Carang bambu diisi peluru pada dua ujungnya lalu dari belakang ada mekanisme pompa untuk meledakkan gas yang terjepit di antara dua peluru. Senapan carang ini akan meletus jika mekanisme pompa digerakkan ke depan, pelurunya melesat dalam jarak agak dekat terasa sakit kalau mengenai kulit. Lebih-lebih kalau cengkaruk bunga jambu air yang dipergunakan, karena lebih keras, atau kadang kami berperang-perangan dengan mengunakan peluru dari potongan batang pelepah daun pisang. Kami berperang dengan saling melempar potongan batang pelepah pisang ini.

Lainnya