Membaca Surat dari Tuhan (31)

Menjelajah Hutan Mataram Islam

Dalam roman sejarah berbahasa Jawa berjudul Rante Mas karangan Any Asmara yang ayah asli dari Mas Teguh Ranusasra Asmara dan ayah tiri mas Iman Budhi Santosa disebutkan adanya jaringan telik sandi Belanda yang menyusup ke kalangan pasukan pejuang Indonesia. Kalau tidak ada fakta empiris rasanya sangat sulit Pak Any Asmara bisa menggambarkan adegan yang sangat hidup dalam roman sejarah itu. Bagaimana jaringan telik sandi Belanda itu kemudian bisa digulung oleh seorang perwira tentara Republik yang bisa membaca dan membongkar rahasia huruf sandi yang dimiliki anggota Rante Mas yang bisa menyusup bahkan menyamar sebagai kekasih perwira ini sehingga perwira ini pun terpaksa menyelesaikan masalah ini dengan hukum militer di bawah jembatan Gondolayu.

Kembali ke reislamisasi Kotagede. Reislamisasi pasca pindahnya ibukota Mataram dari Kotagede ke Kerta dan Plered ini relatif berhasil mengembalikan wajah Kotagede menjadi berwajah santri. Kehidupan beragama yang kultural sekali digerakkan dari langgar-langgar. Ada pengajian anak-anak, shalat berjamaah orang tua, shalat jamaah tarawih, peringatan hari besar Islam, bahkan tradisi Islam Jawa juga digerakkan dari langgar ini. Ketika saya kecil saya pernah menyaksikan sebuah langgar dipergunakan untuk pusat kegiatan nyadran penduduk sekitarnya, saat menjelang datangnya bulan Ramadhan, melengkapi hadirnya sumber belik dan sendang yang dipergunakan untuk padusan anak-anak, remaja dan orang tua.

Ketika masih bersekolah di SD saya sering bermain-main di langgar endek di kampung Dolahan dan menjadikan langgar ini sebagai perpustakaan komik, termasuk komik wayang serial Panji Semirang yang menyebut nama punokawan dengan sebutan Bahasa Sunda. Ketika remaja dan menjelang pemuda saya juga sering bisa menikmati shalat di langgar dhuwur yang dibangun di dekat rumah dan pendapa milik Mbah Kaji Zubair, ayah Kang Charis Zubair yang dengan seluruh adik-adiknya saya kenal baik karena sama-sama aktif di pecinta alam. Kemudian serangkaian langgar kuno di pinggir kali Gajah Uwong dan langgar di pojok utara, di dalam kompleks SD Muhammadiyah Kleco pernah saya masuki ketika saya aktif di organisasi yang membina guru-guru pengajian anak-anak. Kemudian langgar Citran yang letaknya di dekat rumah aktivis PII Kang Aminudin Daim dan Syamsuddin Daim yang dua adiknya lagi menjadi aktivis pecinta alam dan sering menjadi tuan rumah. Langgar Citran ini unik dan angker karena di dekat tempat wudlu dipergunakan untuk menyimpan keranda jenazah. Kami tenang-tenang saja rapat di situ dan sekali-sekali kalau mengantuk sehabis rapat tertidur di situ dan tidak menemukan atau ditemui hal-hal yang menakutkan.

Harus diakui, meski reislamisasi kemudian dilakukan oleh generasi santri demi generasi, pada saat saya kecil masih ada sisa-sisa bekas deislamisasi itu. Yaitu masih banyak tetangga yang ketika anaknya lahir, mereka memasang aneka macam sesaji yang rumit, dengan benang mengelilingi rumah, dengan sesaji dan bancakan brokohan dan puputan, dilanjut bancakan wetonan serta dengan aneka miniatur senjata pusaka dibuat dari daun nanas melindungi ari-ari bayi yang diberi lampu senthir. Lalu, uniknya, dilengkapi dengan pertunjukan semacam kasidah Nabi berbahasa Jawa semalam suntuk. Riwayat hidup Nabi dan empat puluh sifat mulia Nabi disampaikan dengan lantunan lagu shalawatan kuno, diselinggi suara narator untuk menjelaskan perpindahan episode hidup Nabi yang tengah diceritakan. Dan untuk menjaga stamina pemain yang memukul terbang atau rebana juga para pelantun lagu slawatan ini, selain mereka dijamu dengan makan malam, penganan aneka macam termasuk lemper yang mengenyangkan, minuman panas, di depan tempat duduk mereka disajikan bawang merah yang sudah dikupas dan kencur yang juga sudah dibersihkan. Masing-masing orang disuguhi sebanyak satu piring penuh. Dengan ajian nyeplus kencur dan brambang ini maka suara mereka semalam suntuk tetap bisa bertahan sampai kalau mereka harus ngelik atau mengeluarkan suara setinggu dua atau tiga oktaf mereka masih bisa. Kalau kita mendengar mereka ngelik bersahut-sahutan maka kita seperti memasuki alam lain dengan musik dan lagu dari dunia lain.

Ternyata setelah Perang Diponegoro, Kotagede masih mengalami proses reislamisasi yang signifikan tiga kali lagi. Yaitu ketika awal abad kedua puluh terjadi reislamisasi yang dilakukan oleh ulama dan muballigh Muhammaadiyah yang selain memanfaatkan langgar sepuh dan langgar enem juga membangun masjid baru bernama Masjid Perak, yang salah satu kiai besar yang mengadakan pengajian rutin sehabis Asar adalah Kiai Amir. Kiai Amir, menurut riwayat, punya tiga murid yang dekat hubungannya yang dikenal dengan tiga H. Humam, Hisyam dan Hasyim. Humam atau Kaji Humam adalah ayah dari KH As’ad Humam penemu metode Iqra dalam belajar huruf al-Qur’an, Hisyam atau Kaji Hisyam adalah pengusaha batik dan pemilik toko batik di Malioboro, dia leluhur dari Pak Heri Zudianto yang pernah dua periode menjadi Walikota Yogya. Sedang Hasyim adalah kakek saya yang memilih menjadi kiai baris pendem dengan menjadi guru ngaji di langgar-langgar kampung atau menjadi guru privat agama Islam para juragan yang merasa Islamnya belum tebal. Sedang rumah Kiai Amir sendiri pernah ditempati oleh Pak Ahmad Syafii Maarif ketika masih menjadi pengantin baru. Kiai Amir adalah ayah dari Hazim Amir yang kemudian dikenal sebagai budayawan di Malang. Kakak Hazim Amir bernama Jakfar Amir dikenal sebagi pengarang buku khutbah yang praktis dipergunakan para khatib di kampung dan desa. Saudara Hazim Amir yang lain, Kiai Wardan Amir, menulis buku pelajaran agama untuk murid sekolah.

Muhammadiyah Kotagede juga mendirikan sekolah mulai dari TK ABA, dua Sekolah Dasar, salah satunya, SD Muhammadiyah Kleco, pernah menjadi tempat belajar Pak AR Fakhruddin. Saat itu AR Fahruddin kecil ikut mbakyunya di kampung Joyopranan. Di SD Muhammadiyah ini seorang Abdul Muhaimin kecil dan Achmad Charis kecil pernah berada di kelas yang sama. SD yang satunya, SD Muhammadiyah Bodon.adalah tempat saya bersekolah. Di sekolah ini dulu seorang Habib Chirzin kecil bersekolah, ikut Pandu HW sebelum melanjutkan ke Pondok Pesantren Gontor. Bahkan seluruh saudara kang Habib Chirzin (Bani Chirzin) sekolah dasarnya di sekolah ini. Alumni sekolah ini ada yang di kemudian hari menjadi perwira tinggi polisi, ekonom perempuan terkenal, pelukis dan wartawan seperti saya.

Muhammdiyah Kotagede juga mendirikan SKKP, kemudian mendirikan SMP, dilanjut SMA dan SD-nya ditambah dengan SD Muhammadiyah Purbayan. Di samping itu, untuk pendidikan jasmani dan mental, Muhammadiyah Kotagede mendrikan Tapak Suci, Perguruan Senopati, drum band, grup angklung mengenalkan seni qiroah. Untuk menjaga kesehatan masyarakat, sebelum di Kotagede ada Puskesmas, Muhammadiyah telah mendirikan Balai Pengobatan yang kemudian menjadi Rumah Bersalin PKU Muhammadiyah dan berkembang lagi menjadi RS PKU Muhammadiyah Kotagede. Karena suasana di rumah sakit ini nyaman dan ongkosnya tidak menakutkan maka banyak sastrawan muda seperti Ismet, Joni dan Hamdy Salad yang ketika isteri mereka mau melahirkan datang ke PKU Muhammadiyah Kotagede.

Adegan prempuan melahirkan anak mungil di rumah sakit ini pernah saya masukkan dalam novel pertama saya berjudul Hari hari Bercahaya yang diterbitkan oleh penerbit Navila. Dalam adegan merekam suasana Kotagede tahun 1970-an itu saya menulis tentang bagaimana dulu tiap tengah malam Masjid Sulthonain Nitikan selalu memukul bedug dengan irama dara muluk dan suara bedug itu terdengar sampai di Kotagede. Melengkapi suasana malam Kotagede lama yang dihias dengan suara angkup, suara rijal, suara kereta api yang masuk Kotagede lewat aliran sungai Gajah Uwong dan kalau dinihari terdengar Mbah Saleh mengaji surat Yasin lewat pengeras suara di Masjid Perak. Suara Mbah Saleh berat, lagu ngajinya enak sehingga bai pendengar yang terbangun dinihari dengan setengah menantuk bisa menikmati. Tahu-tahu sudar Yasin habis dan terdengarlah kentongan Masjid Perak dipukul diikuti adzan Subuh. Shalat jamaah Subuh biasanya diimami oleh Mbah Dulah Qomari yang suka membaca surat Al Mukminun yang kalau sampai pada ujung ayat yang berbunyi fiiha kholiduun, anak-anak menirukan langgam lagunya lalu tertawa cekikikan. Sehabis Subuh, ganti Mbah Chirzin berceramah dengan suara menggelora mirip Bung Karno. Pagi di Kotagede menjadi terasa hangat dan bersemangat oleh ceramah Mbah Chirzin.

Lainnya