Membaca Surat dari Tuhan (31)

Menjelajah Hutan Mataram Islam

Photo by aliffian arief on Unsplash

Setelah ibukota kerajaan Mataram Islam pindah dari Kotagede ke Kerta lalu ke Plered maka Kotagede menjadi berubah. Ketika para ulama, jamaah, dan kiai ikut pindah meninggalkan Kotagede, maka kota tua ini mengalami semacam kekosongan agama lalu mengalami apa yang disebut deislamisasi yang akut. Pelan-pelan tetapi pasti ajaran lama berkembang menguasai masyarakat. Khususnya masyarakat bawah. Lembaga resmi keagamaan memang masih ada tetapi fungsinya kurang dominan. Misalnya lembaga pengulon atau kepenghuluan lama yang sejak awal kerajaan dipegang ulama dari Kudus. Penghulu dan keluarganya tinggal di kampung Kudusan, bukan Kauman karena di Kotagede tidak ada Kauman. Kudusan inilah yang menjadi Kaumannya Kotagede. Urusan upacara keagamaan secara tradisional dikendalikan dari Pengulon lama ini. Lembaga pengulon baru yang didirikan di Kerta dan Pleret lebih mengutamakan ulama dari Bayat, Wonokromo, dan Jatinom, bukan dari Kudus lagi. Semetata ulama Kadilangu lebih memilih menemani petani lembah gunung dan nelayan pantai utara Jawa.

Untuk mengurusi makam raja-raja yang disebut Pasareyan Kotagede ditugaskan dua klan bangsawan. Yaitu klan Amat Sopingi dan Amat Mustahal. Mereka kemudian juga mengurusi pajak yang dikutip dari para pengusaha dan pedagang besar Kotagede yang sebagian besar tidak ikut pindah ke Kerta dan Plered. Ditambah dengan hadirnya wong Kalang, maka Kotagede tetap berdenyut menjadi kota ekonomi dengan kelas pedagang dan pengusaha sebagai penggeraknya. Para pedagang, termasuk pedagang berlian dan intan perhiasan tinggal di kampung Boharen, tempat tinggal seorang pedagang bernama Buhari dan di kampung Dolahan, tempat tinggal seorang pedagang bernama Abdullah.

Para pengusaha dan pedagang ini yang kemudian sadar akan pentingnya kehidupan perlu dipayungi dengan nilai nilai agama kemudian mengirim anak-anaknya ke desa pesantren bernama Wonokromo, Tremas, dan kemudian hari ke Mesir. Wonokromo disebut desa peantren karena di desa ini berdiri banyak pesantren, satu di antaranya adalah pesantren di dusun Jejeran, tempat guru Sultan Agung. Juga guru para bangsawan Kraton Mataram Islam. Di Wonokromo ini berkembang tarekat Sattariyah, tempat Pangeran Diponegoro muda berguru. Pewaris tarekat Sattariyah ini menurut riwayat kemudian mendirikan pesantren atau perguruan di Girilaya tempat berkembangnya batik tulis yang eksotik sampai hari ini.

Proses deislamisai Kotagede ini kemudian disadari oleh para santri yang pulang dari Wonokromo. Mereka sepakat dan kompak melakukan reislamisasi Kotagede dengan strategi merembes dari arah selatan timur di desa Mutihan dan arah selatan tengah di desa Joyopranan dan arah selatan barat kampung Ngledok atau Ledok. Santri muda yang kemudian menjadi kiai kampung ini bergerak dengan memanfaatkan langgar sepuh yang sudah ada sejak Kotagede masih menjadi ibukota Mataram Islam. Misalnya Langgar Dalem yang bangunannya masih menggunakan batu bata putih dan kiai yang menjadi imam langgar ini dikenal sebagai kiai sakti, punya ilmu meringankan tubuh sampai bisa tidur nyenyak di atas pelepah daun pisang, tidak jatuh.

Lalu ada langgar Joyopranan peninggalam Pangeran Joyoprono, pelarian dari Mojopahit yang menjadi murid Sunan Kalijaga yang menjadi penghuni awal hutan Mentaok sebelum kedatangan Ki Ageng Pemanahan dan keluarganya. Juga ada langgar Ledok yang menurut legenda imamnya bernama Mbah Taram atau Mbah Mataram yang tubuhnya sangat tinggi sundul mihrab sehingga kalau menjadi imam dia mundur ke belakang. Di kampung ini kalau ada orang atau anak bertubuh tinggi sekali dijuluki sebagai keturunan Mbah Taram. Ada paman saya yang kemudian merantau ke Cirebon tubuhnya tinggi besar. Ayah saya yang juga bertubuh tinggi saja kalau berdiri di dekat paman saya tingginya hanya sepundak paman saya. Dia pun dijuluki sebagai keturunan Mbah Taram.

Diduga, waktu itu ada langgar sepuh di kampung Ndarakan, yang di situ pernah ada Ndalem Kepatihan milik Patih Mandaraka alias Ki Juru Mertani. Di langgar ini menurut kisah para sesepuh kota, Ki Juru Mertani sehabis memimpin shalat jamaah Asar mengadakan pengajian dialogis atau semacam sarasehan keagamaan dan budaya dengan jamaah. Yang dibicarakan macam-macam. Ki Juru Mertani mbabar atau biasanya membahas dan menyampaikan kabar dan ilmu tentang keistimewaan para wali. Ki Juru sangat ahli dalam mencondro atau mengidentifikasi karakter terbaik dari para wali sesuai dengan bidang keahliannya.

Proses reislamisasi Kotagede ini mencapai momentumnya ketika Perang Diponegoro selesai. Kotagede selamat selama perang itu karena Pangeran Diponegoro yang menghormati para leluhur sengaja tidak masuk kota dan menjadikannya sebagai markas perlawanan. Belanda pun tidak mengobrak-abrik Kotagede sebagaimana Belanda mengobrak-abrik Plered karena pangeran Diponegoro pernah menjadikan Plered sebagai markas pasukan perangnya. Di Plered pernah terjadi pertempuran sengit antara pasukan pejuang Pangeran Diponegoro melawan pasukan penjajah Belanda. Sementara itu Kotagede damai-amai saja.

Pasca Perang Diponegoro terjadi diaspora besar-besaran para pengikut Pangeran Diponegoro dan masyarakat santri Jawa. Para veteran pejuang dalam perang Diponegoro saling berpindah tempat atau melakukan migrasi dengan menyamar, mengganti nama dan busana, juga berganti pekerjaan. Mereka muncul di mana-mana sebagai warga baru yang membaur dengan warga lama sehingga menyulitkan mata-mata Belanda untuk melacaknya. Mereka yang kemudian sukses berdagang misalnya atau masih membawa sisa bekal perang berupa barang berharga kemudian membangun rumah baru dengan memasang kode tanaman sebagai tanda identitas pengikut Diponegoro. Nenek buyut dan canggah saya dari jalur ibunya ibu termasuk generasi diaspora pasca Prang Diponegoro. Mereka datang dari Kulonprogo dan di Kotagede mendirikan perusahaan batik yang besar dan sukses.

Lainnya