Membaca Surat dari Tuhan (31)

Menjelajah Hutan Mataram Islam

Ada di antara kaum diasporan ini yang masuk dari arah Purworejo dan Kulonprogo ke Karangkajen baru kemudian masuk Kotagede lewat pernikahan juga ada. Ini jalur keluarga dari ibunya ayah. Sedang jalur keluarga dari jalur ayahnya ayah sampai generasi kelima di atas saya terlacak sudah hadir di Kotagede sejak lama. Makam mereka ada dan berdekatan di sebuah makam di Ledok dan disebut Makam Ledok Kotagede. Ayah mengenalkan nama dan posisi mereka di tengah kuburan ini biasanya dilakukan saat berziarah di malam Jum’at tengah malam atau sehabis Subuh ketika hari masih gelap. Dengan lampu senter ayah menerangi nisan-nisan tua itu sambil menyebut nama-nama mereka. Nama orang yang populer dipergunakan pada zaman itu Amat (Ahmad) dan Kasan (Hasan). Nama-nama dan jaringan keluarga pemilik nama ini sampai hari ini masih terus saya klarifikasi dan konfirmasi dari sumber data yang masih hidup.

Kotagede memang mengalami gelombang migrasi besar-besaran pasca Perang Diponegoro. Para santri yang dulu ikut berperang gerilya pulang kampung membangun kampungnya sendiri dengan mendirikan langgar atau surau enem atau langgar muda yang jumlahnya cukup banyak dan lokasinya melingkar melindungi kota. Di tengah kota yang dulu belum ada langgar, dibangunlah langgar baru baik berupa langgar endhek (langar rendah) atau langgar dhuwur atau langgar tinggi yang dilihat dari lokasinya juga berfungsi sebagai semacam menara pengawas yang dari atas langgar ini orang bisa mengawasi lorong kampung dan rumah-rumah di bawahnya. Rupanya pengalaman perang Diponegoro membuat warga Kotagede baru membangun langgar dhuwur dengan konstruksi seperti ini. Ternyata di kemudian hari, dalam perang mempertahankan kemerdekaan di tahun 1948 sampai 1949 langgar-langgar yang ada di Kotagede menjadi pos tempat berkumpulnya para gerilyawan pejuang kemerdekaan.

Dan anehnya, kalau pada masa perang Diponegoro Kotagede aman dan damai, tetapi pada era agresi kedua Belanda ini, mereka bisa mendeteksi kalau Kotagede menjadi sarang gerilya dan pasukan TNI sehigga untuk membatasi mobilitas pejuang gerilyawan Republik Indonesia, pasukan Belanda mendirikan dua markas di Kotagede. Pertama di Tegalgendu, di rumah kuno milik orang Kalang. Markas kedua mereka dirikan di kampung Cokroyudan dengan korban beberapa rumah dirobohkan dengan tank. Saya pernah bertanya-tanya kepada angin, apakah generasi telik sandi Belanda keturunan telik sandi Belanda yang pernah beroperasi secara efektif menggagalkan penyerbuan pasukan Sultan Agung ke Batavia, kemudian beroperasi menyelidiki kelemahan Trunojoyo, membuat operasi intelijen sehingga Mataram Islam terus mengalami kekacauan dan pembelahan kekuasaan kerajaan sejak dari geger Pecinan di Kartasura, geger Surakarta yang membuat Kasunanan Surakarta harus berbagi kekuasaan dan wilayah kerajaan dengan Kasultanan Yogyakarta dan Mangkunegara, dan Yogyakarta harus berbagi kekuasaan dan wilayah kerajaan dengan Pakualaman, Geger Sepoi yang kemudian anak keturunan telik sandi ini benarkah juga direkrut untuk melakukan operasi intelijen melemahkan perlawanan Pangeran Diponegoro dengan menggerogoti kesetiaan sahabat dan penasihatnya dan kemudian memburu pengikut Pangeran Diponegoro yang diaspora dan ikut bersembunyi di Kotagede?

Mengapa Belanda bisa tahu kalau Kotagede adalah markas rahasia para gerilayawan padahal rumah-rumahnya yang tertutup tembok dan terhubung oleh lorong yang juga rahasia? Mengapa Belanda harus mendirikan dua titik markas untuk menumpulkan mobilitas para gerilayawan Republik? Mengapa rumah kakek saya di kampung Ledok sering digedor-gedor oleh patroli Belanda karena tiga lelaki anak kakek saya semua menjadi gerilyawan? Juga mengapa rumah nenek buyut saya di kampung Prenggan juga pintu gerbangnya sering digedor-gedor patroli Belanda karena adik nenek saya yang menjadi anggota pasukan khusus dan sering mengadakan rapat rahasia di rumah itu? Dari mana mereka tahu semua itu, padahal waktu itu semua rumah di Kotagede sama-sama tertutupnya? Saya menduga kalau telik sandi Belanda yang pernah aktif di zaman Perang Diponegoro kemudian non aktif, tidur atau tiarap sambil migrasi di Kotagede mengalami mutasi dan regenerasi terus-menerus sehingga sewaktu waktu bisa dibangunkan lagi seperti saat Belanda akan menjajah kembali Indonesia. Sangat mungkin pola Kotagede ini juga terjadi di mana-mana.

Lainnya