Membaca Surat dari Tuhan (32)

Hari-Hari Jakarta Satu

Terakhir sebelum saya berangkat atau diberangkatkan ke Jakarta ini saya ikut kegiatan komunitas cah arsitek gengnya Pak Fanan, Romo Mangun, dan Darwis Khudori terlibat dalam semacam penelitian rumah-rumah kuno dan pengelompokan rumah kuno di Kotagede, bersama sarjana arstitektur dari Jepang, Doktor Konihiro. Doktor ini yang setelah menjadi profesor pernah datang kembali ke Kotagede pasca krisis ekonomi dan dihibur di pendapa rumah Mbah Zubair dengan keroncong yang nyamleng sampai dia bilang kalau suasana malam itu betul-betul mirip surga, sangat jauh berbeda dengan malam-malam industri di Jepang sana yang membuat orang sana mabuk kerja dan mabuk minuman alkohol.

Saya waktu itu, setelah kegiatan penelitian rumah kuno Kotagde, ditawari oleh Gengnya Romo Mangunwijaya untuk ikut kegiatan pengembangan masyarakat di lembah Code dekat jembatan Gondolayu. Saya menolak tawaran itu karena keluarga besar saya sudah menyiapkan jadwal keberangkatan saya, lengkap dengan tim pendamping di kereta dan di Jakarta, dan tempat penampungan saya di Jakarta, dan kemungkinan pekerjaan yang siap menanti saya. Di kemudian hari saya sempat masuk kampung di bawah jembatan Gondolayu untuk menyaksikan pentas, pameran lukisan, dan baca puisi yang dilakukan oleh mantan aktivis Serikat Pengamen Indonesia.

Saya, sebelum berangkat ke Jakarta ini sungguh tidak tahu kapan keluarga besar saya rembugan atau rapat, tetapi yang jelas mereka bertindak diam-diam dan rapi dalam membagi tugas. Tahu-tahu saya difetakompli berangkat pada suatu hari di tahun 1978, mencari hari tenang setelah demonstrasi mahasiswa mereda. Saya mencari surat jalan di Kelurahan dan Kecamatan agar kalau sampai Jakarta tidak mengalami hambatan. Dengan membawa surat jalan itu saya merasa aman.

“Jadi wong Kotagede itu harus mau merantau,” kata Ayah sambil menceritakan pengalamannya ketika remaja merantau di Wlingi, sebuah daerah dingin di Blitar, dekat aliran Sungai Brantas yang mengalir deras. Dan Mbah Taslim, ayah ibu saya juga pernah merantau ke kota Solo, membuka usaha kelirmaker atau tailor di sana. Ibu saya sering dengan bangga menceritakan perjuangan ayahnya di kota Solo itu.

Mbah Lik dari Ayah bernama Mbah Zainuddin atau Mbah Nudin merantau ke Cirebon dan beranak-pinak di sana dengan setahun sekali mudik ke Kotagede membawa oleh-oleh ikan kering yang gurih dan besar-besar ditambah kerupuk udang. Saya cukup kenal dengan anak-anak Mbah Nudin, antara lain bernama Lik Soffan yang kunjungan terakhirnya di Kotagede tahun waktu sama-sama masih sekolah SD. Ketika LSBO PP Muhammadiyah mengadakan Pekan Seni Mahasiswa Muhammadiyah se-Indonesia di Cirebon beberapa tahun lalu, saya menjadi tim juri, dan saya sempatkan berkomunikasi dengan Lik Soffan, dan saya sempat reuni keluarga. Saya dijemput di depan hotel, membonceng motor memasuki pedalaman Cirebon. Dengan bangga pensiunan Kepala sebuah kantor penting ini mengenalkan saya kepada tetangga dan saudara sebagai saudara yang sudah empat puluh tahun lebih tidak ketemu. Kami ngobrol di sebuah perumahan yang sederhana, bertukar kabar keluarga.

Di tempat Mbah Nudin pula, salah satu paman saya dari ayah ditampung, merantau di Cirebon dan bekerja sebagai tukang reparasi jam di Pasar Balong Cirebon. Menikah di Cirebon dengan perempuan asal Bantul dan mempunyai banyak anak. Guru ngaji saya, Kang Wachid Buchori waktu itu merantau ke Irian Barat, di Sorong, menjadi pegawai Departemen Penerangan di sana. Dia menjadi mentor saya dalam menulis surat secara tertulis. Dan teman sekolah saya, teman sekolah guru agama juga banyak yang merantau. Ada yang ke Lampung, ada yang ke pulau Lombok, Selong. Teman yang di Lampung bernama Ruslan sering saling berkirim kabar, dia pernah mengirim surat disertai foto gagah sebagai Pembina Pramuka di sana.

Bani Yasir kami muncul diawali dengan orang Kulonprogo yang merantau ke Kotagede dan anak cucu Mbah Yasir ini bertebaran merantau ke Magelang, Wonosobo, Surabaya, Banyuwangi, atau ke kota dekat dalam lingkup di DIY seperti di Wonosari, Sleman, dan di kampung-kampung di dalam kota Yogyakarta. Jadi dengan adanya fakta-fakta ini saya tidak bisa menolak untuk diJakartakan oleh keluarga besar. Apalagi tahun-tahun itu bagi saya boleh disebut sebagai tahun patah hati yang sangat dalam. Merantau diharapkan bisa menjadi hiburan penyembuh luka di hati.

Mbah Zen dan Lik Jazuri yang sama-sama duduk di kereta api, mungkin tidak tahu kalau saya sedang terluka di hati dan mengulang-ulang di dalam hati kata mutiara dalam Bahasa Arab yang disebut sebagai mahfudlat: Safir! Tajid ‘iwandlon ‘amman tufariquh! Merantaulah! Engkau akan mendapat ganti apa-apa (atau siapa) yang telah kau tinggalkan atau yang telah meninggalkanmu!

Dengan mengulang-ulang bunyi mahfudlat itu motivasi dan optimisme saya terdongkrak. Waktu saya makan malam dengan nasi telor separuh yang dibeli di Stasiun Cirebon saya masih mengulang-ulang mahfudlat menjadi mirip mantera pemompa semangat hidup. Akhirnya saya tertidur di kereta api walau awalnya saya sulit tidur karena diteror oleh bunyi kereta yang begoyang-goyang gerbongnya dan hilir mudiknya para pedagang asongan di dalam gerbong kereta api.

Saya terbangun, atau mungkin dibangunkan Mbah Zen saat kereta api memasuki Bekasi dan kereta mulai memelankan jalannya. Saya lihat banyak sekali lampu minyak menyala di kiri kanan kereta api. Lampu itu bergoyang-goyang ditiup angin, terletak di bawah gerbong. “Apa itu Mbah?,” tanya saya kepada Mbah Zen.

“Itu rumah-rumah kardus milik para gelandangan yang gagal mencari pekerjaan yang jelas,” jawab Mbah Zen kalem.

Lainnya