Membaca Surat dari Tuhan (33)

Hari-Hari Jakarta Dua

Photo by Tom Fisk from Pexels

Jadwal latihan drama ditambah. Waktu latihan diperpanjang. Dengan berlatih seperti ini kami menjadi saling mengenal. Ada anggota sanggar yang asli warga Jakarta. Artinya dia lahir di Jakarta dan orangtuanya juga lahir di Jakarta. Jumlahnya cuma dua orang. Kebanyakan dari anggota sanggar adalah para perantau atau yang orang tuanya perantau. Kak Bambang Soeparjo sendiri aslinya Temanggung. Lalu ada teman berasal dari Sukabumi, Kebumen. Ada anak perempuan, orangtuanya sama-sama dari Minang. Dan saya berasal dari Kotagede, Yogyakarta.

Untuk mengakrabkan anggota sanggar, latihan diselingi dengan pesta lotis pedas. Semua bisa ketawa mentertawakan teman yang kepedasan. Yang tidak terbiasa makan pedas jadi ketahuan. Juga tampak anak yang menyukai buah tertentu. Kelihatan siapa yang menyukai buah pepaya, kedondong, mangga, besusu, jambu air dan siapa pula yang lebih merasa aman dengan menggigit mentimun. Saya sendiri semua buah suka dengan sambal pedas rata-rata. Maksudnya. Saya cocol buah itu ke sambal tidak terlalu berlebihan sambalnya. Saya yang semula dijuluki si pendiam pun, dengan makan lotis pedas diimbangi kerupuk sebagai pengurang pedas mulai bisa omong banyak. Iastilah dari Kak Bambang, saya dianggap sebagai sudah mulai bisa berkicau. Enak saja dia menyebut begitu, seolah-olah saya burung piaraan di sangkar burung orang kaya. Dan waktu makan lotis, saya jadi teringat pada ayat tentang bagaimana Tuhan menciptakan buah-buhan dan sayuran dengan warna berbeda dengan kelezatan berbeda pula. Tuhan juga menciptakan ikan dan binatang berjenis-jenis banyak, juga warna-warna binatang dan lezat rasa yang berbeda-beda.

Selain semula saya dianggap pendiam, orang Yogya yang oleh anak Jakarta disebut berasal dari Jawa dianggap suka mengalah dan penakut. Dalam obrolan dan saling mengejek saya lebih banyak menerima ejekan. Dan ini membuat beberapa anak kurang ajar. Mereka, di sela latihan mengajak bercanda tetapi keterlaluan. Di kantor Kak Bambang ada kertas kosong, lem, dan spidol. Ada yang membuat tulisan Saya Dungu, lalu diberi lem dan diam-diam ditempelkan ke punggung saya. Semua mentertawakan saya. Pada mulanya saya tidak tahu apa yang mereka perbuat. Lalu ada anak yang merasa paling jagoan mau menempelkan tulisan yang lebih ngeri lagi. Saya diam saja ketika dia mendekati saya lalu diam-diam mau menempelkan kertas kedua. Begitu dia menyentuh punggung saya, saya bergerak cepat melancarkan jurus siku ganda menyodok dada dia dan perut. Saya pernah mendengar waktu sekolah dasar ada pelatih Tapak Suci bilang bahwa yang penting dalam belajar beladiri adalah bergerak tepat, cepat, dan kuat. Waktu sekolah dasar memang anak-anak Muhammadiyah kotaku dilatih satu dua jurus Tapak Suci, untuk kemudian waktu pawai Nasakom anak-anak sekolah dasar ini disuruh memakai seragam perguruan. Tujuannya, menakut-nakuti anak komunis yang juga ikut pawai dan mereka mengenakan seragam hitam-hitam. Kami yang memakai seragam merah-merah dengan setrip kuning merasa percaya diri ikut pawai bersama mereka mengelilingi jalan utama Kotagede. Jalan Mondorakan dan Jalan Kemasan, terutama.

Kembali ke latihan drama.

Begitu kena sodok siku saya, anak yang merasa jagoan itu mengeluh kesakitan. Saya baru tahu bertahun-tahun kemudian kalau jurus semacam itu di Tapak Suci disebut jurus gempuran. Akibat kena jurus gempuran ini dia sesak nafas hampir pingsan. Dia marah sekali karena bisa dikalahkan dalam satu gebrakan. Akan tetapi dia gentar untuk beradu jurus dengan saya. Saya hanya bersiaga dan tegang bukan main. Sebab setelah melewati masa kanak-kanak saya tidak bernah berkelahi lagi. Dalam keadaan tegang saya coba mengingat-ingat semua jurus pencak yang saya pelajari, termasuk jurus lucu. Untung sebelum ke Jakarta saya pernah berlatih karate walau hanya beberapa bulan. Di halaman gedug PP Muhammadiyah, di bawah pohon belimbing dan jaranan ini diam-diam terbersit di hati, saya ingin sekali-sekali mempraktikkan jurus menyerang model karate. Ee, ternyata jagoan itu malah mundur. Beberapa hari kemudian membisiki saya bahwa dadanya masih sakit.

“Kamu punya mainan ya, Mus?,” katanya.

“Ya, di Kotaku setiap orang yang mau merantau dilengkapi bekal oleh orangtuanya,” jawabku diplomatis.

Sejak itu pandangan teman-teman Jakarta terhadap Cah Yogya berubah. Cah Yogya dianggap tenang-tenang berbahaya. Tetapi rupa-rupanya ada anak yang diam-diam tidak terima dengan kekalahan jagoan asli kelahiran Jakarta ini. Waktu, kami sudah sampai di Surabaya dan menginap di gedung SD Muhammadiyah Pucang Anom, suatu malam ada yang berdandan seperti pocong, lengkap dengan kapas di wajahnya menakut-nakuti saya dengan suaranya yang khas hantu. Saya terbangun dan secara refleks hantu pocong itu saya serang dengan pukulan atas, atau pukulan lurus atas yang mirip jurus Shorinji Kempo. Tepat mengenai keningnya. Hantu itu oleng dan saya berteriak bahwa saya tidak takut hantu apa pun karena sejak kecil sudah dilatih Ayah uji nyali berziarah di tengah malam Jumat ke makam leluhur. Saya bersiaga dan siap menghadapi siapa pun yang menyerang saya. Kak Bambang dengan suaranya yang dalam melerai kami dan saya jadi malu sendiri karena berlagak jagoan di kota Pahlawan. Saya sungguh malu karena tiba-tiba merasa menjadi anak kecil yang suka berkelahi.

Lainnya