Membaca Surat dari Tuhan (32)

Hari-Hari Jakarta Satu

Kalau ke atas, ke arah Stasiun Gambir akan sampai ke Gedung Kuno dan megah yang sekarang dipergunakan Departemen Pertahanan, ada barisan penjual jasa fotocopy dan lichdrug. Di depannya ada Patung Pak Tani yang terkenal. Saya selama mengaso di Menteng Raya 62 ini dan belum dipertemukan dengan orang yang menjadi induk semang saya, memang suka hilir mudik ke sana-kemari mengamati hal-hal yang menarik. Termasuk mencari penyebab kenapa dari jalan Meteng Raya senantiasa terdengar suara gemuruh sepanjang hari. Ternyata ini berasal dari lajunya kendaraan mobil yang nyaris tiada putusnya, dari dua arah. Kalau dari arah sini agak sepi karena kendaraan dihentikan oleh lampu merah sebelah sana, begitu menyeberang sampai di tengah harus menunggu karena dari seberang, dari arah berlawanan kendaraan menderu. Kadang suara gemuruh ini diselingi bunyi sirine meraung-raung dari kendaraan pengawal orang penting yang lewat menuju tempat yang amat penting.

“Ini Jakarta Pusat, Mus,” kata Kak Bambang Soeparjo hari itu.

Setelah urusan dengan barang kerajinannya selesai, saya diajak Mbah Zen dan Lik Jazuri, membawa tas berisi pakaian dan buku, menuju Jakarta Selatan. Menuju perumahan di komplek Departemen Agama, di jalan RS Fatmawati yang dikenal waktu itu, sebagai kawasan Timung. Kami masuk gang, masuk rumah yang lumayan bagus. Rumah Pak Zubaidi Bajuri. Saya pun tinggal di rumah ini dengan fokus tujuan ke Jakarta, yaitu bekerja. “Jakarta ini kota keras. Untuk bisa makan harus bekerja. Orang baru berhak memakan sebutir nasi setelah dia kerja lebih dahulu,” katanya ramah dan tegas dan membuat saya gentar.

Saya tidur di sebuah kamar, bersama orang Yogya yang bekerja di kantor PP Muhammadiyah di Jakarta, dia orang Berbah dan pernah menjadi menantu keluarga Mbah Bajuri. Kang Sokiran namanya. Orangnya pekerja keras. Di kamar itu, saya tidur di lantai bawah dengan kasur. Di dekat rak buku raksasa yang memuat sekitar tiga ribu buku. Ini yang membuat saya gembira dan bahagia. Meski pekerjaan belum jelas, tetapi bahan bacaan sangat jelas. Saya kemudian tahu bahwa Pak Zubaidi Bajuri sebelum diangkat menjadi Direktur Penyelenggara Haji pernah menjabat sebagai Kepala Litbang Depag. Pantas saja koleksi buku dalam berbagai bahasa melimpah. Di ruang tamu, buku-buku besar tertata rapi. Lalu ada sudut di kamar tengah diisi dengan ratusan kaset yang isinya adalah rekaman resmi musik klasik dari karya komponis seluruh dunia. Karya orkesrtra dari Mozart, Bach, Beethoven, Vivaldi, Chopin, Wagner, Schubert, Brahms, Tchaikovsky. Wow, betul-betul sebuah surga informasi dan surga musik tersedia di rumah ini.

Suatu hari saya dimintai menghubungi seseorang, penting, di rumahnya, di Kebayoran Baru, untuk menyampaikan surat lamaran saya bekerja di gedung Menteng Raya itu. Saya menemui bapak itu di rumahnya. Setelah basa-basi saya menyampaikan maksud saya untuk melamar pekerjaan sambil menyerahkan stop map berisi fotocopy ijazah saya dan keterangan lainnya. Tanpa basa-basi, setelah membaca berkas surat-surat saya, lamaran saya ditolak. Waduh! Dalam perjalanan pulang dari rumah bapak itu ke perumahan Departemen Agama saya ingat, ini kemalangan saya kedua. Dulu saya pernah diminta seseorang agar mendatangi rumah pimpinan Muhammadiyah Daerah untuk melamar kerja sebagai staf Sekretariat. Di rumah itu, bapak yang menemui saya bilang kalau kantornya belum membuka lowongan kerja baru. Alias lamaran kerja saya di tolak. Ini membuat saya trauma dan saya memutuskan hari itu untuk tidak akan pernah lagi melamar pekerjaan di manapun. Ketika saya masuk kerja di harian Masa Kini, bukan saya yang melamar, tetapi pihak manajemen koran yang melamar saya dengan mengirim surat agar saya bersedia bekerja bergabung di koran itu. Ketika saya bekerja di LP3Y dan di Shalahuddin Press, saya yang diajak bergabung di situ. Demikian juga ketika saya bekerja di penerbit Bentang dan Navila. Pemilik penerbit itu yang meminta saya bergabung. Bahkan ketika mendirikan Yayasan Bentang Budaya, saya bersama Buldanul Khuri menyiapkan proposal dan di dalam akta notaris saya disebut punya modal dasar sebanyak 10 % sebagai saham prioritas.

Ketika masuk kerja di majalah Suara Muhammadiyah, juga bukan saya yang melamar bekerja di situ, tetapi Pak Amien Rais sendiri yang menelepon saya untuk datang ke kantor majalah di depan PKU Muhammadiyah, Pak Amien Rais sebagai Pemimpin Umum, artinya sebagai orang yang amat berkuasa di majalah ini langsung mengangkat saya sebagai karyawan dengan jabatan Redaksi Pelaksana. Pak Amien Rais menandatangani surat pengangkatan saya di depan saya dan di depan Pemimpin Perusahaan dan Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah. Rupanya mereka telah mengadakan rapat untuk memutuskan memanggil saya untuk dijadikan Redaksi Pelaksana, yang kemudian menjadi jabatan ‘abadi’ saya di majalah ini. Dan saya di kemudian hari punya sahabat yang senasib, dia adalah Redaksi Pelaksana Majalah Basis yang ‘abadi’ sampai pensiun. Namanya Budi Sardjono. Kami berdua sering bercanda dengan saling memanggil Kolonel. Panggilan yang selalu dilengkapi dengan suara tawa renyah pengusir stres di jiwa.

Pak Bajuri waktu di Jakarta itu, mendengar laporan saya ditolak bekerja di tempat dia dulu pernah memimpin sebuah Majelis tingkat Pusat itu, tenang-tenang saja. Dia meminta saya untuk mencari kerja, kerja apa saja. Dan sebagai basis pendapatan sementara saya diminta merawat rumah tempat tinggalnya. Saya pun merawatnya dengan tekun dan saksama. Mulai dengan membersihkan rumput dan saya sambil membayangkan seorang Tagore sempat menulis puisi tentang suasana hati tukang taman di sebuah istana seorang pangeran. Saya juga membersihkan kaca dan kamar mandi, membayar listrik di sebuah kantor yang agak jauh dari rumah, bahkan mengambilkan rapor anaknya yang di sebuah sekolah Muhammadiyah di Jalan Limau Kebayoran Baru yang sekarang ada kompleks sekolah Muhamamdiyah dan gedung megah kampus UHAMKA. Di kemudian hari saya sering ke kampus UHAMKA ini untuk banyak keperluan wawancara dan promosi majalah Suara Muhammadiyah. Juga di kampus UHAMKA ini saya dan teman-teman jurnalis Muhammadiyah mematangkan konsep dan melaksanakan kegiatan Deklarasi Ikatan Jurnalis Muhammadiyah yang oleh teman-teman saya ditunjuk menjadi Ketua Umum IJM atau Ikatan Jurnalis Muhammadiyah yang kemudian berkembang di berbagai kota di Indonesia, melakukan training jurnalistik. Terakhir, setelah bertahun-tahun menjadi Ketua Umum PP IJM, jabatan ini saya serahkan kepada anak muda, bersamaan dengan training jurnalistik di Mataram, Lombok. PP IJM sempat menerbitkan buku mungil tentang seluk beluk menjadi Jurnalis Muhammadiyah yang isinya saya susun bersama Deni Asy’ari yang sekarang menjadi Pemimpin Perusahaan Suara Muhammadiyah.

Kembali ke nasib saya di Jakarta. Untuk kerja merawat rumah Pak Zubaidi Bajuri, saya mendapat gaji berupa karcis bus kota dan uang saku. Dengan karcis bus kota ini saya bisa kemana-mana, menjelajahi Jakarta. Gairah dan semangat untuk menjelajah kota saya kumat seperti waktu kecil dulu. Saya pun mencoba banyak rute bus kota mulai dari terminal Blok M, Terminal Lapangan Banteng, Pulogadung. Ketika di sebuah kios majalah dan koran tampak ada majakah Kawanku, saya pun membelinya. Alamatnya saya lihat untuk kemudian beberapa hari setelah itu saya datangi dengan membawa naskah yang saya ketik rapi. Oya, di tempat saya tinggal ini ada mesin ketik kuno yang berat. Saya mempergunakan mesin ketik ini untuk mengetik naskah cerita anak-anak, stopper berupa lelucon dan puisi. Saya datangi kantor redaksi majalah anak-anak Kawanku sambil saya bilang kalau saya tinggal di Jakarta. Jadi kalau tulisan saya dimuat akan saya ambil langsung, tidak usah dikirim ke Kotagede seperti dulu.

“Baik,” kata Pak Trim Sutejo, redaksi senior Majalah anak-anak Kawanku.

“Terima kasih Pak.”

Saya juga mendatangi kantor Majalah Panji Masyarakat di Kompleks Masjid Al-Azhar untuk menyampaikan maksud yang saya. Kalau tulisan saya dimuat akan saya ambil sendiri honornya langsung di kantornya. Jadi jangan dikirim lewat pos wesel seperti dulu.

“Bisa untuk jajan ya Mas?”

“Ya, bisa untuk membeli bubur kacang ijo atau ketoprak atau mie ayam Jakarta yang pedasnya minta ampun,” kata saya bercanda.

Redaksi Majalah Panji Masyarakat itu tertawa.

Saya juga mendatangi kantor redaksi Harian Pelita.

“Tapi honor di sini belum besar lho.”

“Nggak apa-apa Mas. Yang penting ada.”

Saya jadi punya harapan sedikit banyak akan mendapat masukan uang. Meski harus berhemat, dengan bersenjata karcis biskota saya bisa ke Menteng Raya 62 menemani Mas Bambang ngobrol. Meski dia sibuk mengetik surat-surat untuk kepentingan PP IPM, kalau melihat saya datang dia selalu menyambut gembira. Kadang dia menyimpankan untuk saya nasi Padang pembagian dari bapak-bapak yang rapat di gedung kuno, atau dia mengajak saya makan di warung Tegal di depan gerbang Taman Ismail Marzuki. Kami berjalan kaki ke TIM yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Bambang ini hidupnya lucu. Setiap makan di Warung Tegal, yang dia pentingkan adalah lauknya. Yang penting telurnya utuh atau malah dua, sayur penuh meski nasinya hanya setengah porsi.

“Inilah cara saya mensyukuri nikmat Tuhan. Saya mengamalkan ayat lain syakartum laazidannakum wala-in kafartum inna ‘adzabi lasyadid,” katanya.

Kami memang berusaha untuk menyukuri apa yang kami terima selama ini. Tuhan memenuhi janjinya. Kami, semua anggota Sanggar Enam Dua dibiayai penuh untuk ikut pentas memeriahkan Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya. Ini anugerah terbesar dari Allah yang harus lebih kami syukuri lagi.

Caranya dengan berlatih keras. Kak Bambang yang menuliskan naskahnya dan kami menghafal naskah itu. Kami harus mementaskan adegan sejarah dan kebesaran Muhammadiyah di panggung. Jenis pertunjukan alegoris dokudrama. Durasi waktu satu jam. Kami sadar, jumlah kami terbatas. Akan kami cukupkan dengan mengajak anak-anak sekolah Surabaya yang ramah dan menawan. Mereka akan kami pilih yang berani tampil menemani kami, anak Jakarta, untuk tampil di panggung nasional. Sebagai orang yang mengurusi organisasi pelajar Muhammadiyah secara nasional, Kak Bambang sudah menghubungi Kepala Sekolah SMP dan SMA Muhammadiyah Surabaya. Mereka sanggup menyiapkan murid-muridnya yang bersemangat menemani kami. Kabar ini tentu menggembirakan kami. Bahkan ada yang bercanda mengajak berlomba mencari pacar di sana. “Siapa berani?,” tentu semua berani. Saya melihat peluang untuk mengobati patah hati nih, pikir saya.

“Transport kita PP Jakarta Surabaya dibiayai bapak-bapak, ditambah uang saku. Seneng pora?,” kata Bambang disambut tepuk tangan anggota Sanggar Enam Dua Menteng Raya.

Yogyakarta, 31 Agustus 2021.

Lainnya