Kebon (36)

Globalisasi Halalan Thayyiban

Foto: Adin (Dok. Progress).

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling aneh di seluruh dunia, bahkan mungkin di seluruh jagat raya. Saya memilih menyebut “bangsa paling aneh”, sebab tidak mashlahat untuk menggunakan istilah lain, misalnya “bangsa yang paling munafik, hipokrit dan oportunis”, “bangsa yang paling tidak tahu diri”, atau “bangsa yang hobinya membangkang dan ingkar kepada hakikat dan syariat kemakhlukan dirinya sendiri”. Kalau itu semua yang saya pilih, nanti terjadi peribahasa yang kita kenal sejak SD: “buruk muka, cermin dibelah”. Apalagi di era puncak teknologi informasi dengan ujung tombak Medsos ini justru kebanyakan cermin dibelah-belah, dipecah-pecah sehingga semua pihak hancur lebur ambyar wajahnya — kecuali wajahnya sendiri atau yang segolongan dengannya.

Bangsa Indonesia ini mengaku Bhinneka Tunggal Ika, pemerintahnya omong besar tentang pluralisme dan menyembah-nyembahnya, padahal apanya yang ragam? Apanya yang berbeda? Cita-citanya semua sama dan hanya satu: ingin berkuasa, ingin kaya. Profesinya bermacam-macam, tapi tujuan profesionalitasnya sama: ingin laba dan jaya. Sekolah dan universitasnya banyak, tetapi jangkauannya sama: ingin unggul, ingin menang. Latar belakang sukunya banyak dan bermacam-macam, tetapi aspirasi keIndonesiaannya sama: “Jangan dia yang memimpin, saya saja. Jangan mereka yang berkuasa, golongan kita saja. Jangan mereka yang menumpuk uang dan harta benda, kita saja”.

Partai-partai politiknya beragam-ragam, tetapi aspirasinya sama: lembaganya berkuasa dan orang-orangnya memonopoli akses untuk kaya. Agamanya banyak dan macam-macam, tetapi cara berpikirnya sama, pengetahuannya tentang perlu tidaknya agama juga sama, dan tetap saja yang utama adalah sukses dan kaya di dunia. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia artinya adalah “saya harus mendapat keadilan dengan wujud kekuasaan dan fakta kekayaan. Bahwa yang bukan golongan saya tidak mendapatkan itu, biasa, hidup itu tidak sempurna”.

Di bidang kebudayaan dan kesenian juga singularisme yang berlaku. Tangga lagu-lagu di radio harus lagu yang segala sesuatunya mbebek barat kecuali bahasanya. Tidak ada lagu Qashidah atau Shalawat masuk daftar tangga lagu-lagu nasional. Teater juga harus Barat, dan memang demikian Institut Seni mengajarkannya. Juga cabang-cabang kesenian lainnya. Karena universitas harus berjalan berdasarkan kurikulum, dan kurikulum yang siap ya yang sudah ada di Barat, kita tinggal mbebek. Sekolah kesenian bukan transformasi dari sanggar dan bentuk-bentuk kreativitas yang bangsa kita pernah memiliki. Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan mendirikan negara untuk mengingkari sejarahnya sendiri, untuk mengajak bangsanya tidak lagi menjadi Bangsa Indonesia, melainkan bangsa campuran Barat-Arab-Cina dengan hujjah dari ayat-ayat bumi Globalisasi yang dipaksakan untuk halalan-thayyiban.

Padahal pada tahap urusan antara patuh atau kreatif ini tidak ada yang ruwet. Cukup memilah untuk dan dalam hal-hal apa saja yang manusia harus patuh, dan hal-hal lain apa yang manusia boleh kreatif dengan pilihannya sendiri. Dalam kehidupan individu, keluarga, bermasyarakat, berkelompok atau bernegara, setiap warganya harus bisa memilah dalam hal apa saja ia wajib patuh dan dalam hal lain apa yang mereka berhak untuk merdeka atau kreatif.

Sejak menjadi janin kemudian lahir sebagai bayi, manusia wajib patuh. Ia tidak punya kemungkinan untuk memilih menjadi dirinya atau menjadi orang lain. Patuh bahwa itulah Bapak Ibunya, dan tidak bisa mendapatkan kemungkinan Bapak Ibu lainnya.

Nanti kalau sudah dewasa ganteng atau wagu, hidungnya mancung atau pesek, organ-organ tubuhnya ada yang kuat ada yang lemah, kapan jantungnya berhenti berdetak. Serta apapun lainnya yang menjadi fakta dirinya secara alamiah, manusia tidak punya pilihan. Manusia harus patuh. Andaikan Tuhan membuka demokrasi penciptaan, dan setiap makhluknya dipersilakan memilih akan jadi binatang ataukah manusia ataukah Setan ataukah Malaikat — hal itu tidak tidak bisa diterapkan juga. Sebab kepada siapa Tuhan membukakan pilihan? Wong makhluk-Nya belum ada, belum Ia ciptakan.

Padahal manusia modern umumnya meyakini bahwa mereka memiliki hak asasi untuk memilih, seakan-akan mereka lahir dulu juga atas pilihan mereka sendiri. Manusia hanya mungkin diberi pilihan pada tahap berikutnya sesudah penciptaan. Manusia tidak punya hak asasi, mereka hanya punya hak hayati. Mereka tidak punya hak primer, melainkan hanya hak sekunder sesudah yang primer memaksa mereka menjadi sesuatu yang bukan atas kehendak dan pilihan mereka sendiri. Tidak ada penduduk Amerika Serikat yang menjadi warganegara Amerika Serikat atas dasar pilihannya dulu untuk lahir di Amerika Serikat. Hak asasi itu ada pada tahap atau terminal tertentu dan dibatasi oleh pagar-pagar tertentu, sehingga pada hakikatnya ia bukan atau tidak asasi lagi. Manusia modern adalah makhluk Tuhan yang paling lucu dan naif. Juga sombong luar biasa.

Sejak di Gontor hingga Dipowinatan, Kadipaten, Patangpuluhan, Kasihan hingga Kadipiro kita memastikan diri untuk tidak sombong, tapi juga tidak minder. Tidak rendah diri, tapi rendah hati. Tidak sombong, tapi mandiri. Tidak patuh kepada hal-hal yang secara rasional memang tidak seharusnya dipatuhi. Belajar merdeka dan berdaulat, tetapi tidak menabrak batas bebrayan nilai dan kemasyarakatan.

Lainnya