Kebon (62)

Fatwa Ibu

Foto: Adin (Dok. Progress).

Pagi itu sekumpulan orang, sebagian korban lumpur Sidoarjo dan sebagian aktivis organisasi non-Pemerintah mengadakan demonstrasi besar di lapangan depan Kantor Bupati Sidoarjo. Spanduk-spanduk sudah dipasang di banyak tempat sejak beberapa hari sebelumnya. Demo itu bermaksud mendatangkan Mbah Lim Klaten dan Gus Dur.

Dua tokoh raksasa itu pasti akan menenggelamkan saya yang hanya seekor kecebong atau percil. Saya dilibatkan dalam urusan akibat luapan lumpur, dan demonstrasi itu dalam rangka menyatakan ketidaksetujuan dan perlawanan terhadap langkah-langkah yang saya lakukan.

Bagi Jamaah Maiyah, sudah berulang kali saya mengungkapkan inti, prinsip, dan pemetaan masalah lumpur ini, yang semuanya terdokumentasi lengkap di Kadipiro. Mendengar rencana demo besar itu, saya pun dari Yogya naik pesawat baling-baling ke Surabaya. Dijemput oleh Rahmat Bangbang Wetan pakai motor berdua langsung dari Juanda ke Sidoarjo.

Sesampainya di dekat lapangan Sidoarjo, saya minta Rahmat minggir ke orang jualan es di bawah sebuah pohon. Rahmat duduk saja di situ, saya sendirian akan merapat ke tempat demo.

Tidak banyak. Hanya sekitar 300 sd 500 orang massa demonya. Saya mendekat. Sekitar 100 meter hampir sampai, saya melaju ke tempat para pemimpinnya berorasi, dan saya berteriak: “Mana Gus Dur? Mana Mbah Lim? Ada berapa Gus Dur yang datang? Ada berapa Mbah Lim yang hadir? Ada sampai masing-masing 50 Gus Dur dan Mbah Lim? Atau 100? Jangan hanya satu Gus Dur dan satu Mbah Lim….”

Mereka semua terpotong konsentrasinya, tidak bisa merumuskan apa yang sebenarnya terjadi dan tidak menemukan bagaimana meresponsnya. Akhirnya konsentrasi demo terpecah, dan berakhir dengan fade out. Massa tidak terasa kemudian bubar satu persatu, sekelompok demi sekelompok, berlalu ke berbagai arah. Situasi senyap.

Andaikan saya datang ditemani misalnya sepuluh orang, pasti langsung terjadi tawur. Tapi saya datang sendirian, sehingga saya duga mereka semua merasa tidak tega untuk melindas saya yang cebong kerdil ini. Saya yakin mereka semua, baik massanya maupun para penggeraknya, adalah orang-orang yang punya martabat dan harga diri. Mustahil mereka melakukan benturan antara ratusan orang melawan satu orang. Kata orang Jawa: “menang ora kondhang, kalah wirang”. Kalau menang tidak menjadi terkenal, kalah akan terpermalukan habis-habisan.

Mereka adalah kumpulan manusia yang juga penuh kasih sayang. Itu pasti. Sebab mereka adalah rakyat Indonesia dan jenis manusia Jawa. Punya rasa malu dan martabat hidup. Maka mereka semua tanpa melalui perundingan apapun, melainkan spontan saja: mengambil keputusan untuk mengalah kepada saya.

Minimal mereka semua adalah makhluk-makhluk Allah Swt yang berakal sehat dan punya etika bahkan akhlaqul karimah. Mustahil mereka meladeni satu orang gila yang teriak-teriak. Kata orang Jawa lagi: “sing waras ngalah”. Akhirnya saya sebagai pihak yang tidak waras, malu sendiri. Ngapain tadi saya teriak-teriak. Manggil-manggil nama Mbah Lim dan Gus Dur yang sakti mandraguna.

Tentu saja Gus Dur dan Mbah Lim tidak ada di Sidoarjo pagi itu, sebab malam sebelumnya sudah saya telepon. “Gus, urusan lumpur itu bukan level Sampeyan. Iku urusan tengu sak-ipet Gus, Sampeyan maqamnya jagat raya agung”. Juga ke Mbah Lim: “Mbah Lim, biarkan Mbah Nun saja yang mengurusi Sidoarjo. Mbah Lim jangan report-repot turun dari kahyangan wilayatul Auliya”.

Ketiga, kalau Allah nanti ngijabahi hajat kita, kalian haram memberikan kepada saya ucapan terimakasih berupa uang atau harta benda. Tidak sepeser pun boleh berpindah dari tangan kalian ke tangan saya.

Karena sepi senyap, saya pun meneruskan agenda lumpur sebagaimana sudah bergulir sejak beberapa bulan sebelumnya. Dulu perwakilan korban lumpur datang ke Maiyahan Bangbang Wetan, Padangbulan dan Mocopat Syafaat minta ditemani untuk mendapatkan ganti rugi dari kemusnahan rumah-rumah mereka oleh lumpur. Saya jawab: “Saya bukan korban lumpur. Saya bukan penduduk Sidoarjo. Saya bukan Pemerintah. Saya bukan orang Bakrie, Medco atau perusahaan Australia yang bergabung menjadi Lapindo. Saya juga bukan aktivis LSM atau apapun saja. Maka kalau saya harus melakukan sesuatu untuk masalah kalian, saya mempersyaratkan tiga hal. Pertama, semua harus siap menanggung sumpah Allah “Lain syakartum laazidannakum, walain kafartum inna ‘adzabi lasyadid”. Kedua, kalau saya ngimami, maka semua makmum harus patuh sampai detail kepada Imam. Ketiga, kalau Allah nanti ngijabahi hajat kita, kalian haram memberikan kepada saya ucapan terimakasih berupa uang atau harta benda. Tidak sepeser pun boleh berpindah dari tangan kalian ke tangan saya. Yang boleh paling pol ngajak makan rawon atau pecel, atau sesekali membawakan saya pil untuk pilek”.

Alhasil Nirwan Bakrie (bukan Aburizal Bakrie) yang in charge Lapindo, ketemu saya empat (4) menit di kantornya Pak Franky Welirang atas prakarsa Pak Andi Darussalam Tabussala, dan berjanji: “Saya akan bikinkan rumah semua Cak, seharga tiga (3) sampai empat (4) kali lipat jumlah kerugian mereka. Asalkan dikawal oleh Cak Nun”. Jumlah yang dibikinkan rumah oleh Nirwan sekitar 13.256 KK. Yang koordinatif dan kooperatif bahkan dikasih 4 kali lipat harga rumah dan tanahnya.

Yang rewel, yang rakus, yang curang, yang menipu saya, ada yang rumah dan pabriknya mengalami kebakaran, ada yang sakit keras, ada yang usahanya bangkrut, ada yang dari menjadi direktur turun menjadi petugas pom bensin, ada yang mati. Semua tercatat di Kadipiro. Mang mulo, maeng mulo, aku lak wis kondho: “Lain syakartum laazidannakum, wa lain kafartum inna ‘adzabi lasyadid”.

Nirwan mengeluarkan uang sekitar 10,5 triliun untuk itu. Dan berposisi shadaqah atau infaq. Berkat fatwa dan perintah Ibunya (Bu Bakrie alm): “Biayai semua yang mereka perlukan”, kata beliau, “bikin mereka besok-besok ngomong: Untung ada lumpur”. Dan untuk mengupayakan fatwa itu keluar dari hati mulia beliau, saya harus legowo nyanyi “Tombo Ati” sendirian sambil jongkok, di depan Ibu Bakrie yang duduk di kursi.

Kasus lumpur memakrifati saya sekaligus dua dimensi. Tingkat kemuliaan hati yang luar biasa, tapi juga tingkat yang amat sangat menjijikkan dari kebusukan hati sebagian manusia.

Kasus lumpur memakrifati saya sekaligus dua dimensi. Tingkat kemuliaan hati yang luar biasa, tapi juga tingkat yang amat sangat menjijikkan dari kebusukan hati sebagian manusia. Bukti-bukti yang mengagumkan dari hidayah Allah yang mentajalli menjadi fadlilah, ma’unah dan karomah manusia, tapi juga fakta-fakta yang njembeki atau amat sangat memuakkan dari tidak jujurnya pikiran manusia. Sampai terkadang saya jadi memahami kenapa dulu Iblis tidak setuju pada keputusan Allah menciptakan manusia.

Ada banyak sekali adegan, kejadian, peristiwa di rentang waktu penanganan kasus lumpur itu. Termasuk yang terkait dengan Buya Syafii Maarif, Pak Franky Welirang, dan Ibu Novia Kolopaking yang bertriwikrama di Restoran “Porong” Sidoarjo. Triwikrama itu artinya “memuaikan diri sampai sebesar tiga jagat raya”.

Lainnya