Kebon (61)

Lahirlah Istilah Mauidlah Hasanah

Foto: Adin (Dok. Progress).

Politik oposisi sampai hari ini belum menemukan bentuk atau formulanya dalam peta perpolitikan nasional Indonesia. Pertama, karena lahir dan berkembangnya kelompok politik belum berkaitan dengan ideologi tertentu, yang merisikokan perbedaan konsep pengelolaan negara dan tipologi atau orientasi pembangunan yang berbeda dengan kelompok lainnya yang juga berlainan ideologi.

Semua partai politik, apapun, yang sedang berkuasa atau tidak, di Indonesia, tidak ada bedanya. Mereka hanya sejumlah kendaraan sejarah yang penumpangnya adalah para penempuh karier kekuasaan. Kalau dipandang secara nilai, tujuan mereka sama saja: berkuasa, beraktualisasi, dan berharta benda. Yang berlangsung hanya padatan perjuangan pribadi-pribadi, dan yang bernama negara atau rakyat hanyalah pijakan, jalanan atau objek eksploitasi untuk kepentingan kerier tersebut.

Kedua, sebab yang lain mungkin adalah tidak tertransformasikannya budaya bangsa menuju kedewasaan berpolitik. Berbeda aspirasi, bahkan sekadar berbeda identitas atau kendaraan politik, posisi bakunya adalah pesaing dalam meraih kekuasaan, musuh dalam memperjuangkan kepentingan, kecuali tatkala mereka berada di tujuan kepentingan yang sama, yang tak ada kaitannya dengan kepentingan rakyat, demokrasi dan apa saja yang dikenal dalam konsep negara modern.

Bahkan “tidak menyatakan mendukung penguasa” diidentikkan dengan musuh. Tidak sependapat dianggap lawan. Mengkritik bisa digolongkan sebagai kelompok makar. Bahkan bicara kebenaran objektif universal pun, bisa dirasakan oleh yang sedang berkuasa sebagai sindiran atau hinaan.

Di zaman Megawati dan PDI tidak berkuasa di Negara yang didominasi Golkar di era Orde Baru, sebenarnya yang dilakukan oleh PDI juga belum benar-benar memenuhi prasyarat dan syarat untuk disebut oposisi.

Tapi keadaan politik nasional saat itu belum separah sekarang. Fakta bahwa Prabowo pesaing Pilpres Jokowi akhirnya duduk sebagai Menteri, juga kemudian Sandiaga Uno, bisa dimaknai sebagai kebijaksanaan dan persatuan menurut argumentasi tertentu, tetapi bisa juga disebut kekonyolan dan tidak bermartabat menurut argumentasi yang lain.

Pada suatu pagi Megawati, Gus Dur, dan Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid) dan saya dijadwal memberikan presentasi di acara Seminar Pesantren Tambakberas Jombang. Kebetulan saya dalam keadaan “tidak perlu berbicara”, maka saya hanya datang sebagai pendengar.

Baru saja Cak Nur naik podium, datang rombongan tentara, yang semua langsung tahu bahwa maksud mereka adalah membubarkan acara.

Maka para Santri, Anshor, Banser, PMII, langsung bereaksi frontal. Mereka berkumpul, berbaris, dan meneriakkan takbir berkali-kali, dengan maksud untuk mempertahankan agar acara terus berlangsung.

Saya langsung mohon kepada mereka agar jangan melakukan apa-apa dulu, saya minta waktu beberapa menit untuk menemui Komandan tentara yang datang. Saya berlari, bertanya, dan memang benar mereka datang diperintah oleh Dandim untuk membubarkan acara.

“Ada Surat Pembubarannya, Pak?”

“Ada”, jawab Komandan.

“Oke”, saya merespons, “Mohon semua anak buah ditarik ke belakang, silakan menunggu di bawah pohon yang dekat pintu masuk Tambakberas. Bapak saya antar masuk ke forum di dalam gedung untuk membacakan Surat Pembubaran”.

Puji Tuhan teman-teman Santri, PMII, Anshor, dan Banser berkenan untuk bersabar. Juga pasukan TNI menunggu di bawah pohon yang saya tunjuk. Kemudian saya gandeng tangan Komandan memasuki gedung. Kami naik podium dan saya umumkan: “Mohon para hadirin semua meluangkan waktu beberapa menit untuk mendengarkan Surat dari Kodim Jombang dibacakan oleh petugas”.

Singkat kata, Komandan membacakan Surat Pembubaran acara itu. Kemudian saya gandeng turun, saya antar sampai pintu keluar gedung. “Silakan Bapak menunggu bersama anak buah di sana. Tiga menit lagi saya akan ke sana”. Pak Komandan pun berlalu menuju anak buahnya.

Saya masuk gedung lagi. Naik podium dan mengemukakan: “Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua. Acara Seminar kita telah dibubarkan. Maka marilah kita mulai acara yang baru….”

Kemudian saya teriak kepada Gus Dur: “Gus, acara kita yang baru ini namanya apa?”

Gus Dur spontan menjawab: “Mauidlah Hasanah Cak”.

Saya meneruskan, “Saudara-saudara, marilah kita buka acara Mauidlah Hasanah ini dengan bacaan Basmalah, bismillahirrohmanirrohim. Sekarang saya persilahkan pembicara pertama, Cak Nurcholish Madjid, untuk mempresentasikan makalahnya…”

Kemudian saya turun dari podium dan berlari keluar gedung, terus menuju Pak Komandan dan para prajurit di bawah pohon. Kemudian saya menyerbu Pak Komandan dengan pertanyaan-pertanyaan menggunakan bahasa Jombang: “Bapak tinggalnya di mana? Punya anak berapa? Sejak kapan menjadi tentara? Anaknya sekolah di mana?”. Kemudian pertanyaan saya kembangkan dan improvisasikan berdasarkan jawaban-jawabannya.

Seluruh acara berlangsung sampai selesai. Tugas para prajurit dan komandannya ini juga beres. Semuanya menang. Win-win game.

Setelah lewat siang saya balik ke Menturo dengan terkagum-kagum kepada Allah Swt. O ini tho yang Allah firmankan:

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu.

Kedua ayat dari Surat Al-Hujurat itu sejak kecil sudah saya baca. Bahkan saya pernah ikut lomba qiro`ah Surat itu di Gontor. Firman-firman Allah Swt itu sejak dulu terasa biasa-biasa saja dan datar-datar saja. Tapi hari ini Allah mencampakkan saya ke dalam air bergolak laboratorium politik, yang membuat ayat-ayat itu terasa ajaib.

Lainnya