Kebon (220)

Ali-ali Damar Panuluh

(Sabrang lahir kembali)
Foto: Adin (Dok. Progress).

Pagi tadi pukul 06.15, 42 tahun silam, Sabrang Mowo Damar Panuluh, lahir di Klinik Angkatan Udara seberang Kraton Pakualaman Yogya. Dini hari Minggu itu saya baru tiba di tempat kelahirannya sesudah baca puisi di acara Diskotik di salah satu Hall Ambarukma Hotel Jl Solo Yogya atas penyelenggaraan Kangmas Roby sahabatnya almarhum Bang Fauzie Rijal.

Sebagaimana Allah sendiri mengulangtahuni Ruhullah Nabi Isa As. Saya juga menulis ini.

وَسَلَٰمٌ عَلَيۡهِ يَوۡمَ وُلِدَ وَيَوۡمَ يَمُوتُ وَيَوۡمَ يُبۡعَثُ حَيّٗا

Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Hari ini matahari ditutupi rembulan hingga tampak seperti cincin dari Bumi, meskipun tidak bisa dilihat langsung dari Indonesia. Hanya bisa dilihat dengan mata telanjang dari Siberia, Greenland, Islandia, Eropa, Rusia, negara Asia Tengah dan Tiongkok bagian Barat. Sebagaimana Sabrang memang berasal dari koordinat langit yang tak bisa dipandang dengan mata telanjang.

Kecuali bersyukur dan gembira, saya tidak ingat apa aspirasi di hati dan pikiran saya pagi itu. Saya cari telepon umum untuk menginformasikan ke keluarga Bu Neneng Suryaningsih di Metro Lampung serta keluarga Menturo Jombang. Belum ada handphone, internet atau alat komunikasi mondial apapun. Motor pun saya tidak punya. Kemarin sore dari Kadipaten ke seberang Pakualaman kami pakai becak untuk memproses kelahiran Sabrang.

Andaikan sudah ada internet mungkin hari ini saya sibuk membaca gugatan dan cercaan dari sana sini kenapa saya membaca puisi di Diskotik. Berarti saya mendukung kemaksiatan. Berarti saya munafik atau musyrik. Apalagi sebelum-sebelumnya saya baca puisi di ritus Misa di Gerejanya Romo Dick Hartoko Kotabaru dan tempat-tempat “syirik” lainnya.

Hawik” atau Mbak Wiwik kakaknya Yatin putri sulungnya Simak Kadipaten langsung datang dan menemani Bu Neneng, mrantasi segala-galanya. Saya tinggal di kios 4X4 meter yang dirancang untuk pertokoan kecil di Kadipaten Wetan. Di depan saya tulisi “Bui” dengan huruf sangat besar. Tetapi untuk kelahiran Sabrang, saya sudah menyewa kios sebelah timurnya, 4X4 meter juga. Plus beli lampu Petromak (“StrongKing”) dan satu tambahan damar tèmplèk tapi bukan yang ditempel di dinding melainkan yang agak besar dan bisa berdiri sendiri.

Hawik sangat terampil dan amat setia kepada Bu Neneng sampai akhir hayatnya ketika kami sudah berhijrah ke Patangpuluhan. Kemudian sesuatu hal membuat kami berpisah, Bu Neneng kembali ke Metro, 21-C, bersama Sabrang. Cak Nang dan Saiful Imron mengantarkan Vespa baru saya ke Lampung, dikeretakan sampai Gambir Jakarta, kemudian dikendarai sampai menyeberang laut dan terus ke Lampung Utara.

Ketika serombongan tetangga Lampung datang ke Patangpuluhan dan mengemukakan usulnya agar posisi saya dan Bu Neneng diperjelas, saya segera ke Lampung untuk mengurusi “firaq” resmi. Kami naik becak bertiga ke Kantor Urusan Agama. Sebelum resmi berpisah kami dibawa ke ruangan lain untuk mendapatkan nasihat keagamaan. Seorang Ustadz menasihati kami tapi dipotong terus oleh Sabrang dengan mendadak bertanya macam-macam tentang apa saja yang dipasang di dinding ruangan kantor itu.

Dengan Bu Neneng saya sukses berhijrah dari posisi suami istri menjadi Sedulur. Dia menjadi adik saya, yang terus saya standby mengurusi apa saja yang diperlukan. Sampai akhirnya beliau nikah lagi dengan seorang Polisi yang asalnya dari Bali. Ternyata suami sambung ini agak garang, sehingga hampir bentrok dengan saya dan Cak Adil Amrullah yang datang menemani saya, sampai beberapa kaca jendela dipecah dan beberapa gelas dibanting. Tahun-tahun itu Allah membuktikan bahwa Ia mengabulkan doa yang dikandung oleh nama Sabrang Mowo Damar Panuluh. Saya dan kami semua benar-benar menyeberangi bara api. Sebagai episode awal sebalum kelak Sabrang menjadi Damar Panuluh.

Diam-diam Sabrang 3 tahun menemui saya dan menyarankan agar kalau saya berkunjung ke Lampung, baiknya pas hari-hari kerja saja, jangan pas Sabtu dan Minggu. Tahun berikutnya ketika Sabrang dikhitankan dengan acara lumayan besar-besaran, saya hadir sebagai tamu. Beberapa tahun kemudian Ibunya Sabrang berpisah dengan Pak Polisi itu tetapi rumah yang dibelinya belum aman. Ia bermaksud menjualnya tetapi setiap yang akan membelinya selalu diganggu oleh hantu-hantu dari Bali.

Saya minta tolong Markesot. Saya kirim ke Lampung sekitar satu minggu, tapi hari keempat sudah tiba kembali di Patangpuluhan, karena rumah Ibunya Sabrang sudah laku dijual. Markesot bercerita bahwa “Rangda” dan hantu-hantu lain takut dimakan oleh Markesot. Soalnya setiap malam Markesot berjalan mengelilingi rumah itu sambil merokok. Hantunya berpikir: “Api saja dimakan dikulum-kulum dihisap-hisap oleh hantu dari Menturo itu…

Sabrang masuk sekolah di SD seberang rumahnya. Tiap pagi beberapa temannya “ngampiri” ke rumah Bu Neneng, membawakan tasnya menuju Sekolah. Sabrang belajar mengaji di Masjid seberang juga. Dia protes kenapa putra dipisahkan dengan putri, karena itu membuat anak-anak menjadi terlalu menyadari dirinya sebagai perempuan dan sebagai laki-laki. Mengalahkan proses kesadarannya sebagai manusia dan sebagai Muslim.

وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.

Sabrang boleh mengulangtahuni dirinya sendiri sebagaimana Nabi Isa. Sabrang sudah lama menarik garis dari Mbah Ali transmigran perintis dari Wonogiri di Lampung ke Mojoagung hingga Menturo, di mana pewarisan Ali-ali dari Syakhona Khalil Bangkalan disematkan di jari-jarinya.

Ali-ali adalah lingkaran penyatuan dan kesatuan. Rasulullah Saw sendiri adalah Bapak Inklusivisme. Tidak sekadar Bapak Pluralisme, yang didengung-dengungkan oleh semua tokoh dan Pemerintah NKRI namun dengan praktik dan implementasi Eksklusivisme yang tak sudah-sudah sampai hari ini. Bahkan lebih kerdil dari eksklusivisme, yakni Oligarki. Kemarin Sabrang mengatakan di Kadipiro sebelum menemui tamu-tamu PKS, bahwa memahami politik Indonesia yang paling mudah adalah berangkat dari teori dan fakta Oligarki. Yang keberlangsungannya sangat canggih dan menjijikkan bagi siapa saja yang memiliki “fathonah” dalam mata pandangnya. Mungkin itu sebabnya gerhana cincin matahari hanya bisa dilihat dari jauh belahan bumi utara sana.

Karena luasan pengetahuannya yang terus-menerus advanced, Sabrang punya potensi untuk jauh lebih inklusif dibanding Bapak dan kakek moyangnya. Di Menturo kakeknya Sabrang menjalani NU yang Muhammadiyah sekaligus Muhammadiyah yang NU. Sampai-sampai tokoh lokal PKI diangkat menjadi Ketua Koperasi Rakyat “Setia Usaha” yang tempat atau bangunannya terletak di depan SDI “Mansyaul Ulum” sebelah area Padhangmbulan.

Sabrang bersekolah di SMP Xaverius Lampung. Kemudian SMA-7 Yogya bersama Patub, Aldi, dan Ari dan me-Letto hingga sekarang. Kemudian saya buang ke Edmonton Canada, sendirian gelandangan menelusuri dirinya sendiri. Pulang ke Kadipiro diam-diam bikin album tanpa Bu Novia tahu, bahkan saya sangat tidak mudah mempercayai bahwa Sabrang bisa menyanyi. Sampai akhirnya kami cek di pementasan Letto di sebuah Perguruan Tinggi di Yogya.

Dan ternyata dia memang dia bukan sekadar penyanyi. Syair karyanya jauh lebih murni, lembut, dan esensial dibanding puisi Bapaknya. Dan yang terpenting adalah ia manggung di dunia tanpa kawalan Bapaknya, meskipun ia tekun menelusuri nasabnya, supaya ‘arafa nafsahu sehingga berpeluang untuk ‘arafa Robbahu. Supaya jelas sandaran hati kehidupannya:

Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku
Mendengarmu

Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
Merindukanmu

Terpuruk ku di sini
Teraniaya sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemani

Dalam hidupku
Kesendirianku

Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Sandaran hati

Sebab ia dilahirkan di Negeri Tanpa Sanad. Kelahirannya, proklamasinya, pilihan bentuk Negaranya, sistem pengelolaan yang dianutnya, tidak ada hubungannya dengan nenek moyang Nusantaranya. Tidak jelas juntrungannya dengan Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad meskipun mayoritas penduduknya Ummat Islam dan mencantumkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” di Pancasilanya. Indonesia adalah bluluk yang berkembang tidak mau menjadi cengkir, degan dan kelapa. Indonesia adalah kumpulan manusia-manusia yang ghaib, aneh, yang Asmuni menyebutnya sebagai “hil-hil yang mustahal”. Alih-alih menjadi Kelopo Aking atau Kolopaking.

Neneknya Sabrang di Menturo maupun Lampung adalah Ibu-Ibu canthas, progresif revolusioner (istilah itu Bu Halimah sendiri yang menyatakannya dalam pidatonya di depan 35.000 jamaah Padhangmbulan awal 1990-an), brasak sana brasak sini, gabras-grabus. Di Menturo bahkan Neneknya Sabrang bikin Jum’atan khusus wanita, entah dari mana sandaran pikiran atau sanad fiqihnya. Sabrang tidak mengambil radikalitas ijtihad Nenek-neneknya. Yang ia ambil adalah kesemesta-luasan eksplorasi dan olah ilmunya. Sabrang bikin aplikasi di Android Symbolic” yang merupakan “algoritma peradaban” baru yang dibutuhkan untuk menyelamatkan masa depan generasi ummat manusia “ma qaddamat li-ghadin”, meskipun sampai hari ini gerhana cincin matahari masih hanya terlihat di belahan bumi utara.

Tetapi dan maka Sabrang adalah Marja’ Maiyah yang sangat pokok posisinya. Apalagi Allah mengambil Syekh Nursamad Kamba dan Kiai Muzzammil dari Ali-ali Maiyah Nusantara dan Dunia. Semoga infrastruktur inklusivisme Sabrang terimplementasi di dalam tata manajemennya menuju masa depan.

Lainnya