Kebon (219)

Negeri Syakhsiyyah

Foto: Adin (Dok. Progress).

Semua nama-nama yang saya sebut terkait Pakde adalah manusia-manusia mulia dan kreatif. Pakde sendiri adalah sebuah kepribadian. Semua siapa saja dalam Maiyah, sengaja atau tidak sengaja, dengan sendirinya memiliki dan mematangkan “syakhsiyah” atau kepribadian. Kepribadian adalah formula respons seorang manusia secara ‘aqilyah sekaligus ‘nafsiyah terhadap segala sesuatu yang menyangkut kehidupannya.

Akan tetapi faktanya hari ini syakhsiyah atau kepribadian adalah sebuah konsep tentang dan dalam kemanusiaan yang semakin tidak dikenali oleh manusia di akhir zaman sekarang ini. Semakin tidak menjadi konsern bagi para penggiat dan pejuang atau pelaku-pelaku nilai dalam kebudayaan ummat manusia. Semakin tidak menjadi fokus bagi dunia kependidikan yang formal maupun informal dalam keluarga-keluarga manusia.

Tidak ada sekolah atau universitas, bahkan juga tidak forum-forum keagamaan, pengajian atau halaqah-halaqah yang cukup peduli terhadap kepribadian kemanusiaan. Tidak ada pembangunan yang mengkonsep “ahsanu taqwim”. Ahsanu taqwim merekomendasikan perwujudan prima syakhsiyyah manusia. Tetapi tidak tampak atau terasa ada filosofi dan landasan pemikiran yang berangkat dari benih firman tentang ahsanu taqwim.

Tidak ada filosofi, dasar pemikiran dan kurikulum kependidikan dalam suatu Negara yang peduli kepada eskalasi kualitas dari benda atau materi menuju benda yang tumbuh, menuju benda yang tumbuh dan berdarah daging dan bisa bergerak. Menuju benda yang bertumbuh berdarah daging, bergerak dan berhati nurani serta akal sehat. Menuju konsep “makhluk”, “insan”, “abdullah” apalagi “khalifatullah”. Bahkan kita mengalami suatu perjalanan bernegara yang mencurigai kata “khalifah”. Begitu jahiliyahnya ujung-ujung peradaban ummat manusia. Kita hidup di Negeri Tanpa Kepribadian.

Pakde Nuri adalah khalifatullah yang mengerti dan sadar persis khilafah kehidupannya. Meskipun terbatas pada lingkup yang bisa dijangkaunya. Dan Allah memang sama sekali tidak menuntut lebih dari batas yang Ia sendiri berikan kepada manusia.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya”.

Pada dekade-dekade terakhir bangsa Indonesia ditimpa kalimat “Pendidikan Berbasis Karakter”. Sepanjang saya mengalami berbagai diskusi ternyata yang dimaksud karakter adalah “moral” atau “akhlaq”. Indonesia tidak menyebut “akhlaq” karena kerendahan diri dengan Arab dan Islamnya sehingga merasa punya derajat kalau menggunakan idiom dari Bahasa Inggris dan dunia Barat.

Yang dimaksud dengan “karakter” ternyata bukan kepribadian, dan memang bukan kosakata yang seharusnya untuk itu. Sedemikian rupa sehingga Indonesia hari ini benar-benar krisis kepribadian. Politik, pendidikan dan kebudayaan bangsa kita tidak mampu membangun sistem untuk memproses penumbuhan manusia-manusia yang berkeperibadian. Sekarang ini seorang pelawak pun Indonesia tidak punya, sebab tidak ada infrastruktur budaya dan industri yang kondusif untuk terciptanya tokoh suatu bidang yang berkepribadian. Kita punya banyak orang yang ditokohkan, tetapi tidak punya yang benar-benar tokoh. Sekadar ditokohkan, direkayasa untuk dirokoh-tokohkan, dicitra-citrakan untuk seolah-olah tokoh.

Tetapi kalaupun yang dimaksud memang adalah “karakter” sebagaimana yang dimaksud oleh etimologi kata itu, Pakde adalah manusia yang karakteristik. Tapi sekaligus manusia berakhlaq, manusia bermoral, manusia berkemanusiaan, manusia berkemuliaan dan berkecerdasan. Kalau sekarang banyak dipakai kosakata “integritas”, Pakde dan sahabat-sahabat lain di sekitar saya adalah benar-benar telah membuktikan selama puluhan tahun sebagai manusia berintegritas, yang bahkan tidak mengandung eufemisme sebagaimana kalau kata digunakan untuk para Pejabat atau tokoh-tokoh mainstream lainnya.

Karena Ibundanya Pakde Nuri adalah juga Ibu Jawa Muslimah yang sungguh-sungguh berkarakter, berintegritas, berakhlaq mulia, berkepribadian sebagaimana yang dimaksudkan oleh nilai-nilai dari langit. Semakin saya mengenali Ibundanya Pakde, semakin saya memahami dan mensyukuri betapa saya dimurahi oleh Allah dengan ditanazzulkan sahabat dan saudara sejati seperti Pakde Nuri. Sebagaimana syukur saya atas adanya dalam hidup saya Kiai Tohar, semua anak-anakku di Kadipiro dan Simpul-simpul Maiyah, Pak Harwanto, Kiai Muzzammil, Rahmat Mulyono, Ibunda Cammana, Joko Temon, Pak Ismarwanto, Mas Heru Yuwono, Pak Busan, dan masih banyak lagi. 

Pada suatu hari bersama Pakde dan Cak Nang saya mengantarkan sahabat dahsyat lainnya Budi Setiawan, berhajat mendatangi seorang mahasiswi yang sedang KKN di desa naik gunung Magelang ke arah barat. Mahasiswi itu adalah koleganya Pakde Nuri yang direkayasa siapa tahu berjodoh dengan Budi.

Itu adalah Ekspedisi Kebodohan. Pakai Jeep butut Mitsubishi 19970 tiga versnelling tangan sebelah kiri setir. Saya baru bisa nyetir tiga hari diajari Saiful Imron, latihan utamanya adalalah jalan mundur di Lapangan Madukismo terus pulang ke Patangpuluhan mutar lewat Kantor Pos. Kok pekok-pekoknya nyetir Jeep ke gunung tinggi yang seharusnya dengan kendaraan offroad yang solid. Saya tidak tahu apa-apa tentang mobil dan nyetir. Jalanan berbatu-batu, menanjak curam naik. Cak Nang Pakde dan Budi harus siap sewaktu-waktu lompat turun untuk menahan badan Jeep dari belakang agar tidak melorot turun, kalau saya tidak berhasil mentepatkan tingkat kecuraman jalan dengan manajemen versnelling. Di suatu kelokan mesin Jeep macet karena tidak uluk salam “Assalamu’alaikum” kepada penjaga wilayah itu.

Sampai hari ini kalau saya disuruh nyetir lagi ke tempat itu, bulu kuduk saya bergidig dan tidak akan mau lagi melakukannya. Meskipun akhirnya tiba dengan selamat dan ketemu calon idaman pengantin Budi, dan kemudian misi Pakde ini ternyata gagal, kami balik ke Yogya dengan sangat pelan-pelan menyadari betapa dungunya perjalanan itu.

Beberapa waktu kemudian misi oper haluan ke Kasihan, Pakde dan saya sukses mempengantinkan Budi dan Mbak Koes penari ISI yang manis. Kami turut mempanitiai akad hingga resepsinya di Kantor Kecamatan Kasihan Bantul. Bahkan saya yang mengaji Qur`an di awal acara. Budi sukses berkeluarga, anak gede-gede tamat IKJ dan pekerjaan lancar, sampai akhirnya Budi dipanggil Allah sesudah 2010-an. Budi adalah saudara dan sahabat tinggal di Gang Jiung Kemayoran, sama setia dan mulianya dengan Mas Uki dan Pakde Nuri sendiri.

Budi mewariskan Michael Bodden di Patangpuluhan. Peneliti yang sekarang Profesor di Universitas Wisconsin. Budi meneliti macam-macam seni tradisional di Jateng dan Jatim. Budi yang miskin itu yang membiayai hampir semua perjalanan Michael, termasuk bersama saya ke Surabaya dan sekitarnya dari Yogya. Owalah saking ikhlas dan santunnya jiwa Budi, malah dia yang mentraktir Sarjana Negara Superpower Amerika Serikat. Michael tinggal di Patangpuluhan untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya menyewa rumah sendiri di pojokan Jl Sugeng Jeroni.

إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”.

Itulah Budi Jiung. Itulah Mas Uki Bayu Sejati. Itulah Pakde Nuri. Saya diantarkan oleh Budi ke TIM, IKJ, ke rumah Ray Sahetapy dan Dewi Yul dan ke mana-manapun, terutama berakhir warung di sekitar TIM, lantas pulang ke Gang Jiung dan menginap di situ. Tidaklah pernah itu terjadi, meskipun sudah kenyang di warung, tanpa sesampainya di rumah Budi masih selalu meracikkan kopi susu panas untuk saya.

Meskipun Pakde seharian kerja keras di Laboratorium Fakultas Pertanian UGM dan melayani sekian mahasiswa sampai sore, malamnya selalu standby kalau Kiai Tohar kirim SMS dan mengajak “wedangan” di entah warung malam yang mana. Sahabat-sahabat saya dalam kehidupan adalah manusia-manusia paling indah yang diciptakan oleh Allah Swt. Pakde dan Kiai Tohar bisa sampai menjelang pagi grenak-grenik merenungi kehidupan dan absurdnya Indonesia minum teh “nasgithel”. Tetapi Simon Hate keindahan yang lain tidak beserta mereka ketika minum atau “nginum” istilah Jawanya. Menurut idiomatik khas Simon, yang dilakukan oleh Pakde dan Kiai Tohar bukan “nginum”, melainkan “wedangan”. Wedangan itu teh atau kopi atau tambah jahe. Kalau “nginum” itu ya Bir, suatu jenis minuman yang mampu membawa tingkat kecerdasan Simon memuncak, terutama kalau sudah berbicara tentang Islam dan Tauhid.

Sampai-sampai kalau di Kadipiro nongol Simon, Bu Novia langsung perintah ke Rahmat Mulyono untuk membeli beberapa botol Bir, karena ingin mendengarkan ocehan religius Simon yang cemerlang secara batin dan level tinggi secara ilmu. Jangan memahami dan menafsirkan firman Allah dengan membatasinya berdasarkan batasan pengalamanmu sendiri atau menyempitkannya menurut keterbatasan pengalamanmu.

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ
وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ
وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ
مَن يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَلَا هُدٗى وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

Simon adalah filosof yang ketelingsut di rerimbunan Maiyah dan Kadipiro. Saya banyak belajar kepadanya agar tidak tergolong di dalam apa yang Allah sebutkan “yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan”.

Kalau sejak di Padhangmbulan Jamaah Maiyah mewiridkan ijazah Cak Fuad “Ya Allah Ya Mannan Ya Karim, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, Ya Allah Ya Fattah Ya Halim”, maka Pakde Nuri, Mas Uki, Kiai Tohar, Simon Hate, dan teman-teman sesepuh Maiyah lainnya adalah tanazzul dari Allah kepada kualitas kemanusiaan mereka.

Lainnya