Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4102

Saling Bersanad Dalam Lesatan Jalur Kenabian

(Liputan Sinau Bareng di Desa Kedungdowo Kaliwungu Kudus, 3 September 2019)

Lapis-Lapis Khataman Qur’an

Pukul 20.20 WIB KiaiKanjeng sudah menempati panggung dan langsung menyapa ragam wajah rindu para jamaah dan hadirin dengan nomor Kenduri Sholatullah. Tak lama Sholawat Badar mengalun, Mbah Nun hadir menyapa jamaah. Salah satu yang sering saya perhatikan, ketika Mbah Nun menyapa jamaah itu terasa sapaan yang benar-benar tulus. Rasanya seperti sahabat lama yang menanyakan kabarmu, bagaimana menjelaskannya? Atau seperti menatap gambar wajah seseorang yang senyumnya membangkitkan semangatmu setiap kali. Sekali lagi, bagaimana menjelaskannya? Hangat? Angin hangat berhembus, bukan puitis. Memang begitu. Suhu udara memang sekitar 27-28°C. Langit malam agak berawan. Tulus. Dalam setiap ketulusan itu, ada penegasan-penegasan keilmuan. Bahwa Maiyah, bahwa Sinau Bareng, adalah bergiat aktif menebar fadhilah Allah.

Untuk menghormati pihak penyelenggara, Mbah Nun meminta dilantunkan nomor “Khotmil Qur’an” dan ada alasan sendiri untuk ini. Mereka, keluarga besar penyelenggara Sinau Bareng kali ini, disebut oleh Mbah Nun sebagai contoh orang-orang yang telah mengalami salah satu step dalam khataman Qur’an. Dilanjutkan kemudian dengan pembabaran singkat bahwa khataman Qur’an tidak melulu peristiwa khataman membaca mushaf Al Qur’an. Ada lapisan khataman demi khataman. Ada perjuangan terus-menerus. Darinya kita bisa paham apa yang Mbah Nun ajakkan pada kita, bahwa khataman Qur’an adalah istiqomah terus mempraktikkan kesolihan. Dan Khatmil Qur’an menepati janjinya. Melantun.

Jalur Nubuwah Lintas Galaxi

Jangan melakukan apapun diluar jalur kenabian,” tegas sekali Mbah Nun menyatakan hal ini pada awal sesi Sinau Bareng di lapangan desa Kedungdowo, Kudus. Selasa 3 September 2019 ini adalah titik ke-4102 di Maiyah, Sinau Bareng di penjuru negeri. Kalimat Simbah ini entah kenapa terngiang-ngiang terus di dalam kepala saya. Setelahnya jamaah diajak bertualang ke alam diri. Sohibu Bayti, sebuah nomor yang menurut saya tingkatannya bukan sekadar musik tapi sudah mencapai maqam ritual, mengalun. Seluruh jamaah berdiri dengan khusyuk. Meresapi kembali tuan rumah sejati dalam hati. Ada saatnya kita melestarikan tradisi, ada saatnya kita menciptakan tradisi. Ada saatnya logika sains yang dingin seperti Star Trek, ada saatnya nyufi lintas galaxy seperti Star Wars.

Dialog terjadi sejak awal, Mbah Nun sempat memetakan secara singkat asal para jamaah dan tujuan datangnya. Yang dari Kudus banyak, tapi yang jauh juga tidak kalah banyak. Sangat banyak generasi muda. Yang mengharukan, rata-rata menyatakan bahwa kedatangan mereka untuk silaturrahim dan cinta. Bukankah mempertautkan hati antar manusia adalah pekerjaan kenabian? Sekali lagi kita diingatkan oleh Mbah Nun, bahwa era para Nabi telah ditutup oleh Nabiyullah Rasulullah Muhammad Saw. Tetapi pekerjaan kenabian itu tidak boleh berhenti dan lesatan sinyal nubuwah masih terus mengalir.

Kita ndak lantas perlu mengaku jadi nabi juga. Itu bukan soal salah-benar, itu soal over-confident amat manusia merasa sah jadi nabi seorang diri pada masa segalanya disalahkaprahi. Banyak yang dianggap wali saja sudah berpotensi jadi pengkeramatan dan pengkultusan sosok. Padahal kisah wali-wali juga belum pernah ada yang tentang waliullah berpetualangan ke galaxy lain. Maaf melantur.

Intinya, Mbah Nun sering dan kerap kali mengingatkan agar kita tidak jatuh pada pengkultusan dan kebanggaan kelompok belaka. Malam ini bahkan Mbah Nun sempat sampaikan, “Maiyah ora ono orapopo sing penting kowe dadi wong apik dan terus sama Allah dan Rosulullah.” Bagi saya, ini pernyataan yang sangat nubuwah. Pekerjaan nubuwah adalah pekerjaan pemerdekaan manusia dari berbagai legitimasi dan otoritas. Terlampau banyak legitimasi ilmu bahwa untuk ke Allah harus lewat jalur guru ini atau itu. Nilai mulia kemudian berkabut istana keruh. Ada lapisan penjajahan, baik yang disadari dan tidak disadari. Kita tidak selamanya sadar ketika sedang terjajah, namun lebih sulit mengakui bahwa diri kita juga bisa sangat menjajah. Bangkitnya energi nubuwah adalah membangun kewaspadaan apakah kita terjajah atau penjajah. Atau penjajah yang merasa terjajah. Atau entah berapa banyak lapisan labirin jiwa kita ini.

Kita cenderung punya potensi mendramatisasi pengalaman spiritual. Pandangan sejarah kita sering disertai bias spiritual bypass (sebenarnya ini istilah psikologi). Dan sejarah hanya kita maknai sebagai romantisme masa lalu. Seolah ada yang namanya budaya murni tanpa persentuhan dengan budaya lain.

Metode Penelusuran Kebenaran Dengan Kebersamaan

Setiap nabi turun dengan kompleksitas permasalahan di zamannya. Setiap zaman punya cara penceritaan yang khas. Dan berlapis, zaman satu bercerita tentang zaman lain. Maka itu, sepeninggal Rosulullah Saw para generasi pengkitab dan penyusun formulasi beragama menyusun metode-metode untuk melacak keabsahan narasi dan prodak ilmu Muhammad Saw. Ada metode untuk melacak rawi, menguji kualitas sanad, formulasi konklusi matan dan sebagainya. Itu adalah kerja kognitif, metode yang pas pada masanya. Satu metode, bisa diuji kembali oleh metode yang ditemukan belakangan. Namun kemudian, manusia mengulangi kedangkalan ahli kitab seperti dulu lagi. Satu perspektif tambahan, bahwa yang disebut ahli kitab pada masa Rasulullah Saw dulu adalah kaum yang kekeuh dengan keilmuan yang bersandar pada kitab-kitab klasik mereka yang dilabeli kekeramatan nama wali-wali dan ulama yang mereka kultuskan.

Tapi nubuwah ini melesat melintasi zaman. Kadang cahaya berendah hati memakai media tertentu untuk sampai ke satu objek, namun sejatinya cahaya sifatnya bisa beradiasi. Dia tidak butuh perantara magnetik, medan atau massa. Justru media-media itu yang membutuhkan cahaya. Kadang rindu begitu. Algoritma di smartphone memungkinkan kita meresapi wajah yang kita rindukan, walau jasadnya jauh di sana. Bagaimana algoritma tuhan? Sinau Bareng bukan wadah padat, tapi adalah pekerjaan bersama bebarengan. Bersama saling mengisi rindu, berguru dan bersanad satu sama lain, kesediaan menerima kekurangjangkepan pemahaman kita sendiri, terjadinya perombakan logika yang selama ini terlanjur baku dengan presisi kewaspadaan sepermili sekon tiap saat. Iktikad baik untuk membangun peradaban mahabbah, bersilaturrahim dan bekerja sama.

Buku Cak Nun