Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4102

Mengalirkan Nuansa (dan) Cinta

(Liputan Singkat Sinau Bareng di Desa Kedungdowo Kaliwungu Kudus, 3 September 2019)

Cahaya memecah remang. Lampu panggung mulai dinyalakan sekitar pukul 18.20 WIB, bakda sholat maghrib. Bapak-bapak dan ibu-ibu personel KiaiKanjeng sudah dengan busana dan stamina prima dalam pelayanan musikal. Nomor Tak Kupintakan yang mendayu membuka untuk cek sound kali ini.

Lapangan Desa Kedungdowo, Kudus Al Quds, sudah sejak sore diliputi kemeriahan. Para penjaja jajanan, penyewaan mainan anak sederhana, angkringan bahkan seorang bapak penjual tahu solet menghadiahi dua kantong besar jualannya untuk para crew KiaiKanjeng. Alir dan getaran nuansa cinta sudah terasa, Sinau Bareng masih akan dimulakan nanti sekitar pukul 20.00 WIB.

Bulan sabit yang tadi samar mulai tampak keemasan, angin bertiup kencang pada suhu yang menunjukkan 28°C. Kesadaran manusia dibentuk oleh berbagai macam pertemuan, perjodohan dan percintaan dengan berbagai macam unsur, baik sesama manusia maupun dengan sesama makhluk. Makhluk bumi maupun makhluk galaksi lain kalau kapan-kapan sudah bisa jumpa. Keterbatasan zaman kita masih pada kesadaran tanah-air di bumi. Kesadaran batas nation negara. Dan kesadaran budaya. Itu pun belum tentu kita lulus.

Sinau Bareng terasa sekali keistimewaannya kalau kita menyadari pada atmosfer seperti apa kita hidup: Dalam kebekuan yang membatu. Terlampau banyak metode pencarian akan kebenaran yang kemudian dibekukan, menjadi seolah adalah hasil kebenaran itu sendiri. Dalam Sinau Bareng, di berbagai majelis Maiyah, Mbah Nun selalu tekankan bahwa kita semua saling belajar. Saling berguru satu sama lain. Di sini terdapat pemecah kebuntuan atas yang dibakukan dan diberhalakan tanpa sadar.

Semua berhala, lahir dari pengkeramatan, pensucian yang berlebihan apalagi dengan dilabeli narasi magis yang diserem-seremin. Sebagaimana masyarakat pasca kolonial di berbagai belahan dunia, kita juga punya kecenderungan untuk membuat imajinasi kolektif kita ke arah magis dan mistis. Hal yang lumrah sebagai reaksi eskapis dari rasa rendah diri di bawah kekuasaan kolonialisme.

Pada akhirnya semua pengkeramatan menjadikan buntunya capaian keilmuan. Terlampau sering jejak kebenaran itu diikuti, kalau tidak salah begitu kata Nietzsche. Karena semestinya jejak untuk diteruskan. Bukan untuk direpetisi sebagai tradisi belaka.

Di panggung, KiaiKanjeng melanjutkan dengan nomor Yaa Imaamarrusl, sound sudah stabil dan percintaan kembali akan berlangsung. Bulan sabit makin terang. Di Sinau Bareng kita meguru pada sesiapa saja dan pada apa saja, pada angin dan hembusnya dan pada getaran dan pada aliran.

Buku Cak Nun