Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4102

Berpijak dan Mengalir di Sungai Al-Qur’an

(Liputan Sinau Bareng di Desa Kedungdowo Kaliwungu Kudus, 3 September 2019)

Sesudah Pambuko, Mbah Nun mengajak semua jamaah melantunkan doa khatmil Qur’an. Doa yang kita semua, terlebih anak-anak TPQ hingga santri-santri di Pondok Pesantren, pasti akrab bahkan hapal. Sudah menjadi rumus Mbah Nun, setiap nomor dihadirkan harus disertai dengan syarah, informasi, atau juga pengambilan makna.

Di situlah saya berharap, para santri-santri di Kudus yang semalam hadir bisa mendapatkan ilmu. Kudus bukan hanya kota kretek, tetapi adalah salah satu kota santri di mana terdapat sejumlah pesantren yang sedari dulu, jauh sebelum tren tahfidh Qur’an di perkotaan muncul, sudah menspesialisasi diri pada al-Qur’an seperti menghafal al-Qur’an dan pengembangan-pengembangan metode belajar membaca al-Qur’an.

Khalid, anak usia 14 tahun yang masih sekolah MTs yang berpartisipasi naik ke panggung, yang menyambut permintaan Mbah Nun agar di antara jamaah ada yang mau membacakan surat an-Naas, barangkali adalah salah satu contoh (standar) dari kemampuan para santri (di Kudus) dalam membaca al-Qur’an. Dia juga ikut melantunkan nomor Ya Rabbi Bil Mustofa saat KiaiKanjeng membawakan nomor yang sangat populer petikan dari syair al-Burdah Imam al-Bushiri.

Hal-hal atau ilmu berkaitan dengan al-Qur’an sangatlah luas termasuk mengenai lantunan al-Qur’an yang berhubungan dengan suara. Dalam tradisi di Indonesia atau di dunia Islam pada umumnya, ia diwakili oleh Musabaqah Tilawatil Qur’an. Ada disiplin-disiplin yang memandu para pembaca al-Qur’an untuk menghasilkan membaca al-Qur’an secara indah.

Jikalau aku jadi Khalid, aku akan belajar dan memperhatikan secara khusus suara Mbah Nun. Suara yang khas yang tampaknya tidak terlalu masuk dalam box standar MTQ, walaupun semasa mondok dulu Mbah Nun juga seorang qari’. Mbah Nun punya suaranya sendiri. Seorang seniman senior di Jogja, yang, maaf sekadar untuk memudahkan gambaran, dia bukan santri dan lebih dekat pada budaya abangan, mencatat suara Mbah Nun kalau nderes atau ngaji itu magis.

Kalau Mbah Nun bertanya ke jamaah mau request lagu apa, lalu mereka menjawab Tombo Ati atau Lir-Lir, barangkali itu bukan karena liriknya yang mereka juga sudah akrab, tetapi yang mereka tunggu adalah suara Mbah Nun. Perihal suara Mbah Nun ini mungkin belum eksplisit menjadi fokus kajian, tapi sekurang-kurangnya kita bisa merasakan bahwa suara Mbah Nun adalah contoh suara yang otentik. Suara yang menjadi indah atau khas tidak karena menghapal jenis-jenis maqamat lagu, tetapi lahir dari komposisi nasab dan sejarah perjalanan hidupnya, sensibilitas musikal yang tinggi, dan dorongan yang kuat untuk berdaulat dalam menentukan jenis lagu, sehingga suaranya punya power tersendiri. Khalid dan kita semua bisa memetik pelajaran dari Mbah Nun tentang perlunya menemukan suara kita sendiri.

Kemudian mengantarkan melantunkan bersama-sama doa Khatmil Qur’an bersama KiaiKanjeng ini, Mbah Nun mengatakan, “Hidup adalah tempat engkau berpijak dan mengalir di sungai al-Qur’anul karim.” Sedangkan tentang khataman al-Qur’an kita sudah sering dengar Mbah Nun menjelaskan bahwa khataman tidak hanya selesai membaca al-Qur’an dari juz satu hingga juz tiga puluh, tetapi setiap kita selesai dari suatu penekunan dalam kehidupan, dari satu pergulatan yang berakhir dengan satu kesadaran baru, itu adalah juga suatu khataman. Semalam, hal itu juga diungkapkan lagi oleh Mbah Nun.

Aku berharap, Khalid beserta teman-temannya yang kini mungkin sedang tekun belajar al-Qur’an, kelak ingat penjelasan Mbah Nun di atas, sehingga pada saatnya dia mampu menemukan al-Qur’an di dalam kehidupan dan membaca kehidupan dengan al-Qur’an.

Semalam Khalid tentunya juga belajar, sekurang-kurangnya mengingat dulu, tentang contoh bagaimana al-Qur’an menjadi perspektif yang lincah di tangan Mbah Nun dalam membaca berbagai hal. Misalnya, sesuai dengan tema Sinau Syukur tadi malam, Mbah Nun mengajak sinau kepada surat an-Naas yang ada tiga kata kunci di dalamnya: rabb, malik, dan ilah. “Kita sinau kepada Qul audzu birabbin naas…, supaya syukure ono akare…,” kata Mbah Nun.

Setidak-tidaknya Khalid dan kita semua bisa mencatat bahwa surat an-Naas pun bisa kita pakai sebagai perspektif dalam berbicara tentang rasa syukur, dan tidak hanya satu dua ayat yang sudah populer kita dengar. Masih banyak ayat-ayat lain yang dapat kita gunakan. Di sini, kita belajar dari Mbah Nun bahwa bukan hanya semua adalah inti, tetapi semua adalah berkaitan.

Itulah salah satu yang dapat saya petik dari Sinau Bareng di Lapangan Kedungdowo ini sembari menikmati musik KiaiKanjeng terutama pas doa Khatmil Qur’an ini dibawakan Mbah Nun dan vokalis KiaiKanjeng. Semua hadirin dan jamaah bareng-bareng ikut melantunkan. Suara seluruh orang yang memenuhi lapangan ini bersatu dan menyatu. Allahummarhamna bil Qur’an waj’alhu lana imaman wa nuuran wa hudan wa rahmah….

Buku Cak Nun