Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4102

Sinau dan Kangen Mbah Nun

(Liputan Singkat Sinau Bareng di Desa Kedungdowo Kaliwungu Kudus, 3 September 2019)

Waktu memasuki Lapangan Desa Kedungdowo Kudus ini, saya menjumpai orang-orang sangat banyak memenuhi luasnya lapangan ini. Rumput lapangan ini mungkin tidak tebal-tebal amat, sehingga debunya berhembus atau sedikit terbang, menandakan memang banyak kaki yang masuk ke tempat ini. Kepadatannya sampai di kanan kiri dan belakang panggung. Tepat ketika mobil Mbah Nun tiba, jarak antara pintu deretan orang yang dikawal oleh Banser sangat sempit, tak sampai satu meter. Benar-benar padat memang.

Saya mbatin. Dari mana sajakah mereka. Apa yang membuat mereka antusias datang ke Sinau Bareng ini. Kalau pakai bahasa Dewi Lestari, sihir apa yang membuat mereka terserap ke sini. Ini pertanyaan standar. Sewaktu Mbah Nun, rombongan tuan rumah, serta Pak Kyai Abdul Jalil dan Habib Anies Ba’asyin tiba di panggung, saya nyempil di bagian belakang panggung, saya menoleh ke sisi kanan dan kiri. Memang berjejal orang-orang yang mengalir ke sini. Saya coba pandangi wajah-wajah mereka, dan dari sorot mata mereka, ada banyak yang bisa kita rasakan.

Pada waktu Shohibu Baity dipilih Mbah Nun untuk menjadi awalan perjumpaan Sinau Bareng ini, mereka semua berdiri. Saya lantas mendapat pemandangan cacah jiwa yang berdiri semuanya. Nyaris tanpa jarak antar satu sama lain. Mengedarkan pandangan ke luasnya lapangan ini makin memaparkan banyaknya mereka. Juga di jalan-jalan, penuh oleh hadirin yang tak tertampung di lapangan. Bahkan, satu kilo lebih sebelum masuk tikungan ke lapangan, jalan tadi sangat padat.

Apa yang saya mbatin tadi, ternyata terjawab oleh Mbah Nun ketika Mbah Nun mengabsen mereka. Siapa yang dari Kudus? Tangan-tangan mengacung. Yang dari luar Kudus? Tangan-tangan mengacung lagi tak kalah banyaknya. Didetail lagi sama Mbah Nun, dan hasilnya: ada yang datang dari Pati, Rembang, Jepara, Blora, Tegal, Lamongan, Brebes, Ngawi, Bojonegoro, Cilacap, dll. Beberapa kota dari deretan nama kota ini relatif jauh dari Kudus, dan ini membuat Mbah Nun bertanya lagi apa yang membuat mereka datang ke sini.

“Pingin sinau dan kangen kalih Panjenengan, Mbah,” jawab teman kita yang datang dari Tegal. Suaranya agak gemetar. Saya yakin karena menahan kangen. “Ingin sinau bareng kepada Njenengan dan silaturahmi sama teman-teman yang lain yang ada di Kudus,” kata yang datang dari Lamongan. “Semoga Allah tak pernah meninggalkan Anda semua siang malam, Anda disayang Allah,” respon Mbah Nun kepada mereka semua.

Tepat ketika saya akan akhiri berita singkat ini, Mbah Nun sedang mengajak semua jamaah menyanyikan Tombo Ati, yang berarti ini tadi sudah melewati beberapa tahap, dan telah sampai pada suatu kekentalan yang benar-benar kental antara Mbah Nun dan semua hadirin. Mereka sangat enak diajak bershalawat. Nyahut terus mereka dengan baik. Termasuk saat berbagi kelompok dalam melantunkan dzikir tauhid bersuasana gembira (La Robba Illallah, La Malika Illallah, dan La Ilaha Illallah), nilainya sangat baik. Dan sampai saat itu pula, saya yakin para tuan rumah dan penyelenggara telah tenggelam dalam rasa bahagia.

Sinau Bareng malam ini diselenggarakan oleh keluarga besar Politeknik Rukun Abdi Luhur (Poltekun) Kudus yang tahun ini resmi didirikan, serta keluarga besar RSU Kumala Siwi dan KSP Rukun Kudus. Ketiganya dalam satu yayasan. Sebelum menuju lapangan, Mbah Nun diajak melihat RSU tersebut dan di sana, Mbah Nun diminta mendoakan bagi kemanfaatan dan keberkahan RSU ini.

Buku Cak Nun