Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4102

KH Abdul Jalil: Nilai Tertinggi adalah Kosong

(Liputan Sinau Bareng di Desa Kedungdowo Kaliwungu Kudus, 3 September 2019)

Judul di atas saya kutip dari penjelasan KH Abdul Jalil, yang sudah beberapa kali Sinau Bareng di Kudus turut menemani Mbah Nun di panggung, dan disampaikan malam ini. Pada mulanya ini adalah lanjutan dari respons KH Abdul Jalil mengenai perbedaan antara Nabi dan Rasul yang dimintakan Mbah Nun untuk dijelaskan kepada semua jamaah.

Kyai Jalil bertanya, apa agama yang tertua di Jawa? Menurut pembacaan dia, agama asli/tertua di Jawa bernama Kapitayan. Nama ini berasal dari kata Toyo yang berarti “kosong”. Jadi, nilai tertinggi di Jawa adalah ketika Anda sudah mampu mengosongkan diri. Mengosongkan diri dari keserakahan, dari nafsu yang buruk, dan kecenderungan sejenis.

Jika kata toyo ini ditarik ke Cina, maka menjadi Tao (Taoisme). Sedangkan kalau ditarik ke al-Qur’an maka akan sampai pada ayat inni ana robbuka fakhla’ na’laika innaka bil waadil muqaddasi thuwaa. Tambahan, karena itu pula, orang-orang Jawa dahulu kalau selalu menggunakan kata “tu” untuk menyebut hal-hal yang penting. Misalnya tutug yang berarti telah sampai pada satu titik setelah melewati perjalanan panjang. Juga tuwo.

Pencapaian nilai tentang diri yang kosong itu sudah ada sejak 1500 tahun SM atau 2000 tahun sebelum Islam datang. Kata Kyai Jalil, ketika manusia diciptakan oleh Allah, dalam perjalanan untuk kembali ke Allah, dibutuhkan orang-orang yang diutus untuk membimbing. Itulah para Nabi, dan jumlahnya sangat banyak. Satu referensi menyebut jumlah Nabi kira-kira 124.000. Menurut Kyai Jalil, dari jumlah itu mestinya Jawa kebagian, kalau melihat tingkat pencapaian kebijaksanaan hidup seperti diuraikan di atas.

Yang diterangkan Kyai Jalil tadi berkaitan dengan apa yang disampaikan Mbah Nun tentang jalan kenabian. Pada tulisan selanjutnya, semoga bisa saya hadirkan. Menurut Kyai Jalil, apa yang diajakkan Mbah Nun melalui Sinau Bareng sejalan adanya dengan nilai-nilai tertinggi yang telah dipahami oleh orang-orang Jawa ribuan tahun silam.

Kemudian mengenai sinau syukur sebagai tema besar Sinau Bareng malam ini, Kyai Jalil menyitir pandangan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang mengatakan, tugas orang kaya adalah bersyukur, sedangkan tugas orang miskin adalah bersabar. Orang miskin yang sabar lebih tinggi nilainya dibanding orang kaya yang syukur. Adapun orang miskin yang bersabar dan bersyukur itulah yang tertinggi nilainya.

Demikianlah, beberapa butir wejangan dan pengetahuan yang di-share oleh Kyai Jalil sebagai bagian dari Sinau Bareng malam ini. Setelah Kyai Jalil, giliran kesempatan diberikan kepada Habib Anies. Kedua beliau ini, malam ini juga diminta menjadi dewan juri untuk workshop kelompok yang telah ditugasi Mbah Nun beberapa pertanyaan untuk didiskusikan.

Buku Cak Nun