Muara Rindu Kiai-Santri

(Liputan Ngaji Areng-Sareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, Camplong, Sampang, Madura, 27 Agustus 2019)

Madura memang tempatnya para kiai. Perihal bagaimana persepsi tentang kiai itu terbentuk secara historis maupun sosiologis, kita bisa bahas kapan-kapan. Kita berdamai dulu dengan pemahaman bahwa kiai adalah sosok yang dituakan di masyarakat berkultur santri dan pondok pesantren tentu saja. Saya agak punya jarak dengan kultur semacam ini, jadi saya hanya bisa mengamati bagaimana kelas-kelas sosial itu terbentuk dan saling berelasi.

Saya duduk di dataran yang agak tinggi pada awal acara Sinau Bareng di Sampang, sehingga cukup bisa memperhatikan beberapa fenomena dan gejala dari kejauhan. Ketika Mbah Nun menuju ke panggung, diantarkan dengan nada Sholawat Badar dari KiaiKanjeng yang telah lebih dulu berada di panggung, butuh waktu tidak sebentar untuk Mbah Nun sampai. Itu sebab kerumunan jamaah mengerubung, berebutan salaman atau bahkan sekadar merangkul dan memegang pundak Mbah Nun. Saya selalu penasaran, belief system seperti apa yang mendorong manusia melakukan sesuatu? Apakah rindu? Apakah cinta?

Kalau kelas santri, terutama yang masih sangat muda, berebutan salaman pada Mbah Nun sangat bisa dipahami secara pembacaan sosial. Dunia yang sedang kehilangan kepengasuhan, tentu generasi mudanya rindu pada sosok orang tua. Tapi setelah saya coba perhatikan lebih erat, tidak cuma para santri ternyata yang ada dalam kerumunan itu. Bahkan beberapa pemuda yang mengenakan peci putih merah, mulai terasa bisa menempatkan rindu mereka dengan presisi: memilih memperhatikan dengan senyap, memandang-mandang dengan rindu pada sosok Mbah Nun yang sedang di tengah kerubutan.

Jarak pandang saya coba sedikit lebih zoom in, sekali lagi, tidak hanya para pemuda di sana. Tapi banyak juga para tokoh yang nampaknya kiai, diantara mereka sangat sepuh, berusaha mendekat memanggil-manggil. Kalau dalam reportase sebelum ini, saya sempat menemukan kata “makempok” yang artinya mengumpulkan yang berserakan. Nah fenomena makempok itu bisa kita dapati juga pada peristiwa di awal ini (sebelum saya mendengar kata “makempok”).

Artinya? Mungkin begini, kita hidup dalam klasifikasi kelas-kelas sosial dan tidak banyak usaha untuk membongkar “istana” sosial itu. Tapi dalam Sinau Bareng, tiba-tiba manusia keluar kemurniannya, istana sosial mereka dengan segera dan dengan tulus mereka bongkar dulu. Kelas santri dan kelas kiai membaur tanpa ada jarak pemisah, tanpa ada privilege.

Ketika Sinau Bareng selesai, saya kembali memperhatikan fenomena serupa. Kali ini karena sudah sedang bubaran, jadi saya bisa leluasa nyempil ke tengah-tengah. Disitu saya saksikan dari dekat kerinduan-kerinduan itu berlabuh. Saya konfirmasi kembali pandangan saya yang tadi hanya dari pengamatan zoom out. Kali ini saya bisa meresapi bahwa itu rindu, cinta, dan kemesraan. Saya mungkin termasuk kaum yang sial karena tidak besar pada lingkungan nyantri, tidak punya budaya salaman dan patuh pada dawuh kiai.

Beberapa tokoh yang nampaknya berusia sepuh mendekat, menyalami dan menciumi tangan Mbah Nun. “Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get”, kata Forrest Gump di film dengan mengutip kalimat dari ibunya. Iya, saya juga tidak pernah menyangka bisa melihat pemandangan para kiai berebut salaman dengan Mbah Nun yang justru sangat menolak status dan privilege sosial ke-kiai-an. Itu bisa kita lihat dari dua arah, bisa karena Mbah Nun-nya atau memang karena sikap tawadhu’ yang ditanamkan di kultur santri. Tapi ada satu perspektif lagi, dari jauh semua bermuara pada rindu.

Lainnya