Makempok Realitas Tauhid

(Liputan Ngaji Areng-Sareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, Camplong, Sampang, Madura, 27 Agustus 2019)

Bukankah kita sedang hidup dalam ketidakutuhan demi ketidakutuhan? Maiyah dan berbagai majelis Sinau Bareng, sangat konsentrasi pada kebulatan dan keutuhan manusia dengan presisi pikir dan logika. Dan sangat panjang perjalanan menuju keutuhan. Kita sedang tercerai-berai bukan hanya antar person dan antar golongan tapi kita semakin terpecah dengan diri kita sendiri.

Jamaah berkumpul dan memadat pada gelaran Sinau Bareng, atau dengan bahesa lokal yang tercantum di background, Ngaji Areng Sareng Cak Nun dan KiaiKanjeng yang diinisiatifi oleh Yayasan Mahkuto Romo pada hari Selasa malam di wilayah Sampang, Madura. Dari sejak bakda maghrib, panggung telah diramaikan oleh berbagai sajian musikal. Angin selalu berhembus kencang di daerah ini namun suhunya cukup gerah sekitar 29°-30°C. Ketika Mbah Nun telah dipersilakan untuk menuju panggung, butuh waktu cukup lama untuk Mbah Nun bisa tiba di panggung.

Jamaah dan hadirin berdesakan ingin bersalaman, menyentuh atau merangkul Mbah Nun. Persoalannya, bukan cuma santri-santri muda saja yang melakukannya. Beberapa yang cukup sepuh dan dipanggil Kyai juga ikut berebutan terlibat dalam peristiwa semacam ini. Tampaknya iklim relasi magis sangat kuat mempengaruhi kehidupan warga sekitar sini. Iklim relasi macam ini cukup mudah ditemui pada masyarakat-masyarakat pasca-kolonial memang.

Setelah cukup lama, akhirnya bisa tiba di panggung Mbah Nun langsung mengajak jamaah untuk kembali mengutuhkan diri kita dengan pertama-tama menyadari siapa diri kita berdasarkan struktur-struktur yang ada dalam kehidupan real. Diri kita sebagai manusia yang ber-Islam, sebagai anggota keluarga, masyarakat negara, dan masyarakat dunia. Struktur-struktur ini tentu tidak bisa kita hindari, hanya tanpa sadar kita sering salah menempatkan dengan tepat pola pikir yang cocok untuk struktur tertentu sehingga kita tercerai-berai, tidak utuh sebagai manusia.

Mbah Nun menegaskan bahwa kita harus terus memperjuangkan keutuhan diri. Dan Yai Muzammil memberi satu kata yang pas dengan telinga lokal “itu namanya makempok” kata Yai Muzammil. Ternyata “makempok” ini artinya semacam mengumpulkan serakan-serakan yang tersebar. Salah satu serakan itu misalnya adalah pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Mbah Nun kembali menyontohkan, bahwa segala sesuatu sangat berkaitan dengan kerja Allah SWT di dalamnya.

Yang menjadikan Sinau Bareng selalu menarik adalah bagaimana realitas diolah dan dielaborasi. Persoalan didengarkan, diserap dan dicarikan bersama solusinya. Salah satunya ternyata daerah Sampang ini menjadi wilayah dengan konsumsi narkoba yang sangat tinggi. Bahkan tertinggi untuk cakupan wilayah provinsi Jawa Timur.

Harap kita ingat, nuansa acara ini sedang sangat mistik, sangat sufistik. Banyak tokoh-tokoh yang tampaknya orang-orang yang dikeramatkan masyarakat yang hadir, banyak manusia dengan sikap dan tindak-tanduk seperti dalam lukisan sufi, bersorban, berjubah, beberapa sarungan ada juga yang berkacamata hitam (?).

Intinya atmosfer sangat kondusif untuk membahas hal-hal sundul langit macam konsep-konsep teologis tasawuf. Bisa juga ini jadi pertanyaan besar, kenapa bisa wilayah yang sangat religius bahkan bernuansa spiritual seperti ini punya masalah semacam narkoba. Tapi Mbah Nun membawa nuansa yang sangat nyufi malam hari ini pada kesediaan kita untuk berjuang membereskan persoalan. “Minimal anda yang datang kesini semuanya tidak ikut mengkonsumsi narkoba dan pastikan keluarga dan orang terdekat anda untuk menjauhi.” Ini yang membuat Sinau Bareng selalu menyenangkan. Sinau Bareng selau berkonsentrasi pada persoalan real. Perjuangan nyata yang konkrit. Tentu tidak bisa selesai dalam semalam, kota Roma tidak dibangun dalam sehari bukan? Tapi jamaah diajak untuk ikut terlibat menggiring proses menuju kebaikan. Mbah Nun di tengah acara sempat sampaikan, “Anda jangan terlalu menuntut sesuatu menjadi baik, Anda harus ikut memproses agar sesuatu itu jadi baik”.

Sinau Bareng masih berlanjut dan reportase singkat ini hanya sepenggalan kisah serta penangkapan fenomena. Tentu masih perlu pencatatan yang lebih mendalam dari ini. Ini semua juga adalah perjuangan “makempok”, menyatukan yang tercerai-berai dan mengolahnya menjadi daya perjuangan yang real. Yang nyata. Sinau Bareng itu nyata.

Lainnya