Sirr Pembebasan KiaiKanjeng

(Petik Ilmu dari Ngaji Areng-Sareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, Camplong, Sampang, Madura, 27 Agustus 2019)

KiaiKanjeng punya sebuah nomor berjudul Sirr, dan di Sampang empat hari lalu, nomor itu dihadirkan, tepatnya di segmen awal. Musiknya sangat wiridis. Mohon maaf, saya sebut begitu, sebab mau saya gambarkan dengan “bernuansa wirid” rasanya kok kurang thes. Saya butuh satu kata, dan yang muncul dalam pikiran saya adalah kata wiridis tersebut.

Musik Sirr membawa kita untuk masuk ke dalam, sublim, tetapi arahnya mendaki. Seorang jamaah kesetrum dan kemudian berdiri di atas panggung, mengikuti lekuk dan progresi nada Sirr ini dengan menggerakkan badannya, menari, tapi tariannya tidak sepenuhnya seperti tari Sufi Rumian atau Darwisyi. Mungkin dia juga bukan seorang penari Sufi, tapi punya sensibilitas yang terbangunkan oleh musik Sirr ini.

Kepalanya lebih sering melihat ke atas, sementara tangan dan kakinya terus melakukan gerakan-gerakan yang dia usahakan sejalan dengan irama Sirr. Sementara, matanya lebih banyak tertutup, tanda dia masuk ke dalam. Apa yang dia lakukan di panggung ini pun mendapatkan tempat, sehingga menyumbangkan satu item yang menambah kekayaan Sinau Bareng malam itu.

Semua jamaah lainnya juga mengikuti kekhusyukan Sirr ini. Suasana yang sebelumnya agak ramai karena mereka para jamaah itu tak bisa menyimpan rasa kangen kepada Mbah Nun sehingga ingin bersalaman atau minimal menyentuh badan Mbah Nun saat berjalan menuju panggung, segera beralih menuju setengah keheningan, atau kesunyian. Selama hampir 15 menit, Sirr membawa mereka berdzikir.

Buat kita ingat, nomor Sirr ini adalah salah satu karya Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang menandai momentum penting yaitu ditemukannya terminologi ‘Maiyah’ di dalam perjalanan panjang Mbah Nun dan KiaiKanjeng melakukan pengabdian kepada masyarakat. Maka sejak saat itu kata Maiyah muncul dan teman-teman semua diajak menyelami makna dan pemaknaannya. Ketika itu pula untuk kali pertama KiaiKanjeng mengenakan kostum putih-putih dengan peci yang juga kemudian dikenal sebagai peci Maiyah.

Dalam rangkaian momentum itu, Mbah Nun menyusun satu paket wirid yang bernama Wirid Maiyah Nusantara. Nomor Sirr ada di dalamnya. Maka, bagi teman-teman yang pada 2001 sudah sering ikut Maiyahan, pastilah akrab dengan Sirr ini. Setiap kali Maiyahan, dalam formasi melingkar atau setidaknya setengah melingkar Mbah Nun membawakan Wirid Maiyah Nusantara ini, bahkan pada setiap Maiyahan itu Mbah Nun juga siapkan satu narasi puitik untuk dibacakan beriringan dengan wirid Maiyah Nusantara ini.

Seperti sekilas dikatakan Mbah Nun di Sampang empat hari lalu itu, Sirr berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘rahasia’. Kata Sirr ini, jika kita lihat pada khasanah tasawuf, memang merupakan istilah yang banyak dipakai dalam, misalnya, judul karya para ulama atau sufi di masa lalu. Sebagai contoh, Syaikh Ali bin Muhammad Husain al-Habsyi yang menulis Maulid Simthuth Duror menulis kitab Diwan setebal empat jilid berjudul al-Jauharul Maknun was Sirrul Mashun. Dalam bentuk jamak (asrar), bisa kita temukan kata tersebut, misalnya, pada karya Syaikh Nuruddin ar-Raniri yaitu Asrarul Insan Fi Ma’rifatir Ruh war Rahman.

Melihat term-nya saja sebagaimana digunakan dalam khasanah tasawuf, kata sirr menunjukkan terdapat wilayah-wilayah pengetahuan yang tampaknya tidak setiap orang mampu menjangkau. Dibutuhkan kualifikasi di situ. Dan, namanya juga rahasia, maka diperlukan ilmu atau laku tertentu untuk menggapai atau menguaknya. Tepat di titik itu pulalah terbangun struktur di mana ada orang yang lebih mengetahui (dan karena itu memegang otoritas), sementara ada yang lain tidak atau belum mengetahui, atau butuh perjuangan panjang untuk mengetahuinya.

Kalau melihat Sinau Bareng, pandangan atau babaran Mbah Nun tentang berbagai soal menyangkut agama dan dimensi esoterik manusia (ketuhanan, filsafat agama, psikologi agama) sangat apa adanya. Tidak ada nada di mana ilmu itu dirahasiakan. Sering Mbah Nun menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman pada topik-topik spiritual dengan bahasa yang mudah, dengan pendekatan yang juga dibikin mudah, karena tampaknya Mbah Nun berpendapat kalian semua punya hak yang sama untuk memahami dan memang ilmu bersifat terbuka. Siapa saja boleh mengaksesnya, tetapi semua sudah diberi batas-batas dulu oleh Beliau: nomorsatukan kebijaksanaan, tetaplah dalam keseimbangan, dll sejenis.

Dengan cara itu, Mbah Nun mencoba membebaskan kita dari perasaan inferior (spiritual inferiority) yang mungkin menghinggapi kita. Pengetahuan boleh dimengerti. Yang dibutuhkan adalah kemampuan analogis atau kemampuan menggambarkan secara mudah sehingga orang lain bisa terbantu untuk memahami. Mbah Nun telah menyumbangkan banyak hal dalam ini. Sehingga lewat kekayaan perspektif analogis Mbah Nun, grass root pun bisa turut memahami. Grass root juga sekaligus dibebaskan dari rasa inferior. Idealnya dalam pengetahuan spiritual, yang berlangsung adalah kemerataan. Mungkin memang ada yang lebih tahu di antara banyak orang itu, namun jika bisa janganlah njomplang-njomplang amat.

Lebih menyedihkan jika ada yang mengeksklusif-ekskslusifkan pengetahuan hanya terpusat pada segelintir orang. Sedangkan yang dibutuhkan adalah mereka yang tahu mencari cara supaya yang lain juga ikut tahu. Semoga kita bisa mencatat bahwa Sinau Bareng adalah ikhtiar untuk bersama-sama mendistribusikan pengetahuan dan ilmu. 

Sirr KiaiKanjeng yang mengisi beberapa saat ruang waktu mengingatkan beberapa hal di atas. Sirr KiaiKanjeng juga menawarkan kita bisa masuk dalam rahasia/sirr tidak selalu dengan pendekatan kognitif. Lewat musik pun bisa. Sirr KiaiKanjeng yang masuk ke desa-desa hingga Sampang Madura membawakan sinyal kesetaraan akses spiritual.

Sirr KiaiKanjeng malam itu memperdengarkan kembali beberapa rahasia hidup ini, misalnya, ya Allah ‘allimna min ma jahilna (ya Allah berilah ilmu pada kami atas apa-apa yang kami bodoh/tidak mengetahui). Lantunan kalimat ini mengingatkan lagi pada saya bahwa pada presisi tingginya: kita hakikinya tak punya ilmu kecuali Allah memberikannya. Ini rahasia, tetapi tidak dirahasiakan. Karena kesadaran yang demikian sebagai bagian dari rahasia Allah sangat dibuka untuk dimiliki siapa saja. Allah membagi-bagikan rahasia, tapi mungkin kita, eh (lagi-lagi)…saya, kurang rajin menangkapnya. Untunglah Sirr KiaiKanjang membantu menghimpunnya buat saya, dan kita semua.

Buku Cak Nun