Speaker KiaiKanjeng Berapa Truck?

(Liputan Ngaji Areng-Sareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, Camplong, Sampang, Madura, 27 Agustus 2019)

Saat sedang menuliskan reportase singkat pada awal acara, seorang bapak mendekati saya dan duduk. Saya cuma menoleh sebentar, kemudian lanjut menulis. Bapak berbaju koko abu-abu itu tiba-tiba berkata dengan logat Madura yang kental “Ini soundnya KiaiKanjeng, berapa truk ya?” Karena sedang menulis, saya cuma angkat bahu. Malas ngobrol. Tapi tiba-tiba saya sadar, pasti ada alasan kenapa bapak ini bertanya soal sound. Saya hentikan menulis sebentar, saya menoleh dan bapak itu saya perhatikan beliau memandangi speaker-speaker bertuliskan Paramarta di bibir panggung. Dan lekat sekali beliau memperhatikan.

Akhirnya saya tanya “Kenapa bapak nanya soal speaker?” dan bapak itu bilang, masih dengan logat Madura “O ndak. Soalnya bagus, enak begitu suaranya. Ndak pernah di sini ada pengajian koq suaranya enak”. Saya tanya bagaimana memangnya pengolahan sound pada tradisi shalawatan dan pengajian di wilayah sini. Begini kata bapak itu, ”Biasanya kan ndak diseriusin suaranya itu, biar kita yang suka shalawatan aja kadang keganggu sama suaranya. Berisik begitu. Yang ini (nunjuk speaker) kan ndak, kenceng tapi jernih kan enak”. Saya layangkan pandang ke belakang panggung, di sana ada tim sound dan pengelola panggung Pak Erfan, Mas Pentil, Mas Awi, duet Mas Veri dan Mas Deby, ada Mas Yudist. Orang-orang yang saya kagumi kelihaian, keikhlasan, dan totalitasnya.

Kita perlu menyadari bahwa konsep KiaiKanjeng sebagai musik yang melayani juga tergambar dari bagaimana teknis panggung dan sound itu diolah dengan kadar keseriusan yang tidak berkurang sedikit pun mau tampil di kota besar atau di pelosok. Tanpa sadar, ini agak menaikkan standar masyarakat mengenai konsep musik yang berkualitas. Tidak karena dianggap pelosok lantas masyarakatnya pasti akan terima-terima saja biar dikasih sound kemresek. O ndak begitu, eh kenapa saya ketularan logat bapak ini?

Di panggung Mbah Nun sedang melayani manusia, melayani para hadirin, menempa kemesraan demi kemesraan. Ada jejaring pelayanan dalam setiap peristiwa Sinau Bareng.

Buku dan Merchandise