Lewa’ Salili’u

Catatan Perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 4

Sesuai dengan agenda sudah disusun sebelumnya, Ahad siang (24/2) Letto beserta rombongan, termasuk Kyai Muzammil dan Koordinator Simpul terjadwal untuk silaturahmi ke kediaman Bunda Cammana di Limboro. Perjalanan menuju Limboro ditempuh sekitar 15 menit dari penginapan yang letaknya di Majene. Limboro sendiri adalah sebuah kecamatan yang letaknya dekat dengan Tinambung, salah satu daerah yang tergabung di Kabupaten Polewali Mandar. 

Cuaca di Tinambung siang kali ini seperti hari-hari biasanya, suhu udara cukup panas. Menurut masyarakat di Tinambung, hujan memang sangat jarang turun akhir-akhir ini. Tampak beberapa mobil membawa tandon besar berisi air yang diambil dari sungai Mandar. Beberapa masyarakat terpaksa harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. 1 tandon besar dijual seharaga Rp. 75.000,-. 

Bunda Cammana tersenyum bahagia menyambut kedatangan kami untuk kedua kalinya. Sebelumnya, pada hari Kamis (21/2) lalu, kami juga dijamu makan siang oleh Bunda Cammana. Namun, kedatangan kami yang pertama itu hanya sebentar, karena Mas Sabrang harus segera menuju Wonomulyo mengisi workshop Literasi dengan teman-teman Rumpita.

Kedatangan kami kedua kalinya di kediaman Bunda Cammana lebih berkesan. Baru sebentar kami duduk, setelah dijamu kudapan ringan oleh Bunda Cammana, beberapa anak didik Bunda Cammana dipanggil. Anak-anak kecil itu kemudian melantunkan beberapa sholawat yang diiringi pukulan rebana. Setelah anak-anak kecil, giliran Bunda Cammana dengan ibu-ibu yang bersholawat. 

Bunda Cammana adalah tokoh di Mandar yang hingga hari ini istiqomah melestarikan budaya sholawatan dengan paduan kesenian terbang. Di Mandar, kesenian terbang ini biasa disebut dengan Parrabana, dan spesialnya lagi Bunda Cammana adalah orang yang spesifik melestarikan kesenian Parrabana Tobaire. Di depan kediaman Bunda Cammana ada sebuah sanggar yang dibangun oleh Mbah Nun, Sanggar Sholawat “Shohibu Baitiy” namanya. Sebuah papan nama terpasang di pinggir jalan raya sebelum memasuki jalan kecil menuju kediaman Bunda Cammana.

Di dalam sanggar itu, terdapat banyak sekali penghargaan yang didapatkan oleh Bunda Cammana, baik dari pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, bahkan hingga pernghargaa nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia atas perjuangan Bunda Cammana melestarikan kesenian Parrabana Tobaire itu. Sebagai informasi tambahan, K.H. Zawawi Imron pun pernah singgah di kediaman Bunda Cammana, dan seperti ketika Mbah Nun datang ke Limboro, yang terjadi kemudian adalah sholawat berbalas sholawat yang dipuncaki dengan tangis haru luapan rasa rindu kepada kanjeng Nabi Muhamammad Saw.

Lewa’ Salili’u, sebuah ungkapan dalam bahasa Mandar yang artinya adalah rindu yang tidak terbendung. Dan ketika siang ini anak-anak didik Bunda Cammana bersholawat, baru sholawat pertama dilantunkan, mata Bunda Cammana sudah berkaca-kaca, hingga pecah sudah tangis haru Bunda Cammana. Rindu ini sudah tak terbendung. Ya Rasul salam ‘alaika.

Kyai Muzammil pun mengajak Letto dan teman-teman lainnya untuk bersholawat bersama. Semakin pecah tangis Bunda Cammana. Diusapnya air mata dengan ujung kain kerudung yang ia kenakan. Setelah usai sholawatan, Bunda Cammana menyampaikan kepada Bang Tamalele, ketika sholawatan tadi Bunda Cammana merasakan kehadiran Mbah Nun di kediamannya.

Secara spontan, Mas Sabrang kemudian melakukan Video Call dengan Mbah Nun yang baru saja tiba di Yogyakarta setelah acara Maiyahan malam sebelumnya di Bulungan, Kalimantan Utara. Begitu bahagia Bunda Cammana bisa berbicara dengan Mbah Nun meskipun hanya melalui video call. “Di mana kau, Nak?”, Bunda Cammana menyapa Mbah Nun. Bagi Bunda Cammana, Mbah Nun sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Mbah Nun pun kemudian menyapa Bunda Cammana, memohon doa dan juga berpesan untuk menasehati cucu-cucunya dari jauh yang sedang berada di Mandar hari-hari ini.

Meskipun hanya bisa berkomunikasi secara virtual, momen ini tidak disia-siakan oleh Bunda Cammana. Dari Jogja, Mbah Nun meminta Bunda Cammana untuk berdoa secara langsung, Mbah Nun turut mengamini doa demi doa yang dilantunkan Bunda Cammana, setelah Bunda Cammana berdoa, Mbah Nun pun kemudian bergantian berdoa. Semua yang hadir khusyuk mengamini doa-doa yang dilantunkan oleh Bunda Cammana dan Mbah Nun siang ini.

Ketika kami hendak berpamitan, tampak Bunda Cammana tak ingin melepas kami. Dipegang erat lengan Mas Sabrang, tampak masih kangen Bunda Cammana dengan cucunya ini. Kami pun berpamitan, Bunda Cammana melepas kami dengan senyum bahagia, sembari tersimpan harapan semoga kami segera dipertemukan kembali. (Fahmi Agustian)

Buku Cak Nun