Ma Arioi 21 Tahun Papperandang Ate

Catatan Perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 5

Sebagai puncak dari perjalanan Letto, Kyai Muzammil dan Koordinator Simpul di Mandar adalah Maiyahan Papperandang Ate yang di bulan Februari 2019 ini tepat berusia 21 tahun. Papperandang Ate adalah simpul Maiyah yang lahir di akhir 90-an, sebelum lahirnya Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat dan Kenduri Cinta.

Sedikit sejarah Papperandang Ate, awalnya rombongan anggota Teater Flamboyant mengikuti Majelis Padhangmbulan di Jombang pada tahun 1997. Sebanyak 20 orang rombongan dari Mandar bertolak menuju Jombang. Dengan menggunakan transportasi darat dan laut. Dari Mandar mereka menuju Makassar dengan perjalanan darat, kemudian melanjutkan dengan perjalanan laut. Setelah berlabuh di Surabaya, mereka menuju Jombang. Singkat cerita, sepulang dari Padhangmbulan, mereka berinisiatif melahirkan forum serupa di Mandar, maka lahirlah Papperandang Ate yang artinya kurang lebih; menjernihkan hati.

Dan karena memang menduplikasi Padhangmbulan di era 90-an, Papperandang Ate pun mengemas forum majelis ilmu dengan konsep pengajian tafsir Al-Qur`an. Dan penyelenggaraan majelis ilmu Papperandang Ate tidak rutin setiap bulan, tetapi dilaksanakan setiap 3 bulan sekali. Pada edisi ketiga Papperandang Ate, Mbah Nun berkesempatan hadir di Mandar bersama KiaiKanjeng. Di forum ini pula pertemuan pertama Mbah Nun dengan Bunda Cammana.

Momentum perjalanan Letto ke Mandar kali ini tidak dilewatkan begitu saja, maka sebagai penutup perjalanan Letto di Mandar dalam rangka Musik Edukasi, Letto dan Kyai Muzammil dilibatkan dalam tasyakuran 21 tahun perjalanan Papperandang Ate.

Panggung didirikan di jalan raya yang berada tepat di sebelah barat Masjid Al-Hurriyah, Tinambung. Di Masjid Al-Hurriyah ini pula dahulu ketika Mbah Nun awal-awal datang ke Mandar didapuk untuk berceramah setelah sholat subuh. Persambungan Mbah Nun dengan Mandar sudah berulang kali dikisahkan, beberapa tulisan di CakNun.com ini seperti yang ditulisakan oleh Pak Hamzah Ismail dan juga Mas Helmi Mustofa kiranya cukup menjadi referensi sejarah mengapa Mandar memiliki tempat spesial di hati Mbah Nun.

Kedatangan Letto pun disambut meriah, tentu bagi mereka Letto bukan sekadar grup band musik seperti band lainnya. Posisi Mas Sabrang yang notabene adalah putra dari Mbah Nun tentu membuat sambutan masyarakat Mandar menjadi berbeda dengan kedatangan rombongan Letto kali ini.

Seperti yang sudah diberitakan di catatan-catatan sebelumnya, di setiap singgah di rumah salah satu kerabat atau anggota Teater Flamboyant, maka rombongan akan disuguhi makanan khas Mandar yang sangat enak. Menu masakan seperti Bau Tapa, Bau Tunu, Bau Piapi, Ikan Tappi, Sambal Goreng, Abon yang disajikan dengan sayur kangkung dan nasi putih. Belum lagi hidangan pendamping seperti Sambusa, Bupuk, Tarreang, Baye’ Lolong dan masih banyak lagi yang belum disebut. Benar-benar sajian gizi yang sangat terjamin.

Di area Masjid Al-Hurriyah, masyarakat sudah menunggu kehadiran Letto dan Kyai Muzammil, juga Koordinator Simpul yang dikomandoi oleh Mas Sabrang sendiri kali ini hadir di Mandar bersama Fahmi Agustian dan Risky Dwi Rahmawan.

Buku Cak Nun