Ruang Rindu Bunda Cammana

Catatan perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 1

Mandar. Sebuah jazirah yang memiliki tempat spesial di hati Mbah Nun. Terhitung mulai 21 Februari 2019 – 26 Februari 2019, Letto mendapat undangan untuk menyelenggarakan “Musik Edukasi” di Mandar. Rabu petang (20/2), rombongan Letto mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Mandar selama kurang lebih 7 jam. Puncak kedatangan Letto di Mandar kali ini adalah mensyukuri perjalanan 21 tahun Papperandang Ate, salah satu simpul Maiyah di Mandar. Dalam rombongan kali ini, Letto didampingi Kyai Muzammil dan dua Koordinator Simpul Maiyah; Fahmi Agustian dan Rizky Dwi Rahmawan.

Kamis (21/2), sesuai rundown yang sudah disusun, rombongan tiba di Masjid Imam Lapeo. Setelah sholat subuh rombongan singgah di kediaman H. Latappa. Beliau adalah salah satu generasi awal Teater Flamboyan, sebuah komunitas yang pada proses bertumbuhnya ditemani oleh Mbah Nun. Adalah almarhum Bang Alisjahbana yang memperkenalkan sosok Mbah Nun kepada anak-anak muda di Mandar saat itu. Di tulisan lain, akan dibahas selanjutnya sejarah persambungan Mbah Nun dengan anak-anak muda di Mandar.

Berbicara tentang Mandar, salah satu sosok yang juga sering kita dengar adalah Bunda Cammana. Beliau adalah orang tua yang sangat dihormati di Mandar. Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk mengajarkan sholawat kepada masyarakat di Mandar, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Kedatangan Letto ke Mandar ini adalah untuk yang pertama kali. Mendengar kabar bahwa Letto hendak datang ke Mandar, Bunda Cammana begitu gembira. Bunda Cammana memendam rindu yang mendalam kepada Mas Sabrang. Bunda Cammana menganggap bahwa Mas Sabrang adalah cucu pertamanya. Di beberapa edisi Maiyahan di Mandar sebelumnya, kita menyaksikan hubungan yang erat antara Bunda Cammana dengan Mbah Nun. Jika Mbah Nun bersama KiaiKanjeng datang ke Mandar, pada momen silaturahmi di kediaman Bunda Cammana, maka yang tampak adalah kekhusyukan sholawat berbalas sholawat yang dilantunkan bersama-sama. Tangis haru bahagia menjadi bumbu pertemuan itu.

Sebenarnya, Letto dijadwalkan singgah di kediaman Bunda Cammana pada hari Ahad (24/2), namun rupanya Bunda Cammana sudah tidak kuat memendam rindu untuk segera bertemu dengan Mas Sabrang. Teman-teman Papperandang Ate kemudian mengantarkan rombongan menuju kediaman Bunda Cammana setelah dzuhur. Seperti kedatangan Mbah Nun di Mandar tahun lalu, Mas Sabrang diarak menuju kediaman Bunda Cammana dengan menunggang kuda. Tradisi ini dikenal sebagai “Sayyang Patuddu”, sebuah istilah yang diambil dari bahasa Mandar yang artinya adalah Kuda yang menari. Diiringi terbangan yang ditabuh oleh anak-anak kecil, Kuda yang ditunggangi Mas Sabrang menari mengikuti irama terbang yang ditabuh yang juga dipadukan dengan lantunan sholawat.

Ternyata, Letto dan rombongan hendak dijamu makan siang oleh Bunda Cammana. Begitu melihat Mas Sabrang sampai di kediamannya, mata Bunda Cammana berkaca-kaca, terbayar sudah kerinduannya. Digandengnya Mas Sabrang ke dalam rumah, diusap-usap pundaknya. Tak ada pembicaraan, tak ada basa-basi, Bunda Cammana segera menyuguhkan sajian makan siang. “Selamat datang cucu pertamaku”, ucap Bunda Cammana.

Begitulah memang sosok Bunda Cammana. Sebagai salah satu orang tua di Mandar, Bunda Cammana bukan orang yang banyak bicara. Rumahnya sangat sederhana, kepribadiannya pun sangat luhur. Raut muka Bunda Cammana sangat bahagia karena kedatangan cucu-cucu dari Jawa ini. Saking tidak kuatnya menahan rindu itu, malam sebelumnya Bunda Cammana sempat demam. Bahkan di hari pertemuan itu, masih tersisa demam itu, tubuh Bunda Cammana agak tinggi suhu badannya. Mas Sabrang sempat meminta Bunda Cammana untuk istirahat saja, namun ditolaknya.

Sama seperti ketika Mbah Nun datang ke Mandar, Bunda Cammana memegang erat tangan Mas Sabrang, begitu besar rasa rindunya, seolah-olah tak ingin ditinggal pergi. Di salah satu sudut dinding rumah Bunda Cammana, teradapat foto Bunda Cammana bersama Mbah Nun. Di sudut yang lain, terdapat pula foto Bunda Cammana berdua bersama Ibu Via. Mungkin, beberapa hari lagi akan ada foto baru yang dipajang di dinding rumah Bunda Cammana ini, yaitu foto bersama Mas Sabrang.

Pertemuan siang hari kemarin tidak berlangsung lama, karena Mas Sabrang harus segera bergerak menuju Wonomulyo untuk mengisi Workshop Literasi bersama RUMPITA (Rumah Kopi dan Perpusatakaan) yang digawangi oleh Mas Munir, salah satu anggota teater Flamboyan yang menekuni dunia literasi di Mandar. Namun, di hari Ahad (24/2) nanti, Letto beserta rombongan akan kembali datang ke rumah Bunda Cammana.

Baru dua hari di Mandar, sudah banyak cerita-cerita romantisme kedatangan Mbah Nun. Para orang tua, saksi sejarah kedatangan Mbah Nun pertama kali di Mandar berbagi cerita. Selama ini, kita hanya mendengar beberapa cerita-cerita yang diungkapkan oleh Mbah Nun ketika Maiyahan. Dua hari ini, kami mendengarnya langsung dari para pelaku sejarah itu. Dari sekian banyak cerita yang terungkap, tidak mengherankan jika kemudian Mbah Nun menempatkan Mandar dalam ruang yang istimewa di hati beliau.

Pernah mendengar cerita Mbah Nun tentang pemuda yang bisa meloloskan diri dari sergapan Garnisum di Makassar setelah meneriakkan nama “Cak Nun!!!”? Kami bertemu langsung dengan orangnya. Pernah mendengar pemuda yang sempat berniat membunuh mertuanya? Kami bertemu dengan orangnya langsung. Belum lagi Bang Tamalele yang memiliki segudang kisah spesial bersama Mbah Nun. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Buku Cak Nun