Disambut Sebagai Keluarga di Tanah Mandar

Catatan perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 2

Majene adalah sebuah kota pesisir dengan pemandangan yang indah. Sebuah kota teluk di pesisir barat Pulau Sulawesi, yang untuk menuju ke sini harus menempuh perjalanan darat delapan jam lamanya dari Makassar.

Letto, Kyai Muzzamil, dan Koordinator Simpul Maiyah memulai rangkaian acaranya di ibukota provinsi Sulawesi Barat ini pada 21 Februari 2019. Setiba di Tinambung pada hari Kamis, rombongan disambut di kediaman H. Latappa. Rumah yang juga selalu disinggahi oleh Mbah Nun ketika berkunjung ke Tanah Mandar. Letaknya tidak jauh dari Masjid Nurut Taubah Muhammad Tahir atau Masjid Imam Lapeo.

Rombongan menyempatkan singgah untuk Sholat Shubuh di masjid ini. Imam Lapeo adalah waliyullah yang sangat dihormati di Tanah Mandar ini. Rumah H. Latappa inilah rumah yang pertama kali pula disinggahi oleh Mbah Nun ketika pertama kali datang ke Mandar.

Di salah satu dinding rumah H. Latappa, ada sebuah foto yang menarik perhatian. Foto pernikahan H. Latappa yang saat itu dihadiri oleh Mbah Nun dan Bang Husni Jamaludin. Dan seperti yang sering diceritakan oleh Mbah Nun, di setiap rumah yang disinggahi di Mandar, kita akan disuguhi dengan makanan yang begitu banyak. Cerita itu bukan pepesan kosong semata, bukan hoax apalagi hate speech. Letto dan rombongan sedang membuktikannya sendiri hari-hari ini.

Setiba di Kediaman H. Latappa, sesepuh hingga orang-orang muda dari Maiyah Papperandang Ate menyambut dengan sukacita. Di bale yang luas, lantai bawah dari sebuah rumah panggung semi-modern, rombongan diterima. Meski baru pertama kali datang–kecuali Kyai Muzzamil yang sudah dua kali, suasana keakraban langsung begitu terasa.

Bang Abed Mubarak, ketua Teater Flamboyan mengenalkan satu sama lain. Kemudian Mas Sabrang memberikan respons, “Kami merasa sangat bahagia, karena kami datang ke sini disambut tidak sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga”.

Sebelumnya, Pak Amru Sadong salah seorang sesepuh menyampaikan bahwa ikatan persaudaraan di Tanah Mandar tidaklah semata-mata karena gen, melainkan karena ikatan nilai yang sama. Beliau berharap kunjungan Letto dan rombongan tidak semata-mata kunjungan pementasan. Melainkan setelah ini telah menjadi keluarga satu sama lain. Sebagaimana Mbah Nun yang begitu dekat dengan orang-orang di sini, sudah sebagai keluarga sendiri. Beliau menyampaikan ungkapan bangga ketika di mana-mana Mbah Nun menyebut diri sebagai Orang Mandar. Sebab memang demikian adanya, sejak 1986 Mbah Nun pertama kali menginjakkan tanah di tanah ini, telah terjalin hubungan emosional yang begitu dekat dengan masyarakat di sini.

Seminar Literasi bersama para relawan taman baca jalanan se-Sulbar menjadi agenda di hari pertama ini. Namun, tak afdol rasanya kalau sudah ke Tanah Mandar tapi tidak terlebih dahulu menuju ‘kuning telor’-nya peradaban tanah ini, yakni Kota Tinambung.

Rombongan beranjak terlebih dahulu ke Sanggar Sohibu Baiti, bersilaturahim dengan Bunda Cammana. Menaiki seekor kuda, Mas Sabrang menuju lokasi dengan diiringi tabuhan rebana. Bunda Cammana telah menunggu di lantai 2 rumahnya. Seperti kebanyakan bentuk rumah di sini, rumah Bunda Cammana berbentuk rumah panggung dari kayu. Sehari-hari ramai dijadikan tempat anak-anak belajar mengaji.

Bunda Cammana adalah seorang figur orang tua yang bersahaja. Kesehariannya begitu lekat dengan sholawat, Beliau adalah pelestari sholawat yang bukan hanya melestarikan nada dan irama, melainkan ruh nilai-nilainya. Pantaslah jika Beliau begitu disegani oleh warga di sini.

Bang Aslam yang memandu rombongan sedari Bandara Makassar semalam sebetulnya menjadwalkan waktu berkunjung ke Tinambung ini baru di hari Ahad nanti. Namun, Bunda Cammana ini sudah tak bisa menahan kangennya kepada Mas Sabrang yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri ini. Benar saja Bunda Cammana kemudian berkali-kali memeluk Mas Sabrang. Suasana haru sekaligus suka cita pun begitu terasa.

Sebuah kado khusus sudah disiapkan oleh Bunda Cammana untuk Mbah Nun, ia titipkan melalui Mas Sabrang. Usai ramah tamah, acara kemudian dilanjutkan dengan santap siang. Menu khas Mandar pun disuguhkan. Acara kemudian dipuncaki dengan doa-mendoakan. Bunda Cammana terlebih dahulu menghadiahkan doa untuk semua yang hadir. Kemudian bergantian Kiai Muzzamil juga turut memberikan doa.

Menemukan Konteks Membaca

Dari Tinambung, rombongan beranjak ke Wonomulyo. Sekitar 50 penggiat literasi dari berbagai pelosok sudah berkumpul di aula Hotel Istana. Seminar Literasi ini digelar dalam rangka mengumpulkan relawan taman baca sekaligus dalam rangka memperingati Milad 4 Tahun komunitas Rumpita, Rumah Kopi dan Perpustakaan.

Bang Tamalele, sosok yang dianggap sebagai salah satu panglima Maiyah di Mandar rupanya juga merupakan salah satu budayawan Mandar sekaligus pengasuh Rumpita ini dan memberi sambutan pembukaan. Beliau mengapresiasi peserta yang datang dari jauh. Ada yang datang dari Mamuju Utara, yang berjarak 300 km dari sini ikut serta pula di acara ini.

Mas Sabrang menyampaikan bahwa para relawan taman baca telah menawarkan jalan bagi masyarakat untuk bagaimana membuat manusia berguna bagi sesamanya. Yakni melalui cara membaca.

Akan tetapi, yang harus diingat adalah bagaimana membaca tidak melulu menjadi urusan kognitif. Mas Sabrang mengingatkan agar kita jangan menganggap bahwa pengetahuan adalah segala-galanya. Sebab pengetahuan tidak serta dapat mengubah perilaku seseorang.

Dari format diskusi formal, Mas Sabrang memilih turun dari atas panggung dan berbaur di bawah. Peserta diajak untuk duduk melingkar lebih dekat. Suasana dialog pun tercipta interaktif. Diantara respons yang dilontarkan, seorang peserta mengeluhkan tanggapan masyarakat yang masih ada saja yang memandang negatif ketika buku bacaan diantarkan kepada mereka.

Mas Sabrang merespons bahwa sesuatu harus diketemukan konteksnya. Kalau seorang anak diberi tugas penjumlahan akan merasa berat. Tetapi ketika ia diajak berbelanja mainan, ia dengan senang menghitung-hitung jumlah barang. Pelajaran matematika bagi si anak pun menjadi terasa mudah.

Nah, bagaimana terhadap buku-buku, orang-orang diajak untuk menemukan konteksnya masing-masing. Misalnya ketika seseorang diajak terjun mencoba membenahi motor yang rusak. Maka pengetahuan dari buku seputar reparasi sepeda motor pun akan diupayakan untuk dicari. Itu contoh menemukan konteks dari sebuah tawaran membaca.

Tugas taman baca bukan untuk membuat semua orang senang membaca. Tapi mencari 10-15 persen orang yang mau belajar, itu sudah sebuah prestasi. Kemudian Mas Sabrang melanjutkan dengan penjelasan revolusi mesin cetak hingga hadirnya internet, supaya para relawan taman baca ini lebih mawas diri terhadap perubahan demi perubahan yang sedang terus terjadi.

Semangat para relawan taman baca ini patut dijadikan inspirasi. Bagaimana mereka mau menempuh jarak yang jauh untuk menimba ilmu, serta juga membagikan ilmu dengan membawa buku-buku ke pelosok-pelosok. Meski mereka tinggal jauh dari Ibukota Negara, bukan berarti mereka tertinggal, mereka akrab dengan google, startup, serta mempelajari teori critical mass dan teori-teori perubahan sosial lainnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WITA, acara pun kemudian diakhiri. Model dialog yang berlangsung menjadikan waktu yang singkat tetapi tetap memiliki kandungan pembahasan yang padat sepanjang siang hingga petang hari tadi.

Buku Cak Nun