Ikatan Erat Letto dengan Generasi Muda Teater Flamboyant

Catatan Perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 6

Setelah Maiyahan mensyukuri 21 Tahun Papperandang Ate selesai dihelat, rombongan Letto, Kyai Muzammil dan Koordinator SImpul sudah ditunggu agenda terakhir di kediaman Mbak Hijrah. Mbak Hijrah merupakan salah satu generasi muda Tinambung yang pernah bergabung dengan KiaiKanjeng menjadi salah satu vokalis. Maka, jika Mbah Nun dan KiaiKanjeng berkesempatan datang ke Mandar, salah satu rumah yang disinggahi adalah rumah Mbak Hijrah ini. Lokasi rumah Mbak Hijrah tidak jauh dari Masjid Al-Hurriyah, Tinambung tempat pelaksanaan Maiyahan Papperandang Ate. Rumah Mbak Hijrah ini juga berdekatan dengan rumah Bang Abu Bakar dan Pak H. Latappa.

Hidangan Coto Ayam, Jalangkote, Onde-onde, Baye’ Lolong dan buah-buahan sudah tersaji dan siap untuk disantap. Semua yang hadir pun segera menikmati hidangan tersebut. Suasana akrab sangat terasa, namun tampak wajah-wajah kesedihan dari teman-teman yang hadir malam itu, karena momen ini adalah momen perpisahan, rombongan Letto, Kyai Muzammil dan Koordinator Simpul setelah ini akan segera kembali ke pulau Jawa.

Jika 30 tahun yang lalu para generasi awal Teater Flamboyant menemukan sosok teladan dalam diri Mbah Nun untuk dijadikan guru, maka generasi muda Teater Flamboyant hari ini menemukan sosok yang sama pada diri Mas Sabrang, tentu saja dengan Letto. Dan ternyata memang tepat, kebetulan generasi muda Teater Flamboyant hari ini lebih banyak dari mereka yang menekuni kesenian musik, meskipun tidak semuanya karena juga tetap ada dari mereka yang memiliki kecenderungan menekuni seni teater dan puisi. Namun, yang saat ini sedang menggeliat di komunitas Teater Flamboyant adalah kesenian musik.

Maka kesempatan datangnya Letto ke Mandar selama 6 hari tidak mereka sia-siakan. Setelah mengusulkan kepada Koordinator Simpul untuk diadakan workshop musik, para personel Letto pun menyanggupi untuk bebagi ilmu kepada mereka. Semua hal yang mereka ingin ketahui dikupas tuntas dalam sesi workshop dengan Letto di hari Sabtu (23/02).

Pada kesempatan workshop itu, para orang tua generasi awal Teater Flamboyant menyaksikan bagaimana anak-anak muda Teater Flamboyant seakan sudah menemukan chemistry yang baik dengan Letto. Maka tidak salah kiranya ketika malam hari saat rombongan Letto berpamitan, Pak Hamzah Ismail yang merupakan salah satu orang yang dituakan di Teater Flamboyant menyampaikan bahwa sepenuhnya anak-anak muda Teater Flamboyant diserahkan kepada Mas Sabrang untuk dibimbing, layaknya dulu mereka para orang tua yang mendapat bimbingan dari Mbah Nun.

Mas Sabrang pun dalam sesi pamitan itu menyampaikan kesanggupannya untuk terlibat dalam proses berkembang dan bertumbuhnya generasi muda Teater Flamboyant. Apalagi hari ini kita berada di era digital, di mana komunikasi begitu mudah dilakukan. Tidak seperti era tahun 80-an, ketika Mbah Nun pertama kali datang ke Mandar. Distribusi informasi saat itu hanya menggunakan surat yang harus dikirimkan dengan pos, dan harus menunggu berhari-hari untuk mendapatkan jawaban atas surat yang dikirimkan.

Mas Sabrang berharap dengan momentum kedatangan Letto dan Koordinator Simpul ke Mandar kali ini menjadi titik awal persambungan menuju proses persambungan dan perjalanan berikutnya. Bagi Mas Sabrang, tantangan anak muda hari ini berbeda dengan tantangan anak muda di era 80-an, maka dari itu kesempatan yang ada di depan mata ini diharapkan oleh Mas Sabrang agar jangan disia-siakan. Mas Sabrang berpesan agar generasi muda Teater Flamboyant memaksimalkan semua potensi yang ada. Kemudahan teknologi yang setiap hari berkembang jangan disia-siakan hanya untuk sekadar haha-hihi di media sosial.

Menjelang pukul dua dinihari waktu setempat, rombongan Letto, Kyai Muzammil dan Koordinator Simpul berpamitan.

Buku Cak Nun