Ramah Tamah Penggiat Papperandang Ate Lintas Generasi

Catatan Perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 3

Di salah satu bagian dari kompleks Masjid Nurut Taubah, Tinambung, Polewali Mandar, terdapat sebuah bangunan kecil yang dihormati. Di dalam bangunan tersebutlah makam KH. Muhammad Thahir atau dikenal pula dengan Imam Lapeo berada.

Imam Lapeo adalah sosok penyebar agama Islam yang tersohor di Sulawesi Barat yang dikenal memiliki banyak karomah. Hingga kini makamnya kerap didatangi oleh peziarah, terutama di hari-hari tertentu.

Usai melaksanakan sholat Maghrib, rombongan Letto, Kyai Muzzamil dan Koordinator Simpul dengan ditemani para Penggiat Maiyah Papperandang Ate menunaikan ziarah di makam Imam Lapeo tersebut.

Kyai Muzzamil memimpin doa, Mas Sabrang duduk di sampingnya dan rombongan yang lain duduk melingkar sedapatnya memanfaatkan ruang yang ada. Prosesi ziaroh tersebut sekaligus menjadi pembuka dari agenda ramah tamah dengan Penggiat Maiyah di Tanah Mandar yang tergabung di dalam Simpul Maiyah Papperandang Ate.

Malam hari itu, ramah tamah dilaksanakan di Villa Bogor Indah. Penggiat Papperandang Ate mulai dari generasi sesepuh dan generasi muda berkumpul. Bang Abed selaku ketua Teater Flamboyan memandu jalannya acara mengawali dengan mengajak flash back ke masa lalu mulai dari awal persentuhan Mbah Nun dengan Tanah Mandar.

Kalau kebanyakan simpul pantikan terbentuknya dari jamaah yang telah lama mengikuti Mocopat Syafaat atau Gambang Syafaat, Papperandang Ate terbentuk jauh lebih lama yakni ‘terinspirasi’ dari Padhangmbulan. Ikatan batin yang begitu lekat antara teman-teman di Mandar dengan Mbah Nun telah membentuk pola yang berulang. Ketika saat itu di Jawa lahir Padhangmbulan, di Tanah Mandar ini dibentuk Papperandang Ate.

Jauh sebelumnya, ketika di Jawa lahir Teater Dinasti, di sini dibentuk Teater Flamboyan. Pada peristiwa lain ketika di Jawa lahir HAMAS (Himpunan Masyarakat Sholawat), di sini dibentuk Hamas Badar.

Sehingga Penggiat Teater Flamboyan dan Papperandang Ate menjadi beririsan karena memang diinisiasi oleh komunitas yang sama, hanya saja dalam kurun waktu yang berbeda. Papperandang Ate sendiri tahun ini memasuki usia 21 tahun, puncak miladnya akan dilaksanakan di hari senin nanti.

Kepengurusan Teater Flamboyan sekarang ini sudah generasi ke-7, sudah diduduki oleh generasi cucu. Jadi kalau dulu Mbah Nun melatih para kakeknya, sekarang sudah sampai ke cucu-cucunya dan masih bersambungan baik dengan Mbah Nun melalui Maiyah.

Papperandang Ate sendiri memiliki kesamaan arti dengan Tombo Ati. Di dalam peta Simpul Maiyah, wilayah Papperandang Ate berada di Sub-Region 14. Sebelum penyampaian hasil Silatnas Penggiat Maiyah dan informasi perkembangan terbaru simpul disampaikan oleh tim Koordinator Simpul, terlebih dahulu kesempatan diberikan kepada generasi sesepuh untuk sharing sekaligus napak tilas.

Bang Amru Sadong, salah seorang sesepuh, menyampaikan bagaimana perjalanan penerimaan masyarakat Mandar terhadap Mbah Nun. Hingga Mbah Nun pernah menerima penyematan peniti emas sebagai bentuk pengakuan bahwa Mbah Nun adalah warga kehormatan di Mandar. Sejak itu, Mbah Nun turut berperan dalam proses pemekaran Provinsi Sulawesi Barat.

Bang Tamalele menambahkan, dari sisi individu-individu generasi sesepuh, betapa Mbah Nun memberi pengaruh pada perubahan diri satu per satu di antara mereka dengan sangat personal. Di antara mereka sangat bersyukur mendapat perhatian yang sangat baik dari Mbah Nun sehingga perubahan-perubahan dalam hidup mereka kemudian terjadi. Kelompok muda menyimak dengan atusias sharing-sharing napak tilas yang disampaikan para sesepuh tersebut.

Kemudian forum berlanjut pada proses konsolidasi, di mana Mandar menjadi bagian tak terpisahkan dari tumbuhnya simpul-simpul Maiyah di Nusantara ini. Beberapa catatan mengenai hasil Silatnas Surabaya yang diselenggarakan akhir tahun lalu kemudian disampaikan. Di antara butir penekanannya adalah pada dua hal, yakni pertama, bagaimana Simpul menemukan karakter sesuai potensi dan masalah yang ada di tingkat lokal. Dan kedua adalah bagaimana di antara penggiat dan jamaah dapat saling bertukar keahlian dan berupaya saling memberdayakan.

Papperandang Ate seharusnya tidak sulit mewujudkan apa yang menjadi tekad dari Silatnas Surabaya tersebut. Mengapa? Sebab mereka telah memiliki penataan organisasi yang sangat baik. Teater Flamboyan sebagai wadah besarnya, kemudian di dalam wadah besar tersebut terdapat divisi-divisi yang lebih spesifik: Pengajian, Teater, Musik, Sastra dan Multimedia.

Papperandang Ate sendiri menjalankan peran sebagai motor penggerak divisi pengajian. Potensi untuk berkembang sangat baik, mengingat nama Teater Flamboyan hari ini sudah demikian kesohor di sini. Pun dengan atmosfer pengembangan seni budaya yang sangat baik tercipta di masyarakat Mandar ini. Seni budaya dan agama yang berjalan beriringan adalah modal sosial yang sangat berharga.

Forum bergulir hingga pada proses dialog. Mas Sabrang menyampaikan beberapa hal sekaligus merespons pertanyaan-pertanyaan yang digulirkan. “Bahwa bertahan menghadapi tantangan dengan sengaja mengambil keberanian untuk menghadapi tantangan akan menghasilkan sikap yang berbeda,” ujarnya.

Hal itu disampaikan sebagai bekal motivasional bagi para penggiat supaya tidak gamang ketika dalam perjalanan membangun potensi kemudian harus menghadapi tantangan. Lebih lanjut Mas Sabrang menjelaskan, jika motifnya bertahan ketika sebuah tantangan hidup datang, maka hormon yang dikeluarkan adalah hormon kortisol. Tubuh dan jiwa menjadi melemah. Tetapi jika tantangan diambil dengan menyengaja, maka tubuh dan jiwa akan menghadapinya dengan lebih prima.

Penggiat muda Papperandang Ate menyimak betul apa yang disampaikan Mas Sabrang dan Tim Koordinator Simpul. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam. Ada yang masih mahasiswa, juga ada yang sudah selesai. Rata-rata mereka menggeluti bidang kesenian tertentu. Ada yang menggeluti musik modern, musik tradisional, teater, dan videografi.

Seorang di antara mereka memberikan respons. Ia adalah seorang mahasiswa sekaligus sambilan membuka usaha sablon. Ia mengeluh bahwa ketika sedang mendapat uang banyak dari order, seringkali menjadi enggan bersosial dengan teman-temannya.

Mas Sabrang merespons bahwa sebaiknya kita tidak menjadi mudah cepat puas dengan pencapaian kita. Bagaimana caranya agar tidak cepat puas adalah dengan membuat capaian road map. Mas Sabrang kemudian mengurai bagaimana membuat road map agenda hingga 5 tahun. Respons lainnya di antaranya adalah tentang seseorang yang begitu menyenangi musik, tetapi musik membuat kuliah terganggu. Mas Sabrang kemudian mengurai manajemen skala prioritas.

Hingga jam 01.00 WITA tengah malam ramah tamah berlangsung. Dari bahasan sejarah napak tilas, hingga manajemen organisasi dan ‘curhat’ konsultasi diri. Yang jelas, yang paling berharga pada ramah tamah hari pertama tersebut adalah bagaimana tersambungnya hati antara para Penggiat Maiyah di Mandar ini dengan Mas Sabrang dan tim Koordinator Simpul.

Pembahasan lebih spesifik bidang per bidang kemudian berlanjut pada malam kedua dan ketiga dari rangkaian kunjungan kami kali ini. Pada malam kedua, kelompok sesepuh ‘menanting’ generasi muda mengenai komitmen mereka di dalam meneruskan estafet kepengurusan Simpul Maiyah.

Forum malam kedua masih berlangsung di tempat yang sama, tempat yang cukup nyaman untuk berdiskusi, diiringi backsound deburan ombak karena memang berada di tepian Teluk Majene. Keberadaan Villa yang di dataran tinggi membuat kerlap-kerlip lampu kota Majene yang merupakan kota Pesisir nampak indah menjadi backgroundnya.

Sepanjang proses dialog antara generasi tua dan generasi muda di pertemuan tersebut, terasa betul kesambungan chemistry di antara mereka. Selain sama-sama mencintai Mbah Nun, mereka pun terikat oleh kesamaan antusiasme, kesamaan wilayah, serta banyak di antara mereka yang masih bertalian hubungan darah.

Komitmen untuk merawat nilai-nilai Maiyah melalui Teater Flamboyan dan Papperandang Ate tidak ada sedikit pun yang perlu diragukan. Hanya saja pengelolaan manajemen waktu, antara kesibukan pribadi dan komunitas, yang perlu diperhatikan. Hal lainnya yang diperlukan adalah bagaimana Simpul terjauh yang ada di Nusantara ini dapat menyerap referensi dari penyelenggaraan Maiyahan di daerah lainnya. Hal ini sesuai dengan salah satu pokok bahasan di Silatnas Surabaya mengenai bagaimana kita learning by modelling, belajar satu sama lain.

Oleh karenanya, pada malam itu disepakati pada forum lanjutan di malam ketiga akan dibahas hal-hal lebih spesifik. Para generasi sesepuh mempersilakan Penggiat muda untuk seleluasa mungkin berinteraksi dengan tim Koordinator Simpul.

Buku Cak Nun