Dititipi Maiyah

Catatan Majlis Ilmu Maiyah Juguran Syafaat, Oktober 2017

Meskipun Pendopo Soeparjo Roestam memiliki bentang halaman yang cukup luas sehingga cukup mempunyai jarak dari jalan raya, berforum di sana sesekali harus beradu dengan noise knalpot yang melintas. Yakni knalpot motor-motor modifikasi yang kerap meramaikan jalanan di malam Minggu. Syukurlah penggiat yang menangani babagan tata suara tak pernah jemu meningkatkan kualitas sound system-nya. Kualitas tata suara yang baik diupayakan sedemikian rupa supaya membuat jamaah terlena dari adanya gangguan noise dari jalan raya.

Persembahan KAJ

Kualitas tata suara yang baik pula membuat tim musik KAJ, tim musik intinya Juguran Syafaat ber-performance dengan nyaman. Satu nomor “You Raise Me Up” pun dibawakan dengan apik oleh KAJ dengan Fadhel sebagai vokalis menyihir jamaah untuk larut dalam suasana Juguran Syafaat malam itu.

Sebelumnya, sejak jam 21.00 ritual tilawah Al-Qur`an dibawakan secara tartil dan terpimpin mengawali sesi. Disambung dengan wirid Padhangmbulan yang dihaturkan bersama-sama oleh seluruh jamaah yang sudah hadir. Juguran Syafaat ke-55 ini menjadi uji coba terakhir bagi Naim yang berposisi sebgai co-elaborator sesi-sesi awal yang pada Juguran Syafaat mendatang akan naik peran menjadi elaborator utama. Hal ini menjadi bagian dari peningkatan kapasitas bagi tiap-tiap Penggiat Juguran Syafaat.

Pada sesi-sesi awal, Naim menyampaikan bahwa sebetulnya malam hari itu ada pertunjukan wayang tidak jauh dari lokasi acara. Kebetulan dia adalah seorang maniak Wayang Kulit. Apalagi dalang yang malam hari itu manggung adalah Mas Dalang Yakut, dalang muda kenamaan asli Banyumas yang sedang tenar-tenarnya. Dia yang tak lain adalah cucunda dari Dalang Gino, Dalang Legendaris dari Banyumas. Tetapi Naim beralasan, karena dirinya dititipi Maiyah, maka dia memilih libur nonton wayang, memilih bertugas di Juguran Syafaat.

“Dititipi Maiyah” menjadi tema Juguran Syafaat edisi malam hari itu. Secara random Jamaah dipersilakan saling berbagi sembari memperkenalkan diri. Salah seorang di antaranya adalah seorang mahasiswa sekaligus santri di Purwokerto. Ia mengamati bahwa Maiyah sedang menjadi topik hangat di kalangan mahasiswa. Ia sendiri mengaku bergabung di dalam grup WhatsApp yakni grup Mahasiswa Maiyah Banyumas.

Liburnya Naim tidak nonton wayang tidak rugi-rugi amat, karena ternyata malam hari itu juga hadir dalang muda Banyumas yang sedang mulai akan naik daun, yakni Mas Dalang Agung Wicaksono yang juga populer dengan sebutan Mas Agung Totman. Tetapi Dalang muda yang satu ini tidak membawakan wayang pada umumnya. Yang ia bawakan adalah Wayang Jemblung, Wayang khas Banyumasan yang salah satu cirinya musiknya menggunakan sumber daya mulut, tanpa ubarampe gamelan.

Mas Dalang Agung Wicaksono ini sudah sering datang ke Juguran Syafaat yang sudah menjadi keluarga sendiri. Keahliannya melawak memberikan kesegaran tersendiri di setiap Juguran Syafaat. Malam hari itu ia menyampaikan sekaligus memohon dukungan serta restu untuk perhelatan istimewa yang akan digelar. Yakni perhelatan kirab pusakan dan ruwatan agung di pusat kota Purwokerto.

Nderes Al-Qur`an.

Hadir pula malam hari itu Gus Misbah dari Majelis Thoriqoh Segaluh Luhur, Purwokerto. Beliau dengan majelis tarekatnya yang akan memandegani prosesi kirab dan ruwatan tersebut yang akan digelar bertepatan dengan Bulan Sura. Gus Misbah menyampaikan bahwa kirab dan ruwatan yang akan digelar adalah kirab Pusaka Gula Kelapa. Pusaka tersebut pada zaman dahulu dikirabnya ketika ada kejadian luar biasa.

Sigaluh Luhur yang merupakan majelis tarekat Sufi-Jawa yang merasa terpanggil untuk ikut memprihatini situasi akhir-akhir ini. Gus Misbah menyampaikan bahwa kelompok tarekatnya mencoba nguri-uri kesambungan Islam dan Jawa. Beliau kemudian mengurai tentang sosok Raden Sosro Kartono sebagai figur inspirasi Sufi-Jawa.

Beralih ke sesi II, Kusworo sebagai elaborator menyambung perjalanan diskusi sebelumnya dengan menyampaikan beberapa hal-hal aktual dan mendasar. Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya sebab sudah semakin mentradisinya diskusi-diskusi di kalangan jamaah. Rizky kemudan menyambung menyampaikan ungkapan syukur pula atas beberapa hal di antarnya: KAJ sebagai kelompok musik yang menjadi bahagia dari nukleus Juguran Syafaat yang kian hari sudah kian matang. Hal lainnya adalah interaksi di media sosial juga nampak semakin dinamis. Di antara indikasinya adalah follower Twitter @JuguranSyafaat kini sudah mencapai 10.000.

Huda mewakili tim web administrator Juguran Syafaat ikut tampil di depan forum. Website JuguranSyafaat.Com versi 2.0 di-launching malam hari itu. Content dari website lama yang sempat crash dimuat kembali. Pada website baru ini juga dimulai ritme penerbitan content baru. Selain itu pengunjung juga disuguhi dengan susunan rubrik dan layout website yang sama sekali baru. Perubahan lainnya adalah pengayaan porsi content non-tulisan, meliputi foto dan video.

Mas Agus Sukoco menyambung bahwa rasa syukur dari semua itu membuat makin tidak putus asa kita dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.  Sambil diskusi terus berlangsung, KAJ tampil memberikan jeda dan menyegarkan suasana. Nomor-nomor lagu yang dibawakan malam hari itu di antaranya adalah Tahta Cinta, Pak Tani dari Koes Plus, dan Cinta Putih dari Katon Bagaskara. Tahta Cinta adalah sebuah lagu yang terdapat di dalam mini album perdana KAJ.

Nasihat orang Jawa itu ‘aja gumunan, aja kagetan’, demikian Mas Agus menyampaikan. Semakin mudah gumun dan kaget menjadi tanda terjadinya degradasi pada generasi sekarang. Jadi dengan orang zaman dulu, sebenarnya kita kalah kualitas. “Maka Maiyah bagi Saya adalah satu karantina, satu ruang di mana kita terbebas dari virus yang membuat kita lemah”, demikian Mas Agus Mengurai. “Jadi kita sekarang sedang dititipi itu, dititipi imunitas untuk tidak terpengaruh dari hawa negatif yang dihembus-hembuskan”, lanjutnya.

Ada pembangunan geger, ada ruwat bumi geger, sekarang apa saja geger. Mas Agus membagi tips menghadapi orang yang kagetan dan gumunan, yakni caranya jangan mudah kaget dan gumun menghadapi mereka. Kecuali kita memang masih sama dengan mereka: kagetan dan gumunan.

Dititipi Maiyah

Sufi-Jawa sebagai platform tarekat yang dijunjung oleh Sigaluh Luhur sejalan dengan yang Mas Agus Sukoco sedang telateni dilakukan di Desa Adat Congot, Purbalingga. Desa di pedalaman Purbalingga yang berada di pertemuan dua arus sungai besar, Klawing dan Serayu ini masih menjaga kearifan budaya nenek moyang yang ternyata banyak tradisinya memiliki sinkronitas nilai dengan nilai-nilai Islam.

Mas Agus didukung berbagai pihak sedang berupaya membangun kesambungan antara dua kelompok keyakinan yang bermukim di sana, kelompok Muslim dan kelompok kepercayaan Kejawen. Wujudnya adalah dengan Mas Agus memberikan muatan substantif yang selaras dengan nilai-nilai Maiyah di dalam kegiatan festival adat yang telah turun temurun digelar di tengah masyarakat Congot tersebut.

Mas Agus menyampaikan sinkronitas Jawa dan Islam dalam banyak indikasi. Di antaranya adalah bagaimana Muslim dan Jawa sama-sama memperlakukan alam. Bumi misalnya sebagai partner. Ini berbeda dengan Barat yang memperlakukan alam sebatas sebagai benda. Sebab benda maka berhak dieksploitasi. Berbeda dengan partner, maka kita senantiasa berusaha berdialog.

Lebih jauh Mas Agus berbagi tentang bagaimana proses persentuhan dengan lapis-lapis masyarakat pedesaan yang kian beragam dan kaya akan kearifan lokal. Mas agus menuturkan ilmu busi sebagai kiat menjalani persentuhan-persentuhan itu. “Pokoknya, lakukan yang kamu tahu, nanti akan aku beri tahu yang kamu tidak tahu”, tandas Mas Agus. Tahunya busi, utak-atik terus itu, nanti lama-lama seluruh mesin sepeda motor kita akan ketahui semua.

Menjedai diskusi, Mahasiswi bernama Kapur dari IAIN Purwokerto membawakan Puisinya Mbah Nun yang berjudul Kemana Anak-anak Itu dengan diiringi petikan gitar oleh Mas Agus Marchell.

Foto: Juguran Syafaat

Bahwa Maiyah bukan milik segolongan orang. Terserah menggunakan kata Maiyah atau tidak yang jelas prinsip-prinsip Maiyah terjaga di dalamnya. Ada yang berwujud Simpul Maiyah, ada yang Maiyahan dengan cara beragam, misalnya Purwokerto Bersatu yang merekatkan banyak komunitas di seantero Banyumas, ada Padepokan Cowongsewu ada Sanggar Kang Hadi.

Yang penting bukan penamaannya tetapi ditemukan kesamaan prinsip atau tidak di dalam begitu beragamnya cara-cara orang Maiyahan. Untuk menemukan ciri adanya kesamaan prinsip-prinsip tersebut, yang harus dicari adalah satu sama lain kegiatan yang dilaksanakan tersebut saling sambung atau tidak. Asalkan tetap saling sambung, berarti ada sinkronitas prinsip-prinsip meskipun bentuk kegiatannya beragam. Dengan begitu, tidak menjadi soal ada Grup WhatsApp Mahasiswa Maiyah Banyumas, tidak perlu ada mekanisme izin ke Juguran Syafaat, asalkan secara prinsip tetap sambung terus saja.

Manusia dititipi tuhan hasrat otentik, yakni hasrat untuk mencari sangkan-paran-nya. Orang yang menempuh pencarian sangkan-paran, sebelum era Qur`an hadir, ada yang mendapati batu besar, pohon tua sebagai Tuhan. Daripada kita mensalah-salahkan, alangkah baiknya kita tetap memberikan apresiasi yang baik saja. Seminim apapun pencapaian pencarian, toh yang ditempuh oleh mereka yang kita sebut kaum animisme dan dinamisme itu sedang menjalani penempuhan hasrat otentik bagi Tuhan.

Gus Misbah menyampaikan penjelasan singkat tentang Wayang Jemblung yang akan digelar sebagai agenda penutup pada prosesi kirab dan ruwatan yang akan digelar mendatang. Lakonnya adalah “Bawor Jenggirat”. Sosok Bawor dikupas dan dijlentrehkan dengan apik oleh Gus Misbah. Seperti kita tahu, Bawor adalah simbol dari masyarakat Banyumas.

Khazanah persambungan Jawa dan Islam sangat lekat dalam penguasaan Gus Misbah, di antara banyak indikasi ketersambungan adalah huruf Arab dan Jawa yang mengandung banyak sinkronitas. Juga banyak legenda dan cerita rakyat di tanah Jawa yang kalau dikupas mengandung akhlak dari nilai-nilai Islam.

Foto: Juguran Syafaat

Mas Dalang Agung Wicaksono pun ikut urun diskusi dengan gaya khas gayengan Banyumasan-nya. Salah satu pesan menarik yang ia sampaikan adalah, bahwa menurutnya puncak dari kedekatan adalah ketika antara seseorang dengan orang lainnya meski tidak SMS atau terhubung di Medsos tetapi mereka tetap saling mendoakan.

Resume singkat dari tanggapan-tanggapan pertanyaan yang muncul dari jamaah di antaranya: Terhadap isu pembangunan PLTB di lereng Gunung Slamet yang masih terus memanas. Rizky merespons bahwa sikap paling setimbang adalah kembali pada prinsip: “Aja gumunan, aja kagetan”. Kedua, mengukur diri. Bab mengukur diri Mas Agus menjelaskan kisah Nenek Letring, seorang penjual gorengan di desa. Nenek Letring adalah contoh orang yang mengukur diri, hanya membuat adonan 1-2 kg gorengan tetapi istiqomah sehingga bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga. Kalau diukur dia lebih produktif dari kawan Mas Agus yang ahli ekonomi. Ia selalu meneriakkan gagasan-gagasan besar tapi tidak pernah bertindak yang sesuai.

Soal mengukur diri ini juga menjawab penanya lain yang menyampaikan keresahannya atas bagaimana masa depan petani sebab sekarang tidak ada yang menjadi petani. Mas Agus menganjurkan untuk melihat ke dalam diri sekaligus melihat situasi. Jangan paksakan untuk menanam sawah. Karena ini eranya industri, kalau sawah yang sanggup digarap tidak mencukupi biaya hidup, boleh kok tetap sambil bekerja di pabrik. Yang terpenting naluri nandur kita dijaga jangan sampai itu hilang. Daripada idealisme menjadi petani, padahal sawah saja tidak punya, atau hasil dari nyawah tidak seberapa.

Pada akhir sesi Mas Agus berpesan untuk melakukan penegasan makna disetiap ritual yang kita kerjakan. Pesan ini sekaligus sebagai sangu untuk ritual yang akan digelar Majelis Sigaluh Luhur mendatang.

Foto: Juguran Syafaat

Terakhir sekali, Maiyah adalah titipan, Rizky menyampaikan bahwa Maiyah ini bisa jadi adalah masih benih. Di masa mendatang akan ada kemungkinan bentuk yang mungkin tidak kita pikirkan hari ini. Maka, untuk meminimalkan kesalahpahaman satu sama lain dari para Penggiat yang menggarap Maiyah dengan cara yang berbeda-beda, cara menjaganya adalah dengan tetap menjaga persambungan satu sama lain di setiap kegiatannya.

Tak terasa jarum jam dinding sudah menunjuk pukul 02.00. Juguran Syafaat ditutup, kemudian diakhiri dengan bersalam-salaman diiringi Sholawat. (Redaksi JS)

Meskipun Pendopo Soeparjo Roestam memiliki bentang halaman yang cukup luas sehingga cukup mempunyai jarak dari jalan raya, berforum di sana sesekali harus…