Wisdom of Maiyah (172)

Semesta Nuurun ‘Alaa Nuur

Saya kenal Maiyah sejak tahun 2016 melalui media sosial, tulisan, video, dan lain-lain. Pertemuan saya yang pertama dengan Mbah Nun ketika Sinau Bareng di Kendal tahun 2018. Entah ada magnet apa saya merasakan kerinduan untuk hadir kembali di maiyahan. Padahal sebelumnya saya tidak pernah bertemu langsung dengan Mbah Nun.

Atmosfer Maiyah memang berbeda. Belum pernah saya menemukan kedamaian seperti di Maiyahan bahkan ketika mengaji di mana pun.. Waktu sesi salaman berlangsung saya merasakan keindahan yang menembus ulu hati terdalam. Rasa semacam itu baru saya temukan di majelis ilmu Maiyah.

Singkat cerita, ada saat ketika perjalanan hidup saya terpuruk. Gelap segelap-gelapnya. Saya ingin sekali memberi hadiah untuk ibu: anaknya diwisuda. Saya ngebut mengerjakan skripsi. Apa daya, dua bulan menjelang saya diwisuda ibu wafat.

Sebagai penyembuh kegelapan dan rasa terpuruk saya menemukan satu ayat Al-Qur’an, yakni surat An-Nur 35, yang sering dilantunkan Mbah Nun. Semenjak itu saya benar-benar berjuang dan merasakan proses dari wejangan Beliau: “Bukankah yang terindah dalam hidup adalah ketika kita rela disakiti oleh kegelapan dan kesakitan. Kemudian kita memohon kepada Allah untuk mengubahnya menjadi cahaya.”

Pembaharuan hidup saya dapatkan ketika hadir di Mocopat Syafaat pada 17 Mei 2022. Kebetulan saat itu hari ulang tahun saya. Di Mocopat Syafaat saya mengunduh bekal ilmu untuk saya bawa ke ruang rasa cinta sehingga saya merasakan kemesraan dan kerinduan terhadap rasa yang sejati. Dengan rasa ini pula setiap hari saya belajar dan berjuang mengalami apa saja. Saya benar-benar jadi bergantung kepada Allah dan mengandalkan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad.

Saya percaya, entah kapan pun itu, cita-cita Beliau tentang kemanusiaan, keadilan, kesejahteraan, dan sebagainya akan lunas ditunaikan. Sebab tidak akan datang hari kiamat sebelum tegaknya keadilan di seluruh dunia. Saya meyakini Mbah Nun dan Bapak-bapak KiaiKanjeng adalah satu dari sekian banyak manusia shalih yang menjadi bagian dari tegaknya perjuangan itu.

Terima kasih Mbah Nun yang membawa saya tenggelam di semesta nuurun ‘alaa nuur.