Kebon (89)

Universitas Khilafah

Foto: Adin (Dok. Progress)

Meneruskan kisah kerasukan Iblis di Gontor, sesampainya di Yogya sampai hari demi hari berlalu tidak ada apapun yang menimpa saya dan KiaiKanjeng. Tetapi peristiwa gebrag meja dan menuding Bambang Tri dengan tangan kiri itu menggores kenangan banyak ustadz dan pengurus Gontor sampai waktu yang lama.

Tatkala saya datang ke Gontor dengan tim Maiyah untuk penyelenggaraan workshop dengan santri-santri Gontor tahun 2019, dalam keadaan saya sudah tidak pernah mengingat-ingat peristiwa dengan “Anak Ratu”itu, beberapa ustadz dalam obrolan menceritakan peristiwa itu kembali dan bagi mereka itu sangat bermanfaat untuk meneguhkan idealisme hidup, keberanian “nahi munkar” serta pematangan kepribadian santri di tengah zaman yang kehilangan kepribadian sekarang ini.

Tentu saja saya senang mendengar bahwa hidup saya pernah bermanfaat bagi almamater saya. Sebagian dari para asatidz agak fenomenal dan berbeda pandangan dan sikapnya. Mereka berpandangan bahwa memang seharusnya begitu yang terjadi pada momentum kerasukan Iblis itu.

“Maksud Antum gimana?”

Demikianlah memang fungsi ulama terhadap umara. Ulama bukan bawahan umara. Para kiai derajatnya tidak di bawah pejabat dan pemerintah. Indonesia sangat memerlukan peran ulama yang mengkritisi umara, mengingatkan atau membimbing.

Mereka mengutip hadits Rasulullah saw: “Bukanlah bagian dari umatku, seseorang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan mengetahui hak-hak para ulama”.

Lumayan juga Gontor ini. Pemerintah itu wilayahnya “kekuasaan” atau otoritas atau hak dan kewajiban. Sedangkan ulama itu wilayahnya nilai. Pemerintah posisinya berpedoman kepada ulama, karena kekuasaan berpedoman kepada nilai. Jangan sampai nilai mengacu pada kekuasaan.

Kalau pakai terminologi Allah: Ulama itu tugasnya “Da’wah Khoir” dan “Nahi Munkar”, sementara Umara pada “Amar Ma’ruf” dan “Nahi Munkar”. Nahi Munkar adalah kewajiban semua pihak di semua lini dan perspektif.

Kalau pakai tatanan pengelolaan nilai dalam wayang, ulama itu Punakawan. Ia bukan bawahan atau pegawainya raja dan pemerintahannya. Punakawan di substsnsi lain disebut “Panakawan” adalah “sahabat yang berilmu dan setia”. Raja yang lebih perlu mendengarkan Punakawan dibanding sebaliknya. Punakawan bukan PNS atau ASN. Kalau ada ulama yang berposisi menjadi bawahan atau karyawan raja dalam kerajaan atau presiden dalam negara, maka fungsinya bukan ulama lagi.

Maka perlu rasionalitas yang prima, keadilan yang jernih, dan kecerdasan yang fathonah untuk menafsirkan firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Dalam hampir semua terjemahan Al-Qur`an disebut kalimat ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. Titik beratnya pada kata “Ulama” ataukah “takut kepada Tuhan”? Pijakan terjemahan dan tafsirnya pada subjeknya atau nilainya? Terjemahan di atas memilih “subjek”nya: bahwa di antara banyak pemeran-pemeran sosial dalam masyarakat, misalnya guru, dosen, pedagang, pejabat atau preman, diklaim bahwa yang takut kepada Tuhan adalah ulama. Lainnya tidak takut atau belum tentu takut kepada Tuhan.

Ada kemungkinan cara pandang lain: Siapa saja, meskipun petani, kuli pasar, pengecer, pedagang kaki lima, pendekar silat, tukang ojek, atau siapapun, yang berpotensi ulama adalah yang takut kepada Tuhan.

Atau kita pakai metode sintetik saja: kalau ada orang disebut ulama, kita amati gejala-gejala perilaku hidupnya, mencerminkan rasa dan sikap takut kepada Tuhan atau tidak. Kalau ya, kita setujui dia ulama. Kalau tidak, kita waspada jangan terjebak oleh identitas formalnya sebagai ulama.

Kalau agak akademis yang mudah: di antara banyak tokoh, siapa yang penguasannya atas Al-Qur`an, Hadits, dan wacana-wacana Islam lainnya melebihi kebanyakan orang — itulah potensi ulama. Verifikasi terakhir untuk kita sebut ulama atau bukan, tidak pada ilmunya atau kafasihannya dalam memberi pengajian dan ceramah, melainkan pada rasa takutnya kepada Tuhan. Dan itu kita raba pada kepribadiannya, track-record sosial budayanya, integritas pergaulannya.

Yang jelas, kita jangan bodoh untuk mengutamakan keunggulan ilmu pada siapa saja, dibanding sikap tawadldlu’ dan rasa takutnya kepada Tuhan.

Andaikan Maiyah dikucuri Allah kemampuan dan biaya, kita bikin Universitas Khilafah. Media pembelajaran dan pelatihan dinamis yang mendadar kemampuan manajemen manusia dalam mengelola hidupnya. Kehidupan internal individunya, keluarganya, masyarakatnya, negara dan dunia. Dengan mempersiapkan kelengkapan dan komprehensi ilmu dan pengetahuan, aplikasi “kaffah”nya, tradisi “tadabbur” dan istiqamah “riyadloh”nya. Para pembelajar dituntun, dibimbing, dilatih, dan diuji untuk menjadi ulama-ulama yang mengerti kelengkapan urusan umara, serta umara-umara yang memiliki landasan watak dan manajemen keulamaan.

Sejak hari pertama semua pembelajar diajak mengalami bahwa hidup ini tidak sekularistik.  Bahwa agama tidak terpisah dari negara. Bahwa shalat bukan urusan lain di luar birokrasi dan “negara mawa tata”. Bahwa pengelolaan perekonomian tidak bisa memunggungi prinsip hakiki puasa. Tuhan bukannya di “sana” dan kita di “sini”.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ
وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al-hikmah, kefahaman yang bijaksana terhadap Al-Quran dan As-Sunnah, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Jelas poin utama ayat ini adalah intelektualitas, yang selama ini merupakan acuan utama semua sekolah dan universitas modern. Tetapi dengan praktik negara, masyarakat, dan peradaban modern sejauh ini, tampak bahwa kita semua itu belum benar-benar berakal.

Sampai-sampai kata “khilafah” dilarang dan dibenci. Maka “Universitas Khilafah” monggo diganti lebih halus menjadi misalnya “Universitas Ulul Albab”. Supaya tidak menyakiti hati orang-orang bodoh.

Lainnya